BerandaBerandaRenungan Jum'at Berkah | Amal Kecil, Jalan Menuju Kenikmatan Akhirat

Renungan Jum’at Berkah | Amal Kecil, Jalan Menuju Kenikmatan Akhirat

Seandainya hari ini Allah bertanya kepada kita, “Amal apa yang paling engkau harapkan menjadi sebab masuk surga?” mungkin kita akan menyebut shalat, puasa, sedekah, atau ibadah besar lainnya.

Padahal, tidak seorang pun mengetahui amal mana yang akan Allah jadikan sebagai sebab datangnya rahmat dan kenikmatan akhirat. Bisa jadi bukan amal yang paling besar menurut pandangan manusia, tetapi justru amal yang tampak kecil, dilakukan dalam sunyi, dengan hati yang ikhlas, semata-mata mengharap Ridha Allah.

Inilah salah satu rahasia yang Allah sembunyikan dari hamba-Nya. Jika manusia mengetahui satu amal tertentu pasti mengantarkannya ke surga, niscaya ia hanya akan berpegang pada amal itu.

Namun Allah menghendaki agar setiap hamba berlomba dalam seluruh bentuk kebaikan, tanpa pernah meremehkan sekecil apa pun amal saleh.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan bahwa tidak ada satu pun amal, sekecil apa pun, yang luput dari pengetahuan dan perhitungan Allah. Semua akan diperlihatkan pada Hari Kiamat.

Karena itu, seorang mukmin tidak boleh meremehkan satu senyuman, satu do’a, satu ma’af, atau satu pertolongan yang mungkin menurut manusia tidak berarti apa-apa.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah di antara kalian yang mampu menjadi seperti Abu Dhamdham?” Para sahabat pun penasaran, sebab nama itu tidak dikenal sebagai panglima perang, bukan pula saudagar kaya yang gemar bersedekah.

Baginda Rasul SAW kemudian menjelaskan bahwa Abu Dhamdham adalah seorang yang setiap pagi berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menyedekahkan kehormatanku kepada manusia. Maka siapa saja yang menzalimiku, mencelaku, menggunjingku, atau menyakitiku, semuanya telah aku maafkan karena mengharap wajah-Mu.”

Betapa sederhana amalnya. Tidak ada yang melihat. Tidak ada tepuk tangan manusia. Bahkan mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui doanya selain Allah. Namun Rasulullah SAW menjadikannya teladan.

Sebab mema’afkan ketika hati terluka bukanlah perkara ringan. Ia adalah jihad melawan ego, kesombongan, dan keinginan membalas. Makna ini semakin nyata dalam kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Ketika putrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah dalam peristiwa Haditsul Ifki, salah seorang yang ikut menyebarkan fitnah adalah Mistah bin Utsatsah, kerabat yang selama ini justru hidup dari bantuan Abu Bakar.

Wajar jika beliau sangat kecewa hingga bersumpah tidak akan lagi membantunya. Namun Allah menurunkan firman-Nya:

“…Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22).

Mendengar ayat itu, Abu Bakar menangis dan berkata, “Demi Allah, sungguh aku ingin Allah mengampuniku.” Beliau bukan hanya memaafkan Mistah, tetapi kembali memberikan nafkah kepadanya seperti sebelumnya.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran agung: siapa yang menginginkan ampunan Allah, hendaklah ia belajar memaafkan manusia. Sedangkan Ibnul Qayyim menerangkan bahwa amal-amal hati seperti ikhlas, memaafkan, sabar, dan berbaik sangka sering kali lebih berat timbangannya daripada amal anggota badan, karena hanya Allah yang mengetahui kemurnian niat seorang hamba.

Di sinilah kita perlu merenung. Barangkali kita belum mampu mewakafkan tanah untuk masjid. Kita belum sanggup membangun pesantren atau menyantuni ratusan anak yatim.

Namun setiap hari Allah membuka pintu-pintu amal yang tampak sederhana: menahan lisan agar tidak melukai orang lain, memaafkan sebelum tidur, membantu seseorang tanpa mengharap balasan, mendoakan orang yang pernah menyakiti kita, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menghibur hati seseorang yang sedang dirundung kesedihan.

Amal-amal itu mungkin tidak pernah menjadi berita. Tidak ada kamera yang merekamnya. Tidak ada media sosial yang mengabadikannya. Tetapi seluruhnya tercatat rapi di sisi Allah.

Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak pernah mengetahui amal mana yang menjadi sebab Allah meridhainya.

Karena itu, jangan pernah meremehkan amal kecil dan jangan pernah menunda kesempatan berbuat baik. Sebab bisa jadi satu do’a yang dipanjatkan dengan tulus, satu ma’af yang diberikan dengan ikhlas, atau satu kebaikan yang tidak diketahui siapa pun menjadi amal yang paling berat timbangannya ketika seluruh amal ditimbang di hadapan Allah.

Pada akhirnya, surga bukanlah balasan atas banyaknya amal semata, tetapi buah dari rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba yang beriman dan ikhlas. Maka jangan pernah berhenti berbuat baik, meski menurut dunia kebaikan itu tampak kecil.

Sebab boleh jadi, amal kecil itulah jalan menuju kenikmatan akhirat. Ya Allah, jangan biarkan kami meremehkan satu pun kesempatan untuk berbuat baik. Karuniakan kepada kami hati yang ikhlas, lisan yang lembut, jiwa yang pemaaf, dan Rahmat-Mu yang mengantarkan kami menuju kenikmatan surga-Mu.

Aamiin, Yaa Rabbal ‘Aalamin

DR. 4KA

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI