BerandaPemerintahanLombok TimurSerangan PMK Makin Mengkhawatirkan

Serangan PMK Makin Mengkhawatirkan

Selong (globalfmlombok.com) – Serangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak sapi di Desa Tirtanadi, Lombok Timur semakin mengkhawatirkan peternak. Dalam beberapa bulan terakhir, penyakit tersebut kembali bermunculan dan menyebabkan sejumlah sapi sakit, mati, hingga terpaksa disembelih karena kondisinya tidak memungkinkan untuk diselamatkan.

Kondisi tersebut membuat peternak mengalami kerugian besar. Salah seorang peternak di Desa Tirtanadi, Amaq Wati, mengaku terpaksa menyembelih sapinya setelah terserang PMK. Sapi yang dibelinya seharga Rp16,5 juta tersebut tidak lagi dapat diselamatkan. Beruntung, sapi itu masih dapat disembelih dan dagingnya dijual sekitar Rp3 juta. “Jelas merugi belasan juta,” ujar Amaq Wati.

Menurutnya, kondisi yang lebih memprihatinkan terjadi di Dusun Mungguk, Desa Tirtanadi. Salah seorang warga dilaporkan tidak sempat menyelamatkan sapinya hingga akhirnya mati. Sementara peternak lainnya masih dapat menjual sapi yang terserang penyakit dengan harga sekitar Rp5 juta.

Peternak lainnya, Amaq Yah, mengatakan serangan PMK kembali menjadi persoalan serius bagi peternak. Ia bahkan menyebut penyakit tersebut sebagai “Corona pada sapi” karena dampaknya yang membuat peternak khawatir.

Menurut Amaq Yah, penanganan PMK tidak cukup hanya mengandalkan vaksinasi. Peternak, kata dia, juga harus melakukan penanganan sendiri ketika gejala penyakit mulai muncul pada sapi.

Ia menyebut sejumlah gejala yang kerap terlihat, di antaranya hidung sapi berlendir, sapi mengalami ingusan dan bersin. Penanganan kemudian dilakukan dengan memberikan obat atau menyemprot bagian hidung sapi sesuai cara yang biasa dilakukan peternak. “Banyak yang terpaksa menyembelih. Beli Rp16,5 juta, tapi dijual Rp3 juta,” ujarnya.

Ia juga mengatakan sapi yang sudah terserang PMK dapat mengalami kondisi cukup parah hingga sulit bergerak dan tidak mampu makan selama beberapa hari. Peternak kemudian harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan suntikan atau pengobatan.

Amaq Yah mengaku sebagian peternak memilih melakukan pengobatan sendiri karena memiliki pengalaman kurang baik dengan vaksinasi. Ia menyebut pernah ada sapi yang setelah divaksin justru mengalami kondisi lemah hingga tidak bisa bangun, sehingga peternak kemudian meminta bantuan untuk mendapatkan suntikan atau pengobatan lain.

Kondisi tersebut membuat peternak membutuhkan penanganan yang lebih efektif dan mudah dijangkau, terutama ketika serangan penyakit kembali muncul.

Selain persoalan biaya pengobatan, kemunculan PMK juga membuat peternak menghadapi risiko kehilangan nilai ekonomi ternaknya. Sapi yang sebelumnya bernilai belasan juta rupiah bisa hanya terjual beberapa juta rupiah ketika terserang penyakit dan harus segera disembelih.

Peternak berharap penanganan PMK dapat dilakukan secara lebih intensif sehingga penyebaran penyakit tidak semakin meluas dan kerugian peternak dapat ditekan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur, drh. Hultatang mengakui masih adanya serangan virus PMK di Lotim. Ia pun menghimbau masyarakat peternak untuk melakukan vaksinasi.

Banyaknya serangan PMK karena mobilitas ternak tidak bisa dipantau. Banyak ternak dari luar daerah. Di samping itu, ada yang sudah vaksin dan ada yang belum. Harapannya guna mengurangi risiko kerugian peternak, disarankan untuk melakukan suntik vaksin agar sistem imunitas pada ternak lebih kuat menahan serangan virus. (rus)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI