Kondisi Ekonomi di Masa Pandemi Diduga Ikut Pengaruhi Angka Stunting

Marliana, ibu rumah tangga di Lingkungan Karang Kemong yang memiliki anak stunting sedang ngobrol dengan salah seorang kader Posyandu terkait dengan kondisi stunting pada anaknya.( Global FM Lombok/ris)

Oleh : Zainudin Syafari

STUNTING atau kondisi gagal pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi di Provinsi NTB berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 menyentuh angka lebih dari 33 persen. Menurunnya ekonomi masyarakat, pola asuh anak yang keliru dan Posyandu yang belum aktif  diduga menjadi pemicu naiknya angka stunting di masa pandemi. Bagaimana potretnya?.

Kondisi ekonomi di masa pandemi diduga ikut pengaruhi angka stunting

Sahrani, 4,5 tahun tampak tidak begitu aktif saat media ini datang ke Lingkungan Karang Kemong, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram akhir pekan kemarin untuk melihat anak-anak penderita stunting di lingkungan tersebut. Ia hanya duduk sambil senderan di badan ibunya tanpa banyak berbicara.

Sahrani adalah salah satu anak penderita stunting di lingkungan ini. Ia memiliki berat badan hanya 11,4 Kg. Mestinya di usianya yang ke 4,5 tahun, minimal dia harus memiliki berat badan 15 Kg.

Marliana, ibu dari Sahrani bertutur, kader Posyandu-lah yang memberi tahu anaknya menderita stunting. Namun tidak ada penanganan khusus dari keluarga, selain hanya diberi makan seperti biasa. Memang ada makanan tambahan dari Posyandu, namun hanya sekali sebulan.

“Penanganan stunting dikasi makan saja. Kalau asupan makanan ya seadanya gitu. Setiap bulan dikasi makanan tambahan oleh kader Posyandu,” tutur Marliana.

Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu faktor mengapa asupan gizi makanan harian sering tak memenuhi standar gizi. Dengan pemasukan keluarga antara Rp 20-25 ribu per hari di masa pandemi membuat ia tak leluasa mengatur keuangan, termasuk untuk kebutuhan gizi anak.

“Per hari paling 30 ribu, kadang masuk juga 50 ribu sebelum corona. Namun setelah corona ya penghasilannya bagi dua dari yang sebelum corona, ya sekitar 20 sampai 25 ribu,” lanjutnya.   

Di masa pandemi, banyak Posyandu yang belum dibuka lantaran khawatir menjadi media menyebaran Covid-19 karena adanya kerumunan. Namun kader Posyandu di Kecamatan Cakranegara, termasuk di dalamnya Posyandu Karang Kemong memberikan pelayanan dari rumah ke rumah untuk memastikan tumbuh kembang anak tetap terpantau.

Ketua Kader Posyandu “Cempaka” Karang Karang Kemong, Nurminah mengatakan, pihaknya rutin menimbang berat balita dan memberikan makanan tambahan, namun demikian masih ada saja kasus stunting yang ditemukan.

 “Khusus (Puskesmas) Karang Taliwang yang melayani enam kelurahan tidak ada yang buka. Tidak diizinkan oleh pak Camat Cakra. Artinya bukan hanya Puskesmas Karang Taliwang, tapi satu kecamatan tak ada yang buka. Kami door to door dari rumah ke rumah ukur berat badan anak dan tinggi badan anak,” katanya.  

Siti Zahriah, salah seorang kader Posyandu “Cempaka” lainnya mengatakan, ada 78 balita yang menjadi sasaran di Posyandu ini. Dari jumlah itu lebih dari 10 orang balita masuk kategori stunting.“Kalau di tanya berapa anak yang memiliki berat dibawah garis hijau kuda ini ( stunting) ini banyak. Dari 78 sasaran balita di sini ada lebih dari 10 balita (yang stunting)”

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB H.Lalu Hamzi Fikri mengatakan, ada tiga sumber data yang menggambarkan jumlah penderita stunting di NTB. Data Riskesdas 2018 menunjukkan angka stunting di Provinsi NTB sebanyak 33,49 persen.

Adapun data dari Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) memperlihatkan jumlah penderita stunting di provinsi ini sebanyak 37 persen. Adapun data dari aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat atau e-PPGBM tahun 2020 menunjukkan angka stunting di NTB sebesar 23,51 persen. Jumlah ini naik dari tahun 2019 yang sebesar 19,2 persen.

Pemda terus berupaya menekan angka stunting di masa pandemi, salah satunya dengan cara memperbanyak Posyandu Keluarga hingga tingkat dusun dan lingkungan.

 “Kita harus keroyok ramai-ramai, sarananya adalah dengan memaksimalkan Posyandu Keluarga. Kalau kita lihat analisis gizi kita, makanya kenapa posyandu keluarga ditekankan oleh Bu Wagub itu sebagai center of education.Ternyata efektif edukasi sampai tingkat dusun ya”, kata dr. Fikri.

Pemberian ASI sampai dua tahun dan memberikan makanan pendamping ASI yang memiliki gizi menjadi salah satu cara efektif mencegah stunting pada balita. Namun adanya pola asuh di masyarakat yang masih keliru, faktor ekonomi dan adanya mitos yang berkembang di masyarakat masih menjadi tantangan.

“Waktu memberikan makanan pendamping ASI kadang lupa kualitasnya. Hanya dikasi nasi plus garam saja, jadi tidak ada gizi. Padahal bisa menggunakan produk lokal seperti kelor. Ikan pun kita masih berhadapan dengan mitos kita. Misalnya ibu hamil tidak boleh makan buah yang menggantung, itu kan gizi ibu hamil jadi berkurang,” ujarnya. (*)  

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply