BerandaBerandaNTP NTB Naik 1,44 Persen, Subsektor Perkebunan Rakyat Jadi Penopang Utama

NTP NTB Naik 1,44 Persen, Subsektor Perkebunan Rakyat Jadi Penopang Utama

Mataram (globalfmlombok.com)-

Nilai Tukar Petani (NTP) di Nusa Tenggara Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 129,67 atau naik 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 127,83. Kenaikan kesejahteraan petani tersebut utamanya didorong oleh lonjakan indeks harga pada subsektor perkebunan rakyat serta tanaman pangan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Wahyudin menyampaikan, berdasarkan pemantauan harga di kawasan perdesaan pada delapan kabupaten di NTB, peningkatan NTP terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami kenaikan sebesar 1,51 persen (dari 162,91 menjadi 165,36). Laju kenaikan tersebut jauh lebih tinggi ketimbang Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya naik 0,07 persen.

“Kenaikan NTP bulan Agustus 2026 dipengaruhi oleh naik populasi harga pada empat subsektor,” ujar Wahyudin saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi NTB di Mataram, Selasa (1/9/2026).

Empat subsektor yang mengalami kenaikan NTP tersebut meliputi:

  • Subsektor anaman Perkebunan Rakyat: naik pesat 10,26 persen
  • Subsektor Peternakan: naik 2,42 persen
  • Subsektor Tanaman Pangan: naik 1,82 persen
  • Subsektor Perikanan: naik 1,67 persen

Di sisi lain, Subsektor Hortikultura menjadi satu-satunya yang mengalami kontraksi atau penurunan NTP sebesar 3,88 persen pada periode yang sama.

Daya Beli Terjaga

Meskipun terdapat fluktuasi pada hortikultura, indikator kemampuan daya beli petani di NTB secara umum menunjukkan kondisi yang cukup baik. Seluruh subsektor pertanian berada di atas ambang batas indeks 100.

BPS mencatat daya beli tertinggi berada di Subsektor Hortikultura sebesar 189,58, disusul Subsektor Tanaman Pangan (125,93), Subsektor Peternakan (118,96), Subsektor Perikanan (113,16), dan Subsektor Perkebunan Rakyat (111,09).

Peningkatan It yang memicu naiknya NTP Agustus 2026 sebagian besar ditopang oleh melonjaknya harga komoditas hasil produksi di tingkat petani, terutama pada hasil tanaman perkebunan rakyat yang It-nya melesat hingga 10,42 persen serta peternakan sebesar 2,63 persen. Sementara penurunan It pada hortikultura tercatat mencapai 4,06 persen.(ris)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI