globalfmlombok.com
“Yang membuatmu tersesat bukan selalu karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena terlalu sering mendengar bisikan yang menyenangkan egomu dan terlalu jarang mendengar kalam Allah yang menyucikan jiwamu.”
Di antara ujian paling halus dalam kehidupan bukanlah kemiskinan, bukan pula kekurangan ilmu, melainkan ketika seseorang mulai merasa bahwa dirinya adalah pusat dari segala sesuatu.
Ia mengira roda akan berhenti berputar tanpa dirinya. Ia merasa sistem tidak akan berjalan tanpa campur tangannya.
Ia yakin bahwa hanya pendapatnya yang layak didengar dan hanya caranya yang patut diikuti. Perasaan semacam ini tampak sepele, tetapi jika dibiarkan tumbuh, ia dapat berubah menjadi benih kesombongan yang merusak hati dan meruntuhkan kebersamaan.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini mengandung pelajaran yang amat dalam. Islam tidak hanya memerintahkan manusia untuk berbuat baik, tetapi juga menjaga agar setiap ikhtiar perbaikan tidak dirusak oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, atau ambisi yang tersembunyi.
Dalam kehidupan, ketika sebuah keluarga, lembaga, masyarakat, atau organisasi berusaha menata amanah dengan lebih baik, agar setiap orang menjalankan tugas sesuai perannya dan setiap tanggung jawab dipikul oleh yang berhak, maka orang yang berjiwa ikhlas akan menyambutnya dengan syukur.
Ia memahami bahwa keteraturan adalah bagian dari kemaslahatan. Namun jiwa yang dikuasai ego sering memandangnya berbeda. Ia merasa kehilangan panggung. Ia khawatir tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Ia takut jika orang lain mulai dipercaya dan diberi kesempatan untuk berkembang. Lalu, tanpa disadari, ia mulai mencari pembenaran.
Ia mengumpulkan orang-orang yang memiliki kegelisahan serupa. Bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk saling menguatkan rasa tidak nyaman terhadap perubahan yang baik.
Di sinilah lahir apa yang oleh para ulama disebut sebagai tipu daya hawa nafsu: seseorang mengira dirinya sedang membela kepentingan bersama, padahal sesungguhnya ia sedang membela kedudukan dan pengaruhnya sendiri.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini tidak hanya berbicara tentang amal besar.
Ia juga mengajarkan agar kita tidak saling menguatkan dalam sikap yang menghambat kebaikan. Betapa sering kita menyaksikan orang-orang yang lebih senang mendengar bisikan teman yang membenarkan kesalahannya daripada nasihat yang mengajaknya memperbaiki diri.
Mereka saling menghibur dalam kekeliruan, saling memuji dalam kekurangan, dan perlahan membangun keyakinan bahwa yang salah adalah sistem yang baik, bukan perilaku mereka yang perlu dibenahi.
Padahal kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengucapkannya, tetapi oleh kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah).
Hadis ini mengajarkan bahwa setiap perilaku yang menimbulkan kerusakan bagi kemaslahatan bersama harus dihindari. Sebab seorang mukmin sejati hadir untuk memperbaiki, bukan memperumit; menenangkan, bukan mengacaukan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa di antara penyakit hati yang paling tersembunyi adalah hubbul jah – cinta kepada kedudukan dan pengaruh.
Penyakit ini membuat seseorang tidak lagi bertanya, “Apa yang paling bermanfaat?” tetapi lebih sibuk bertanya, “Apakah aku masih menjadi tokoh yang diperhitungkan?”
Sementara itu, Imam Ibnul Qayyim mengingatkan bahwa hawa nafsu sering menyamar dengan pakaian yang indah, sehingga seseorang menyangka dirinya sedang membela kebenaran, padahal yang dibelanya hanyalah dirinya sendiri.
Sebaliknya, orang-orang yang diberi keluasan ilmu justru semakin rendah hati.
Imam Asy-Syafi’i berkata: “Setiap kali waktu mendidikku, aku semakin menyadari kekurangan akalku. Dan setiap kali aku bertambah ilmu, aku semakin tahu betapa bodohnya diriku.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada ilmu, semakin ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang terus belajar.
Ia tidak merasa paling hebat, tidak merasa paling dibutuhkan, dan tidak takut bila orang lain turut mengambil peran dalam kebaikan. Sesungguhnya amanah tidak bergantung pada satu orang.
Allah mampu menjaga agama-Nya, menolong hamba-hamba-Nya, dan menjalankan ketetapan-Nya dengan siapa pun yang Dia kehendaki. Karena itu, ukuran kemuliaan bukanlah seberapa besar pengaruh yang berhasil kita bangun, tetapi seberapa tulus kita mendukung kebaikan meskipun tidak menjadi pusat perhatian.
Mungkin yang perlu kita waspadai bukan hanya bisikan setan yang mengajak kepada maksiat, tetapi juga bisikan halus yang membuat kita merasa paling penting, paling berjasa, dan paling layak didengar.
Marilah kita lebih sering bercermin kepada Al-Qur’an daripada kepada pujian manusia. Lebih sering menghisab diri daripada mengukur kekurangan orang lain. Lebih rela menjadi bagian dari sebuah perbaikan daripada menjadi penyebab terhambatnya kebaikan hanya karena ego belum siap menerima perubahan.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang di hadapan Allah bukanlah seberapa besar pengaruh yang pernah kita miliki, melainkan seberapa ikhlas kita menjaga amanah dan seberapa rendah hati kita ketika kebenaran hadir, meski bukan berasal dari diri kita.
Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari kesombongan yang tersembunyi, menjauhkan kita dari kecintaan yang berlebihan terhadap pujian dan pengaruh, serta menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa mendukung setiap ikhtiar kebaikan demi mencari ridha-Nya semata.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
DR. 4K4


