Selong (globalfmlombok.com) – Program pengembangan desa wisata di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) yang dicanangkan sejak 2021 kini redup. Dari 91 desa yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati pada tahun 2021, hanya sekitar 70 persen atau sekitar 64 desa yang masih aktif beroperasi. Sisanya, sebanyak 27 desa, kini terlihat mati suri.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Lotim, Mirayang ketika dikonfirmasi, Sabtu (4/7/2026) lalu mengakui tidak semua desa wisata mendapatkan perhatian dan bantuan yang sama. “Terhadap desa-desa wisata itu, memang tidak semua kita bantu dengan kegiatan,” ujarnya.
Menurutnya, fokus pengembangan dan pelaksanaan ajang atau event pariwisata saat ini lebih banyak dipusatkan di daerah-daerah yang sudah maju, seperti di titik Kembang Kuning, Pengadangan, Tetebatu, Tetebatu Selatan, Jeruk Manis, dan desa wisata lainnya.
“Awalnya ada 90 desa wisata di Kabupaten Lombok Timur itu ditetapkan dengan SK Kepala Daerah 2021 dan bertambah satu lagi sehingga menjadi 91 desa,” sebutnya.
Penetapan desa wisata ini bertujuan meningkatkan kepariwisataan di masing-masing desa. Namun, keterbatasan anggaran membuat Dinas Pariwisata tidak bisa memberikan bantuan secara utuh kepada seluruh desa, terutama kepada desa-desa yang baru mulai berkembang seperti di kawasan Sembalun.
Salah satu kendala utama yang menyebabkan banyak desa wisata mati suri adalah minimnya dukungan anggaran.
Desa Wisata di Lombok Timur Bergantung DAK
Diketahui selama ini pengembangan desa wisata di Lombok Timur hanya bergantung pada Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat, tanpa ada alokasi khusus dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Mirayang berencana untuk meminta data terkini terkait 91 desa wisata tersebut. Ia menekankan perlunya pendampingan lebih intensif agar desa-desa dapat kembali mengembangkan potensi wisatanya, terutama di tengah berkurangnya anggaran dana desa. “Kita harus sering-sering turun ke desa-desa yang sudah kita tetapkan,” ujarnya, seraya mempertanyakan pentingnya melakukan evaluasi terhadap desa-desa yang ada.
Ke depan, diperlukan komitmen yang lebih kuat dari pemda untuk menghidupkan kembali desa-desa wisata yang terancam mati suri.
Pelaku wisata Desa Tetebatu, Rahayu turut menyoal keberadaan desa wisata yang dulu sempat digaungkan oleh pemerintah. Namun, belakangan menjadi sepi dan minim atensi lebih lanjut. Menurutnya, pembenahan pariwisata itu kompleks.
Pariwisata adalah aset pendapatan yang tidak putus-putus. Peningkatan ekonomi dari sektor wisata ini sangat cepat dan lebih cepat dibandingkan sektor lain. “Kalau bertani kan butuh lahan. Sedangkan di pariwisata ini siapapun bisa menghasilkan uang sehingga perputaran ekonomi bisa lebih cepat,” pungkas Rahayu. (rus)


