BerandaBerandaBMKG Deteksi 22 Titik Panas di NTB, Waspadai Risiko Kebakaran Lahan

BMKG Deteksi 22 Titik Panas di NTB, Waspadai Risiko Kebakaran Lahan

Mataram (globalfmlombok.com) –

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid mendeteksi sebanyak 22 titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berdasarkan pemantauan satelit pada 24 Juni 2026.

Temuan tersebut disampaikan melalui Sistem Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan (SPARTAN) BMKG yang juga menunjukkan tingkat kemudahan terbakar di sejumlah wilayah NTB mulai meningkat seiring kondisi cuaca yang cenderung kering.

Berdasarkan peta sebaran titik panas, hotspot terpantau tersebar di beberapa kabupaten dan kota di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. BMKG mencatat kondisi angin secara umum bertiup dari arah timur hingga selatan dengan kecepatan berkisar 5–37 kilometer per jam.

Sementara itu, suhu udara di NTB berada pada rentang 22 hingga 33 derajat Celsius, kondisi yang dinilai dapat mendukung meningkatnya potensi kekeringan vegetasi dan memicu kebakaran lahan apabila tidak diantisipasi.

Dalam peta tingkat kemudahan terbakar lapisan atas permukaan tanah atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang berlaku untuk 25 Juni 2026, sejumlah wilayah di NTB teridentifikasi berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi terhadap risiko kebakaran.

BMKG menjelaskan bahwa kategori warna pada peta menunjukkan tingkat kekeringan vegetasi penutup tanah. Warna biru menandakan kondisi basah dan sulit terbakar, hijau menunjukkan kondisi lembab dan cukup sulit terbakar, kuning menandakan kondisi kering dan mudah terbakar, sedangkan merah menunjukkan kondisi sangat kering dan sangat mudah terbakar.

Dari peta tersebut, area dengan warna merah dan kuning terlihat cukup dominan di sejumlah wilayah, terutama pada bagian Pulau Lombok dan beberapa kawasan di Pulau Sumbawa. Kondisi ini mengindikasikan perlunya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.

BMKG mengimbau masyarakat, petani, maupun pelaku usaha agar tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan serta meningkatkan pengawasan di daerah yang rawan kebakaran guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat merugikan lingkungan maupun masyarakat.

Data tersebut merupakan pembaruan BMKG per 24 Juni 2026 melalui Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Lombok Tengah.(ris)

 

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


[td_block_social_counter manual_count_facebook="16985" manual_count_twitter="2458" youtube="#" style="style3 td-social-colored" f_counters_font_family="450" f_network_font_family="450" f_network_font_weight="700" f_btn_font_family="450" f_btn_font_weight="700" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjMwIiwiZGlzcGxheSI6IiJ9fQ==" tiktok="#" manual_count_tiktok="2018" manual_count_instagram="1170" facebook="#" twitter="#" instagram="#" manual_count_youtube="3005"]
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI