Wisata di Taman Ayu, Dari Tenun Hingga Jembatan Gantung Peninggalan Kolonial

Destinasi wisata sejarah jembatan gantung ini memiliki daya tarik tersendiri karena menjadi salah satu peninggalan kolonial Belanda. (Ekbis NTB/her)

Giri Menang (Global FM Lombok)- KABUPATEN Lombok Barat (Lobar) kaya akan destinasi wisata. Tidak saja pemandangan laut, alam, dan pegunungan. Namun daerah Patut Patuh Patju ini juga memiliki beragam potensi wisata sejarah, budaya dan kerajinan tenun seperti yang ada di Desa Taman Ayu. Desa berlokasi dekat ibu kota ini mempunyai wisata budaya, tenun dan wisata sejarah jembatan gantung yang merupakan peninggalan sejarah masa kolonial Belanda.

Jembatan yang memiliki panjang 116 meter dan lebar 4 meter ini tidak hanya menjadi penghubung antara daerah Nyiur Lembang yang masuk kawasan Kecamatan Lembar dengan Desa Kebon Ayu dan Dusun Kebon Jurang Desa Mesanggok yang masuk Kawasan Kecamatan Gerung. Namun jembatan ini memiliki daya tarik tersendiri karena menjadi salah satu bukti sejarah peninggalan zaman penjajahan. Area jembatan gantung yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai akses penghubung, akan tetapi dipakai sebagai saluran irigasi ini pun menjadi sasaran aksi “Berwisata Sambil Bersih-Bersih Kawasan Wisata” Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat (Lobar) akhir pekan kemarin.

Lokasi ini sengaja dipilih karena ingin lebih mengenalkan Desa Kebon Ayu secara umum dan khususnya Jambatan Gantung sebagai daya tarik destinasi wisata di Lobar.Hal tersebut sangat beralasan, karena Desa Kebon Ayu memiliki potensi yang luar biasa, mulai dari potensi alamnya kemudian potensi di bidang ekraf, atraksi budaya sebagainya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, Saepul Akhkam mengatakan, secara sosiologi, di masyarakat Desa Kebon Ayu sudah terbentuk ekosistem ekonomi kreatif. Desa ini sangat potensial di bidang fashion berupa tenun. Desa ini juga memilliki padepokan presean, dan seni musik gamelan. Selain itu desa Kebon Ayu sudah memiliki event tahunan berupa Roah Gumi dan Maulidan yang dikemas secara unik dan menarik.

“Di samping itu, kami berkeinginan menjadikan warisan sejarah Jambatan Gantung menjadi daya tarik sebagai sebuah destinasi wisata,” ungkap Akhkam dalam diskusi bersama masyarakat Desa Kebon Ayu usai aksi bersih-bersih. Akhkam mengakui bahwa Desa Kebon Ayu belum termasuk dalam 57 Desa Wisata oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Akhkam berjanji pihaknya akan melakukan pembaharuan atau konsolidasi ulang desa wisata.“Kita berharap desa wisata di Lombok Barat terbentuk sebanyak 119 desa sesuai potensi alamiah dan kultur yang dimiliki. Tentu ini dengan inisiatif-inisiatif sendiri dari desa,” harapnya.

Sementara itu Kepala Desa Kebon Ayu, Jumarsa menjelaskan tentang potensi warisan sejarah jambatan ini. Dari pengakuan pelaku sejarah, katanya, Jembatan Gantung sudah ada sejak tahun 1932. Jembatan yang terbuat dari besi ini juga didesain sebagai penyalur air. Itu dapat dilihat pada bagian bawah badan jembatan terdapat air mengalir menuju irigasi pertanian masyarakat.

“Selain potensi budaya dan tenun ikat, Desa Kebon Ayu juga memiliki potensi alam khususnya pertanian. Insya Allah kedepan akan kita kembangkan menjadi agrowisata tani. Mudah-mudahan di bulan Agustus ini kita akan mulai dengan konsep green house golden melon dengan metode hidroponik,” terang Jumarsa.

Melihat potensi Sungai Dodokan yang cukup luas, kata Jumarsa, pihaknya kini tengah mengembangkan wahana air dengan menyediakan beberapa unit perahu bebek dengan tarif Rp. 10.000,-/jam.“Ini menjadi daya tarik tersendiri minimal untuk wisatawan lokal. Apalagi di atasnya ada jembatan bersejarah,” katanya.(her)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply