BerandaBerandaRSUD NTB Kelola Kesenjangan antara Ekspektasi Publik dan Realitas Pelayanan Kesehatan

RSUD NTB Kelola Kesenjangan antara Ekspektasi Publik dan Realitas Pelayanan Kesehatan

Mataram (globalfmlombok.com) – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat capaian kinerja pelayanan dengan kategori “Sangat Baik”. Meski demikian, manajemen rumah sakit masih dihadapkan pada tantangan untuk menjembatani tingginya ekspektasi masyarakat, terutama pada aspek kecepatan layanan dan kenyamanan fasilitas.

Apresiasi publik terhadap integritas pelayanan seperti perilaku petugas, prosedur, serta komitmen layanan menjadi nilai tertinggi dalam performa badan layanan umum daerah (BLUD) tersebut. Namun, sejumlah aspek masih menjadi perhatian, di antaranya waktu tunggu pendaftaran, layanan dokter, pengambilan obat, hingga efisiensi birokrasi.

Pelaksana Tugas Direktur RSUD Provinsi NTB, dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS, mengungkapkan hasil survei kepuasan masyarakat mencapai 88,8 persen atau melampaui standar tertinggi sebesar 80 persen.

“Survei kepuasan masyarakat sebagai data persentase sebesar 88,8 persen sudah melampaui angka tertinggi 80 persen, namun tetap memperhatikan ekspektasi masyarakat yang tinggi pada pelayanan rumah sakit,” ujarnya di Mataram, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, kompleksitas kasus kesehatan serta upaya peningkatan layanan seharusnya tercermin dalam indeks kepuasan masyarakat maupun hasil akreditasi rumah sakit. Kendati demikian, peningkatan sarana dan prasarana serta penyehatan keuangan rumah sakit tetap menjadi langkah strategis untuk menjawab harapan masyarakat.

Manajemen RSUD NTB terus melakukan evaluasi dan peningkatan performa. Salah satunya melalui penguatan layanan poliklinik, seperti Onkologi yang kini didukung empat subspesialis dan berdampak pada peningkatan kunjungan pasien.

Selain itu, meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan rawat inap dan rawat jalan, khususnya untuk penyakit berat, mendorong rumah sakit untuk terus meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan serta kualitas fasilitas layanan.

Dalam upaya pemerataan layanan kesehatan di luar Pulau Lombok, RSUD Provinsi NTB sebagai rumah sakit pembina juga berupaya meningkatkan kesetaraan kompetensi tenaga medis dan fasilitas di rumah sakit daerah, terutama saat peningkatan level akreditasi.

“Kalau untuk layanan ambulans bagi pasien luar daerah, RSUD Provinsi sudah melakukan MoU dengan kabupaten/kota,” tambahnya.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi (kelas A), RSUD NTB saat ini memiliki 758 tempat tidur, didukung 2.666 sumber daya manusia, serta menyediakan 113 jenis layanan. Operasionalnya mengacu pada sejumlah regulasi, termasuk Pergub Nomor 37 dan Pergub Nomor 19 Tahun 2025 tentang standar pelayanan minimal.

Dari sisi keuangan, kinerja RSUD NTB pada 2024 mencatat skor 76,2 (kategori baik), namun pada 2025 turun menjadi 53,3. Hingga Maret 2026, realisasi pendapatan BLUD baru mencapai Rp123,7 miliar atau 17,6 persen dari target Rp700 miliar. Total penerimaan mencapai Rp169,8 miliar, termasuk dari berbagai sumber pendapatan layanan.

Sementara itu, realisasi belanja pada triwulan pertama 2026 mencapai Rp102 miliar atau 7,34 persen. Dari alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp21,6 miliar, sejumlah program prioritas telah disiapkan.

Adapun kinerja non-keuangan menunjukkan capaian positif, dengan skor standar pelayanan minimal periode Januari–Februari 2026 di berbagai aspek—pelayanan, keuangan, SDM, dan operasional—berada di atas 70 persen, bahkan mencapai 90 persen.

Terkait program Desa Berdaya sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan ekstrem, RSUD NTB bersama Dinas Kesehatan Provinsi NTB akan mengoptimalkan Indeks Kesehatan Desa (IKD) sebagai instrumen intervensi kesehatan.

“Indeks Kesehatan Desa ini sebagai acuan untuk mengintervensi sektor kesehatan di 40 desa pada tahun ini,” ujar dr. Fikri.

IKD mencakup berbagai indikator, seperti data usia warga, kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kondisi ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita, serta status gizi dan pola asuh yang dipengaruhi faktor kemiskinan.

Strategi intervensi dilakukan melalui penguatan jejaring Puskesmas dan Posyandu, dukungan dana desa, serta kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk program operasi mata, guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat agar lebih produktif dan mandiri. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” RSUD Provinsi NTB Mengelola Kesenjangan Ekspektasi dan Pelayanan

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -


16,985FansSuka
1,170PengikutMengikuti
2,018PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
3,005PelangganBerlangganan
BERDASARKAN TAG
BERDASARKAN KATEGORI