BerandaBerandaTradisi Tiyu di Lombok Timur, dari Jejak Sejarah hingga Perayaan Idulfitri

Tradisi Tiyu di Lombok Timur, dari Jejak Sejarah hingga Perayaan Idulfitri

Selong (globalfmlombok.com)–

Tradisi Tiyu atau pawai kuda kembali digelar masyarakat Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, pada momen Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan yang berlangsung setiap 1 dan 2 Syawal ini menjadi agenda tahunan yang dinanti warga.

Tiyu merupakan tradisi pawai menggunakan kuda yang dimaknai sebagai bentuk perayaan datangnya bulan Syawal sekaligus simbol kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Meski tidak memiliki catatan sejarah tertulis, tradisi ini diyakini berakar dari peristiwa masa lampau. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Tiyu berkaitan dengan peperangan antara Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Karangasem.

Dalam kisah tersebut, Kerajaan Selaparang mendapat bantuan pasukan dari Kesultanan Sumbawa dan Gowa yang datang dengan menunggangi kuda. Setelah konflik berakhir, sebagian prajurit menetap di wilayah yang kini menjadi Desa Jantuk.

Kuda-kuda yang sebelumnya digunakan dalam peperangan kemudian dimanfaatkan untuk merayakan kemenangan. Dari situlah tradisi Tiyu diyakini mulai berkembang dan diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

Kepala Desa Jantuk, Yudi Hermawan, mengatakan sejarah pasti tradisi tersebut memang belum terdokumentasi secara resmi.

“Cerita yang kami terima dari orang tua terdahulu menyebutkan tradisi ini berkaitan dengan prajurit yang datang membantu peperangan di Lombok Timur dengan menunggangi kuda,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan Tiyu saat Idulfitri memiliki makna simbolis sebagai perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri selama Ramadan.

Berdasarkan pantauan pada Sabtu (21/3/2026) sore, ribuan warga memadati rute pawai sepanjang sekitar 500 meter usai salat Asar. Ratusan kuda berbaris lengkap dengan penunggang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa.

Puncak pawai dijadwalkan berlangsung dini hari sekitar pukul 03.00 Wita, mengikuti ketentuan yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Pada Idulfitri tahun ini, sebanyak 189 ekor kuda ikut serta dalam pawai. Kuda-kuda tersebut didatangkan dari berbagai daerah di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Keterbatasan jumlah kuda di Desa Jantuk membuat peserta harus menyewa dari luar daerah dengan biaya berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor, tergantung ukuran dan kelincahannya.

Salah seorang peserta, Andi, mengaku telah mempersiapkan diri sejak jauh hari dengan mencari kuda hingga ke luar desa.

“Mau tidak mau harus keluar mencari, karena di sini tidak ada kuda dan kami ingin mendapatkan yang bagus,” katanya.

Menurut Andi, tradisi Tiyu juga menjadi ajang gengsi antar peserta. Postur kuda yang besar dan gagah dinilai dapat meningkatkan kepercayaan diri saat tampil dalam pawai.

Antusiasme masyarakat terhadap tradisi ini juga terlihat dari warga perantauan yang memilih pulang kampung demi ikut meramaikan Tiyu.

“Selama mereka memiliki darah Jantuk, pasti pulang,” ujar Andi.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI