Mataram (globalfmlombok.com) – Pemerintah Provinsi NTB galakkan penanaman 40 ribu bibit cabai bagi seluruh siswa baru SMA, SMK, dan SLB se Provinsi NTB. Hal ini guna menekan inflasi daerah sebab selama beberapa tahun ke belakang cabai menjadi penyumbang terbesar inflasi.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan gerakan menanam cabai ini tidak hanya menjadi media pembelajaran, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter, kepedulian terhadap lingkungan, serta membekali siswa dengan keterampilan dasar di bidang pertanian.
“Pendidikan ini tidak hanya mengajarkan siswa menanam, tetapi juga memahami seluruh proses mulai dari penyemaian, penanaman, perawatan, panen hingga pemasaran hasil. Ini merupakan bagian dari penguatan soft skill peserta didik,” ujarnya saat Launching TAPSI (Tanam Cabai dan Pengendalian Inflasi), di SMKN 5 Mataram, Rabu (15/7).
Selain sebagai sarana edukasi, program tersebut juga menjadi strategi pemerintah dalam membangun cadangan komoditas cabai untuk mengantisipasi gejolak inflasi. Pemerintah menargetkan sedikitnya 41 ribu pohon cabai ditanam di seluruh sekolah. Dengan asumsi setiap pohon menghasilkan sekitar setengah kilogram cabai, maka potensi produksi dapat mencapai sekitar 20 ton.
Cadangan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi pasar ketika cabai mengalami lonjakan harga. Sebagai perbandingan, pada tahun lalu Pemprov hanya bisa melakukan intervensi sekitar enam ton cabai yang didatangkan dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan melalui dukungan Badan Pangan Nasional.
“Kalau kita memiliki cadangan sendiri, maka saat harga cabai melonjak kita bisa langsung melakukan intervensi pasar tanpa harus bergantung pada pasokan dari luar daerah,” jelasnya.
Gerakan menanam ini, lanjutnya akan dijadikan tradisi bagi seluruh peserta didik baru. Pemerintah Provinsi bahkan akan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Gubernur yang mengatur kewajiban setiap siswa baru untuk menanam tanaman sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.
Menyinggung soal perawatan sampai dengan pohon berbuah, Iqbal mengatakan akan dilakukan oleh masing-masing sekolah dengan syarat hanya menggunakan pupuk organik.
Selain sektor pertanian, Pemprov juga memperkuat pendidikan vokasi melalui peningkatan sertifikasi kompetensi bagi siswa SMK. Selama ini Pemprov telah memfasilitasi Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Level 1 yang berlaku untuk kebutuhan kerja di dalam negeri. Ke depan, pemerintah akan menyiapkan LSP Level 2 yang menghasilkan sertifikat kompetensi profesional yang diakui untuk kebutuhan kerja di tingkat nasional maupun internasional.
Mantan Dubes RI untuk Turki itu juga mengaku telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak di luar negeri untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja. Hasil identifikasi tersebut akan menjadi dasar dalam menyusun kompetensi yang diajarkan di sejumlah SMK, sehingga kurikulum dan keahlian lulusan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Melalui langkah itu, Iqbal berharap tercipta keterkaitan dan kesesuaian (link and match) antara pendidikan vokasi dan kebutuhan pasar kerja, sehingga lulusan SMK tidak lagi menjadi penyumbang angka pengangguran, melainkan mampu langsung terserap di dunia kerja baik di dalam maupun luar negeri.
“Jadi beberapa SMK kita nanti ini sudah mulai kita arahkan sesuai dengan kebutuhan beberapa SMK ini. Sehingga ada link and match di situ supaya SMK tidak jadi penyumbang pengaguran seperti yang sekarang ini,” pungkasnya. (era)


