Mataram (globalfmlombok.com) –
Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) terus mendorong perluasan pemasaran produk lokal serta meningkatkan kapasitas pelaku usaha di daerah untuk menembus pasar ekspor.
Kepala Dinas Perindag NTB Lalu Wiranata, mengatakan perkembangan program Bale Kita menunjukkan progres yang cukup signifikan. Dalam waktu dekat, pihaknya akan meresmikan salah satu outlet Bale Kita di Hypermart Epicentrum.
“Alhamdulillah progresnya cukup luar biasa. Sebentar lagi, mungkin minggu depan, kita mau resmikan salah satu outlet kita di Hypermart di Epicentrum,” ujar Lalu Wiranata, saat dimintai keterangannya, diarea kantor Gubernur NTB, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, titik-titik pemasaran produk lokal NTB kini mulai tersebar di sejumlah lokasi strategis. Selain outlet di pusat perbelanjaan, outlet Bale Kita juga rencananya akan dibuka di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid serta di kawasan Sirkuit Mandalika.
Saat pelaksanaan MotoGP, produk-produk lokal NTB juga akan ditampilkan. Pemerintah daerah, bahkan menyiapkan booth permanen di kawasan sirkuit sehingga produk lokal dapat dipasarkan sepanjang tahun.
“Di bandara, besok di MotoGP ini juga ada di situ. Kemudian kita mau siapkan secara permanen nanti juga di sirkuit. Jadi nanti ada di situ,” katanya.
Di sisi lain, upaya membuka akses pasar luar negeri terus dilakukan melalui program desa ekspor. Lalu Wiranata menyebut sejumlah produk NTB telah mulai dikirim ke berbagai negara, meski volumenya masih relatif kecil. Dalam waktu dekat ini, komoditas kemiri akan diekspor ke Jepang, sedangkan vanili akan dikirim ke Amerika Serikat.
“Kita sekarang terus ekspor walaupun sedikit-sedikit jumlahnya. Misalnya PCO kemarin ke Mesir 10 liter. Yang penting ke luar negeri dulu, biar ada pengalaman di ekspor,” katanya.
Ia menjelaskan, program pelatihan desa ekspor yang melibatkan puluhan desa telah menghasilkan pengiriman sejumlah komoditas ke pasar internasional. Salah satunya tembakau yang telah dikirim ke Libya sebanyak 112 ton. Menurutnya, pihaknya berupaya agar tidak ada bagian dari hasil produksi masyarakat yang terbuang. Bahkan tembakau dengan kualitas lebih rendah, seperti daun bagian bawah, tetap didorong agar memiliki nilai ekonomi melalui pasar ekspor.
“Yang tembakau itu sudah ke Libya kemarin 112 ton. Ini tembakau yang grade jelek, daun paling bawah,” katanya.
Selain tembakau, produk wastra NTB juga telah dikirim ke Selandia Baru. Sementara produk PCO atau minyak kelapa juga telah menembus pasar Mesir. Ia menilai pengiriman dalam jumlah kecil merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi pelaku usaha. Menurutnya, pengalaman melakukan ekspor secara langsung menjadi modal penting sebelum meningkatkan volume pengiriman.
“Sedikit-sedikit tapi belajar. Namanya baru kita latihkan. Yang penting belajar ekspor dulu,” ucapnya.
Meski demikian, Lalu Wiranata mengakui kontribusi ekspor produk non-tambang NTB terhadap perekonomian daerah secara keseluruhan saat ini masih belum besar. Karena itu, pemerintah daerah menargetkan peningkatan porsi ekspor non-tambang secara bertahap. Dimana porsi ekspor non-tambang NTB sebelumnya berada di kisaran 3 persen, sementara saat ini telah meningkat menjadi sekitar 7 persen. Ke depan, pihaknya berharap angka tersebut dapat terus didorong hingga mencapai 20 persen.
“Memang secara total kita belum memiliki pengaruh terhadap perekonomian secara keseluruhan. Tapi nanti pelan-pelan, insyaallah kalau sudah skala ekonominya membesar. Kita ingin ekspor non-tambang ini naik terus persentasenya,” pungkasnya.(ris)


