Inflasi di Bulan Ramadhan Terkendali

Heru Saptaji

Mataram (Global FM Lombok)- Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB bersama TPID kabupaten/kota terus berupaya mengendalikan potensi inflasi di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 1443 Hijriah. Sejumlah komoditas yang berpotensi memicu inflasi seperti minyak goreng curah telah dipenuhi kebutuhan masyarakat oleh Bulog secara massif di berbagai daerah di wilayah NTB.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB yang juga Wakil Ketua TPID NTB Heru Saptaji mengatakan, penyediaan minyak goreng curah dalam jumlah yang besar dan dengan harga yang murah akan mempengaruhi ekspektasi masyarakat. Perubahan ekspektasi konsumen itu juga akan mengubah harga di pasaran.

Ia melihat di pekan ketiga bulan April ini, inflasi daerah cenderung menurun, sehingga proyeksi inflasi di bulan April 2022 atau di Ramadhan 1443 Hijriah ini akan berada di rentang 0,49 – 0,59 persen. Artinya proyeksi inflasi di bulan puasa ini akan lebih rendah daripada inflasi di bulan Maret yang sebesar 0,97 persen.

“Alhamdulillah perkembangan tren pergerakan harga dari survei pedagang harian yang kita lakukan dari hari ke hari di Bank Indonesia, itu pergerakannya dibandingkan dengan posisi inflasi di bulan Maret 0,97 (month-to-month), proyeksi Bank Indonesia hingga akhir April 2022 ini inflasi pada kisaran 0,49 – 0,59 persen (month-to-month),” kata Heru Saptaji usai menghadiri High Level Meeting TPID NTB di Kantor Gubernur NTB, Rabu (27/4) kemarin.

Ia mengatakan, tahun 2022 merupakan tahun yang penuh tantangan dalam konteks pengendalian inflasi. Sehingga koordinasi yang lebih terintegrasi dan antisipasi yang lebih dini dari semua TPID dan stakeholders akan menciptakan stabilitas harga komoditas di pasaran.

TPID NTB memberikan sejumlah rekomendasi kepada pengambil kebijakan agar koordinasi dan singkronisasi program semakin ditingkatkan. Selanjutnya, mengefektifkan peluang kokentifitas perdagangan antar daerah atau KAD serta melakukan sidak di lapangan untuk memastikan kebijakan harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah telah efektif berlaku di pasaran.

“Selanjutnya kami melihat komunikasi kebijakan terkait pola konsumsi dari masyarakat kita menjadi perlu terus kita lakukan atensi. Variasi pola konsumi juga harus dibangun dan menjadi mindset masyarakat kita. Misalnya di wilayah yang kaya dengan kelapa agar bisa menggunakan minyak kelapa, artinya kita bangun kemandirian,” sarannya.(ris)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply