Penanganan Stunting di Masa Pandemi, Kader Posyandu Layani “ Door to Door”

Penanganan Stunting di Masa Pandemi, Kader Posyandu Layani “ Door to Door”/Global FM Lombok-ris

Mataram (Global FM Lombok) – Stunting atau kondisi gagal pertumbuhan pada balita di Provinsi NTB berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menyentuh angka 33 persen. Sementara data aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau e-PPGBM tahun 2020 menunjukkan angka stunting di NTB sebesar 23,51 persen dari sekitar 500 ribu balita di daerah ini. Angka ini naik dari tahun 2019 yang sebesar 19,2 persen.

Menurunnya ekonomi masyarakat, pola asuh anak yang keliru dan Posyandu yang belum begitu aktif  diduga menjadi pemicu naiknya angka stunting di masa pandemi. Namun para kader Posyandu di masa pandemi ini memberikan pelayanan door to door atau mendatangi rumah ke rumah ibu hamil dan balita agar kegiatan posyandu tetap berjalan.

Sahrani, 4,5 tahun tampak tidak begitu aktif saat kami datang ke Lingkungan Karang Kemong, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram beberapa waktu lalu untuk melihat anak-anak penderita stunting di lingkungan tersebut.

Sahrani adalah salah satu anak penderita stunting di lingkungan ini. Ia memiliki berat badan hanya 11,4 Kg. Mestinya di usianya yang ke 4,5 tahun, minimal dia harus memiliki berat badan 15 Kg.

Marliana, ibu dari Sahrani bertutur, tidak ada penanganan khusus dari keluarga untuk anaknya yang stunting, selain hanya diberi makan seperti biasa.

“Penanganan stunting dikasi makan saja. Kalau asupan makanan ya seadanya gitu. Setiap bulan dikasi makanan tambahan oleh kader Posyandu,” kata Marliana.

Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor mengapa asupan gizi makanan harian sering tak memenuhi standar gizi. Dengan pemasukan keluarga antara Rp 20-25 ribu per hari membuat ia tak leluasa mengatur keuangan, termasuk untuk kebutuhan gizi anak.“Per hari paling 30 ribu, kadang masuk juga 50 ribu sebelum corona. Namun setelah corona ya penghasilannya bagi dua dari yang sebelum corona, ya sekitar 20 sampai 25 ribu,”tuturnya.  

Baca Juga:

Di lingkungan ini ada 78 balita yang menjadi sasaran di Posyandu. Dari jumlah itu lebih dari 10 orang balita masuk kategori stunting. Namun di masa pandemi, banyak Posyandu yang belum dibuka lantaran khawatir menjadi media menyebaran Covid-19.

Ketua Kader Posyandu “Cempaka” Karang Karang Kemong, Nurminah mengatakan, untuk memberikan pelayanan di masa pandemi, pihaknya melakukan kegiatan dari rumah ke rumah sesuai dengan prototol kesehatan.

 “Khusus (Puskesmas) Karang Taliwang yang melayani enam kelurahan tidak ada yang buka. Tidak diizinkan oleh pak Camat Cakra. Artinya bukan hanya Puskesmas Karang Taliwang, tapi satu kecamatan Cakra  tak ada yang buka. Kami door to door dari rumah ke rumah ukur berat badan anak dan tinggi badan anak,”  ujarnya.

Soal bantuan gizi untuk anak-anak penderita stunting, Assiten Bidang Administrasi Umum Pemerintah Provinsi NTB dr.Nurhandini Eka Dewi mengatakan, program bantuan gizi kepada penderita stunting diberikan dalam bentuk pemberian biskuit yang sudah difortivikasi dengan vitamin. Bantuan itu diberikan melalui pelayanan Posyandu.

“Ada, jadi kita punya bantuan berupa biskuit. Jadi biskuit itu bukan biskuit biasa, namun yang difortifikasi dengan mikrovitamin. Itu dibagikan kepada anak-anak, mulai dari gizi kurang dan gizi buruk,” ujar doker Eka.

Meski demikian, dia mengakui bahwa di masa pandemi, pelayanan Posyandu terganggu, sehingga dari 500 ribu balita yang ada di NTB, baru sekitar 70 persen saja balita yang tertangani berdasarkan data bulan Februari 2021.

“Ini kan masalahnya karena pandemi tidak berjalan Posyandu itu, sehingga kita mengevaluasinya tidak seprti tahun-tahun sebelumnya yang cukup intens, sehingga yang baru tertimbang itu baru sekitar 70 persenan balita,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan, pihaknya terus berupaya menekan angka stunting di masa pandemi, salah satunya dengan cara memperbanyak Posyandu Keluarga hingga tingkat dusun dan lingkungan.

 “Kita harus keroyok ramai-ramai, sarananya adalah dengan memaksimalkan Posyandu Keluarga. Kalau kita lihat analisis gizi kita, makanya kenapa posyandu keluarga ditekankan oleh Bu Wagub itu sebagai center of education. Ternyata efektif edukasi sampai tingkat dusun ya” kata dr Fikri.

Pemberian ASI sampai dua tahun dan memberikan makanan pendamping ASI yang memiliki gizi menjadi salah satu cara efektif mencegah stunting pada balita. Namun pola asuh di masyarakat, faktor ekonomi dan mitos yang berkembang di masyarakat masih menjadi tantangan.

 “Waktu memberikan makanan pendamping ASI kadang lupa kualitasnya. Hanya dikasi nasi plus garam saja, jadi tidak ada gizi. Padahal bisa menggunakan produk lokal seperti kelor. Ikan pun kita masih berhadapan dengan mitos kita. Misalnya ibu hamil tidak boleh makan buah yang menggantung, itu kan gizi ibu hamil jadi berkurang,”  tambahnya.(ris)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply