BerandaBerandaSejumlah Daerah di NTB Masuk Level Awas Kekeringan, BMKG Peringatkan El Niño...

Sejumlah Daerah di NTB Masuk Level Awas Kekeringan, BMKG Peringatkan El Niño Sangat Kuat

Mataram (globalfmlombok.com)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat memperingatkan meluasnya potensi krisis air di wilayah NTB. Berdasarkan monitoring iklim terkini dasarian II September 2026, sejumlah daerah di kabupaten/kota se-NTB kini resmi ditetapkan masuk dalam kategori Level Awas Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis.

Penetapan status Awas ini dipicu oleh Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut yang terus memanjang hingga berada pada rentang sangat panjang (31–60 hari) hingga kekeringan ekstrem (>60 hari). HTH terpanjang tercatat terjadi di Pos Hujan Bolo dan Belo, Kabupaten Bima, yang sudah tidak mengalami hujan selama 125 hari berturut-turut.

Berikut adalah rincian daerah di NTB yang masuk dalam Level Awas Kekeringan:

  • Kabupaten Lombok Barat: Kecamatan Labuapi dan Lembar
  • Kabupaten Lombok Timur: Kecamatan Jerowaru, Labuhan Haji, Pringgasela, Sakra Barat, Sembalun, dan Sukamulia
  • Kabupaten Lombok Utara: Kecamatan Gangga, Kayangan, Pemenang, dan Tanjung
  • Kabupaten Sumbawa Barat: Kecamatan Jereweh, Poto Tano, dan Taliwang
  • Kabupaten Sumbawa: Kecamatan Batulanteh, Labuhan Badas, Lape, Moyo Utara, Moyohilir, Moyohulu, Rhee, Sumbawa, dan Unter Iwes
  • Kabupaten Dompu: Kecamatan Dompu, Kilo, Manggalewa, Pajo, dan Woja
  • Kabupaten Bima: Kecamatan Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Palibelo, Sape, dan Soromandi
  • Kota Bima: Kecamatan Raba

Sementara itu, wilayah lain seperti Kota Mataram (Kecamatan Mataram), serta sejumlah kecamatan di Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Kabupaten Bima berada pada Level Siaga.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas, menjelaskan bahwa potensi hadirnya hujan di sebagian besar wilayah NTB pada dasarian III September 2026 (21–30 September) masih sangat rendah dengan peluang di bawah 10 persen.

“Seluruh wilayah NTB saat ini resmi berada pada periode puncak musim kemarau. Kondisi ini makin diperparah oleh fenomena El Niño yang tercatat berada pada level Sangat Kuat,” ujar Cakra dalam keterangan resminya.

Nindya Kirana, yang juga bertindak sebagai Forecaster on Duty, menambahkan bahwa analisis anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Nino3.4 menunjukkan indeks El Niño mencapai +2.6. BMKG memprediksi kondisi El Niño level sangat kuat ini akan bertahan relatif lama hingga awal tahun 2027. Di sisi lain, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan berpeluang berada pada fase positif hingga periode yang sama, didukung angin timuran yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

“Secara spasial, kondisi dinamika atmosfer menunjukkan potensi pembentukan awan hujan sangat minim. Akibatnya, sebagian besar wilayah diprediksi tetap dalam kondisi kering,” kata Nindya.

Mengingat meluasnya cakupan wilayah bertatus Siaga hingga Awas, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi krisis air bersih. Penggunaan air secara bijak sangat disarankan guna mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan masih berlanjut.

Selain ancaman kelangkaan air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman dengan tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan. BMKG juga mengingatkan publik untuk terus memantau pembaruan informasi iklim resmi serta menjaga kecukupan cairan tubuh di tengah paparan suhu kering.(ris/r)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -

BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI