Mataram (globalfmlombok.com) – Provinsi NTB melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) bersama KBRI Yangon berhasil mendeteksi keberadaan seorang warga NTB, Muhamad Yanuar Fikri, yang sebelumnya dilaporkan menjadi korban perdagangan orang ke Myanmar.
Warga asal Kota Mataram itu kini diketahui berada di kawasan Myawaddy, Kayin State, Myanmar, wilayah yang berbatasan langsung dengan Thailand. Kepala Disnakertrans NTB, Aidi Furqon, Jumat, 25 September 2026 mengatakan pihaknya masih berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk memastikan kondisi Yanuar sekaligus menyiapkan langkah penjemputan dan pemulangan ke Indonesia.
“Lokasinya sudah berhasil diidentifikasi. Sekarang kita terus berkoordinasi dengan KBRI Yangon untuk memastikan kondisi yang bersangkutan dan bagaimana mekanisme penjemputannya,” katanya.
Berdasarkan laporan perkembangan penanganan, KBRI Yangon telah berhasil berkomunikasi dengan Yanuar melalui WhatsApp pada 24 September 2026. Dari komunikasi tersebut diketahui Yanuar tiba di Myanmar melalui Bandara Yangon sekitar 15 September 2026.
Sehari kemudian, lokasi keberadaannya berhasil ditelusuri hingga kawasan Asia Road, Myawaddy–Thin Gan Nyi Naung Road, Myawaddy.
Kawasan tersebut berada di wilayah perbatasan Myanmar-Thailand. Myawaddy dikenal sebagai salah satu wilayah yang menjadi perhatian dalam kasus perdagangan manusia dan online scam.
“Keberadaan di Myawaddy belum otomatis berarti yang bersangkutan korban TPPO. Itu masih harus diverifikasi. Kita menunggu hasil pendalaman KBRI,” ujar Aidi.
Aidi menjelaskan, upaya pemulangan tidak dapat dilakukan seperti penjemputan biasa. Myawaddy merupakan wilayah perbatasan dengan situasi keamanan yang kompleks.
Berdasarkan laporan Disnakertrans NTB, perjalanan dari lokasi Yanuar menuju Yangon membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam melalui jalur darat. Waktu tempuh tersebut dapat berubah bergantung kondisi jalan, pemeriksaan di checkpoint, keamanan dan jalur yang dapat dilalui.
Kondisi keamanan Myanmar sendiri masih dinamis. Kementerian Luar Negeri RI sebelumnya juga mencatat penanganan WNI yang terjebak di Myawaddy sebagai salah satu kasus kompleks. Faktor konflik bersenjata dan penguasaan sejumlah wilayah oleh kelompok bersenjata menjadi kendala dalam proses penyelamatan dan pemulangan WNI.
Karena itu, Pemprov NTB menyerahkan koordinasi teknis penjemputan kepada KBRI Yangon dan pemerintah pusat.
Saat ini, beberapa hal masih didalami KBRI Yangon, mulai dari kondisi keselamatan dan kesehatan Yanuar, kebebasan bergerak, pihak yang bersamanya, dokumen perjalanan, hingga status pekerjaan dan proses keberangkatannya ke Myanmar.
Termasuk kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, penyekapan, TPPO atau tindak pidana lainnya.
“Yang paling penting sekarang memastikan dia aman. Setelah itu baru kita lihat bagaimana mekanisme pemindahannya dari Myawaddy ke Yangon dan selanjutnya dipulangkan ke Indonesia,” jelas Aidi.
Pemprov NTB juga terus berkomunikasi dengan keluarga Yanuar. Pemerintah daerah menyatakan siap mendukung proses perlindungan dan pemulangan yang dilakukan Kementerian Luar Negeri, KBRI Yangon dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Sementara itu, KBRI Yangon merupakan perwakilan resmi Indonesia yang menangani perlindungan WNI di Myanmar. Kanal Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri juga mencantumkan hotline pelindungan WNI +62-812-9007-0027. (peduliwni.kemlu.go.id). “Koordinasi terus kami lakukan. Fokus kita sekarang memastikan keselamatan yang bersangkutan dan mendapatkan arahan KBRI terkait langkah penjemputan yang aman,” tandasnya. (bul)


