Mataram (globalfmlombok.com) –
Kinerja perbankan di Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif pada triwulan pertama 2026. Penyaluran kredit terus tumbuh didorong meningkatnya pembiayaan investasi dan konsumsi, meski penghimpunan dana masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) masih mengalami tekanan pada awal tahun.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) NTB, Rudy Sulistyo, mengatakan pertumbuhan kredit perbankan di NTB hingga Maret 2026 mencapai 6,67 persen secara tahunan (year on year/yoy). Secara year to date (ytd), nilai kredit bertambah sekitar Rp300 miliar atau tumbuh 0,38 persen dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit investasi dan kredit konsumsi. Kredit investasi tumbuh 0,59 persen secara ytd, sementara kredit konsumsi meningkat 1,70 persen. Adapun kredit modal kerja masih mengalami penurunan sebesar 2,09 persen,” ujar Rudy dalam Media Briefing Forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) NTB Triwulan II Tahun 2026 di Mataram, Jumat (29/5/2026).
Menurut Rudy, secara tahunan mayoritas sektor ekonomi di NTB masih mencatatkan pertumbuhan kredit yang relatif stabil. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi salah satu sektor dengan laju pertumbuhan kredit tertinggi. Selain itu, kelompok penerima kredit bukan lapangan usaha juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Dari sisi wilayah, Kota Mataram menjadi daerah dengan pertumbuhan kredit tertinggi secara tahunan. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit di ibu kota Provinsi NTB itu bertambah Rp1,85 triliun atau tumbuh 3,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, jika dihitung secara year to date, Kabupaten Sumbawa mencatatkan pertumbuhan kredit tertinggi dengan tambahan penyaluran kredit mencapai Rp990 miliar atau naik 1,42 persen.
Di tengah pertumbuhan kredit yang masih terjaga, penghimpunan dana masyarakat menunjukkan dinamika berbeda. Secara tahunan, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di NTB masih tumbuh 5,32 persen. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh peningkatan tabungan yang mencapai Rp2,35 triliun atau naik 9,50 persen dibandingkan Maret 2025.
Namun, secara year to date, DPK mengalami kontraksi sebesar Rp1,45 triliun atau turun 2,79 persen. Penurunan tersebut dipicu berkurangnya dana pada instrumen giro dan tabungan.
Data OJK menunjukkan nilai giro turun Rp1,62 triliun atau terkoreksi 14,78 persen. Tabungan juga berkurang Rp450 miliar atau turun 1,62 persen. Sebaliknya, simpanan deposito masih mencatatkan pertumbuhan sebesar Rp620 miliar atau naik 4,56 persen.
Secara wilayah, penurunan DPK terbesar terjadi di Kota Mataram dan Kota Bima. Di Kota Mataram, DPK berkurang hingga Rp1,69 triliun atau turun 4,90 persen secara ytd. Sementara di Kota Bima, penurunan mencapai Rp180 miliar atau terkoreksi 5,82 persen.
Meski demikian, OJK menilai kondisi intermediasi perbankan di NTB masih berada dalam kondisi baik. Pertumbuhan kredit yang tetap positif diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi daerah, terutama di sektor-sektor produktif yang menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi NTB.(ris)


