Mataram (globalfmlombok.com)–
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Peringatan ini menyusul semakin kecilnya peluang hujan di sebagian besar wilayah NTB yang kini telah memasuki musim kemarau dan diperkuat oleh fenomena El Nino.
Forecaster on duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana mengatakan, berdasarkan Informasi Iklim Dasarian II Juli 2026, curah hujan di NTB secara umum berada pada kategori rendah, yakni hanya berkisar 0–10 milimeter per dasarian. Sifat hujan juga didominasi kategori Bawah Normal (BN), meski di beberapa wilayah masih tercatat hujan dengan kategori Normal hingga Atas Normal.
BMKG mencatat curah hujan tertinggi selama Dasarian II Juli terjadi di Pos Hujan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, dengan akumulasi mencapai 50 milimeter per dasarian. Sementara itu, pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan, dengan durasi bervariasi mulai 1–5 hari hingga lebih dari 60 hari.
“Kondisi paling ekstrem terjadi di Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo, Kabupaten Bima, yang telah mengalami 63 hari tanpa hujan secara berturut-turut. Kondisi tersebut telah masuk kategori Kekeringan Ekstrem,” ujar Nindya Kirana, Senin 20 Juli 2026.
El Nino Diprediksi Menguat Hingga Akhir Tahun
BMKG menjelaskan, dinamika atmosfer saat ini menunjukkan fenomena El Nino masih berlangsung dengan indeks +1,47 pada wilayah Nino 3.4 dan diperkirakan akan mencapai kategori kuat pada tahun 2026.
Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada kondisi netral dengan indeks -0,217, namun diprediksi berubah menjadi positif mulai September hingga Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi semakin mengurangi peluang hujan di wilayah Indonesia, termasuk NTB.
Di sisi lain, aliran massa udara di sebagian besar Indonesia didominasi angin timuran yang identik dengan musim kemarau. Suhu muka laut di perairan Indonesia juga diperkirakan tetap normal hingga lebih dingin selama Agustus–November 2026 sebelum kembali menghangat pada Desember.
Peluang Hujan di NTB Semakin Kecil
Untuk Dasarian III Juli 2026 (21–31 Juli), BMKG memprakirakan peluang hujan di Pulau Lombok sangat rendah, yakni hanya di bawah 10 hingga 20 persen.
Sementara itu, wilayah Pulau Sumbawa bagian selatan masih memiliki peluang hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian dengan kisaran 10–60 persen.
BMKG juga menyatakan tidak ada peringatan dini curah hujan tinggi di NTB selama periode tersebut.
Wilayah NTB yang Berstatus Waspada Kekeringan
BMKG menetapkan sejumlah kecamatan di NTB berada pada Level Waspada Kekeringan Meteorologis, yakni:
- Kabupaten Lombok Tengah: Kecamatan Praya Barat.
- Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia.
- Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Moyo Utara dan Utan.
- Kabupaten Bima: Kecamatan Tambora dan Palibelo.
Status tersebut ditetapkan karena Hari Tanpa Hujan (HTH) terus bertambah dan berpotensi memicu kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih serta sektor pertanian.
BMKG Imbau Masyarakat Hemat Air dan Waspadai Karhutla
BMKG mengimbau masyarakat agar mulai menggunakan air secara bijaksana untuk mengantisipasi potensi krisis air bersih selama musim kemarau.
Selain itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran permukiman dengan tidak membakar sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
“Kami juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi, menjaga kesehatan, serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh selama aktivitas di tengah cuaca panas akibat musim kemarau dan pengaruh El Nino,”ungkapnya.(ris/r)


