Mataram (globalfmlombok.com) – Pelemahan nilai tukar rupiah memberikan tekanan besar terhadap sektor pariwisata di NTB. Dampak paling terasa terjadi pada penurunan jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke berbagai destinasi wisata di daerah ini.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Sahlan M. Saleh, mengungkapkan bahwa kunjungan wisatawan domestik saat ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Dengan periode yang sama, kita mengalami penurunan sekitar 40 sampai 60 persen untuk kunjungan wisatawan domestik,” ujarnya.
Menurutnya, penurunan jumlah kunjungan wisatawan tidak terlepas dari melonjaknya biaya perjalanan, terutama harga tiket pesawat yang semakin mahal akibat dampak pelemahan rupiah terhadap berbagai komponen industri transportasi.
Sahlan menjelaskan, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada tiket penerbangan. Biaya transportasi darat, akomodasi, hingga konsumsi juga ikut mengalami penyesuaian harga yang pada akhirnya membebani masyarakat yang ingin berwisata.
“Melemahnya rupiah ini memang dampaknya cukup berat ketika kita berhadapan dengan wisatawan domestik. Harga tiket pesawat sangat tinggi, kemudian diikuti kenaikan komponen lainnya,” katanya.
Kondisi ini membuat daya beli masyarakat untuk berwisata menurun. Banyak calon wisatawan memilih menunda perjalanan atau mengurangi frekuensi liburan karena anggaran yang dibutuhkan semakin besar.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan mancanegara ke NTB justru masih menunjukkan tren positif. Namun, peningkatan tersebut belum mampu menutupi penurunan wisatawan domestik yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama industri pariwisata daerah.
Sahlan menyebut jumlah wisatawan asing mengalami peningkatan sekitar 5 hingga 10 persen. Meski demikian, pertumbuhan tersebut belum tergolong signifikan karena sebagian besar perjalanan wisatawan internasional telah direncanakan jauh hari sebelum mereka datang ke Indonesia.
“Wisatawan asing kita mengalami peningkatan sekitar 5 sampai 10 persen. Tetapi sebenarnya tidak terlalu signifikan karena perjalanan mereka sudah dirancang jauh hari sebelumnya,” jelasnya.
Saat ini, BPPD NTB bersama pelaku industri pariwisata terus berupaya memperluas pasar wisatawan mancanegara. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pasar domestik tetap menjadi perhatian utama karena memiliki kontribusi besar terhadap pergerakan ekonomi pariwisata di NTB.
Untuk mengatasi kondisi ini, Sahlan berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu mendorong kembali minat masyarakat untuk berwisata. Salah satu solusi yang dinilai efektif adalah pemberian insentif berupa subsidi tiket pesawat.
“Tentu yang kita harapkan adalah penguatan ekonomi nasional. Selain itu, perlu ada insentif dari pemerintah untuk wisatawan, salah satunya melalui subsidi tiket pesawat agar dapat mendorong pertumbuhan kunjungan wisatawan ke daerah,” katanya. (bul)


