Mataram (globalfmlombok.com)-
Tingkat inflasi tahunan (year-on-year) di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada Agustus 2026 berada di angka 4,03 persen. Kenaikan harga emas perhiasan, daging ayam ras, bensin, hingga cabai rawit menjadi penopang utama lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK) di daerah ini.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Selasa (1/9/2026) pukul 13.30 WITA, terjadi kenaikan IHK dari 108,48 pada Agustus 2025 menjadi 112,85 pada Agustus 2026.
Kepala BPS Provinsi NTB Wahyudin menyampaikan bahwa perkembangan harga berbagai komoditas pada Agustus 2026 secara umum menunjukkan tren naik.
“Pada Agustus 2026 terjadi inflasi year-on-year sebesar 4,03 persen. Adapun tingkat inflasi bulanan (month-to-month) tercatat sebesar 0,57 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,35 persen,” ujar Wahyudin di Mataram.
Seluruh Kelompok Pengeluaran Naik
Wahyudin menjelaskan, inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga pada seluruh atau 11 kelompok pengeluaran masyarakat.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan kenaikan tertinggi, yakni melonjak hingga 12,57 persen. Sementara kelompok makanan, minuman, dan tembakau—yang menguras porsi anggaran rumah tangga cukup besar—mengalami inflasi sebesar 4,82 persen.
Sembilan kelompok pengeluaran lainnya juga mencatatkan inflasi, yaitu:
- Transportasi (3,48 persen)
- Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (3,25 persen)
- Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (2,88 persen)
- Penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,64 persen)
- Rekreasi, olahraga, dan budaya (2,43 persen)
- Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga (2,02 persen)
- Kesehatan (1,67 persen)
- Pendidikan (1,39 persen)
- Pakaian dan alas kaki (0,33 persen)
Komoditas Penyebab Inflasi dan Deflasi
Sejumlah komoditas utama memberikan sumbangan (andil) terbesar terhadap inflasi year-on-year pada Agustus 2026. Komoditas tersebut meliputi emas perhiasan, daging ayam ras, bensin, cabai rawit, ikan layang/benggol, minyak goreng, bahan bakar rumah tangga dan puluhan komoditas lainnya.
Selain itu, tarif air minum PAM, daging sapi, telepon seluler, sigaret kretek mesin (SKM), angkutan udara, pelumas/oli mesin, cumi-cumi, air kemasan, sigaret kretek tangan (SKT), ikan tongkol, buah apel, biaya akademi/perguruan tinggi, hingga sepeda motor juga turut mendongkrak laju inflasi tahunan.
Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mampu menahan laju inflasi tahunan melalui andil deflasi, di antaranya bawang merah, kelapa, biaya sekolah menengah atas (SMA), kemiri, tarif angkutan antarkota, dan mukena.
Dinamika Bulanan
Secara bulanan (m-to-m), tekanan inflasi pada Agustus 2026 sebesar 0,57 persen terutama didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan dan kebutuhan harian. Daging ayam ras, cabai rawit, ikan layang, ikan tongkol, telepon seluler, daging sapi, biaya perguruan tinggi, bahan bakar rumah tangga, beras, emas perhiasan, hingga komoditas lokal seperti daun kelor menjadi penyumbang utama inflasi bulanan.
Di sisi lain, penurunan harga pada beberapa barang konsumsi menahan laju inflasi bulanan lebih tinggi. Komoditas yang memberikan andil deflasi m-to-m antara lain tomat, bawang merah, bawang putih, bensin, minyak goreng, cumi-cumi, cabai merah, udang basah, kol putih, serta biaya pendidikan SMA.(ris/r)


