Pertamina dan Tonggak Sejarah Energi Kota Tepian Air

Fuel Terminal (FT) Bima menyangga tiga kabupaten dan kota di Pulau Sumbawa (ist)

Bima (Global FM Lombok)-Sejarah Kota Bima yang dikenal dengan julukan Kota Tepian Air berawal, tidak terlepas dari akitivitas pelabuhan yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Semenjak zaman kerajaan di abad 16 hingga hari ini, pelabuhan memegang peranan penting dalam perputaran ekonomi masyarakat.

Sebagai salah satu wilayah dalam cakupan operasional Pertamina Marketing Region Jatimbalinus, yang melayani empat Provinsi (Jawa Timur, Bali Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur), termasuk wilayah Bima di dalamnya. Pertamina menyadari posisi strategis pengembangan layanan distribusi energi di Bima dengan membangun Fuel Terminal (FT) Bima di Tahun 1980.

Dengan semangat menegakkan sila kelima dalam Pancasila, bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk keadilan akan kemudahan dan kecepatan akses mendapatkan energi, sudah 40 tahun FT Bima menjawab tantangan pemenuhan kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Deden Mochammad Idhani Unit Manager Communication & CSR Marketing Region Jatimbalinus dalam rilsinya mengatakan, sebelum kehadiran FT Bima melayani kebutuhan energi masyarakat, permintaan akan energi dipenuhi dari luar Pulau Sumbawa. Pengiriman dari Integrated Terminal (IT) Ampenan di Mataram biasanya membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk bisa dinikmati masyarakat Bima. Namun semenjak FT Bima berdiri, masyarakat sudah dapat menikmati energi tanpa ada kendala waktu.

Hingga hari ini, pelayanan yang dilakukan oleh FT Bima menyangga tiga kabupaten dan kota, dengan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menerima pengiriman Bahan Bakar Minyak (BBM) sebanyak 15 lokasi. Hal ini menunjukkan peranan penting kehadiran FT Bima dalam memenuhi kebutuhan energi untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di Bima dan sekitarnya.

Kehadiran FT Bima telah menggerakkan ekonomi masyarakat di Bima dan sekitarnya (ist)

Manfaat yang dihadirkan oleh FT Bima tidak hanya terbatas pada terpenuhinya kebutuhan energi masyarakat, Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) Perusahaan juga sudah dilakukan. Selama lima tahun terakhir (2016-2020) kontribusi Pertamina melalui FT Bima bagi masyarakat Bima dan sekitarnya mencapai lebih dari 9 Milyar Rupiah.

Bentuk ragam TJSL diberikan bagi masyarakat sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs). Diantaranya pada saat terjadi banjir bandang akhir Tahun 2016, pemulihan sarana pendidikan dan ibadah pasca banjir bandang tersebut, pemberdayaan UMKM bersama dengan Dinas Pariwisata dan Dinas Koperasi dan UMKM, serta yang masih berjalan dalam pemberian bantuan air bersih bagi warga Desa Wadumbolo di sekitar FT Bima.

Semenjak Bulan Agustus 2019, Pertamina tidak pernah berhenti menyediakan supply air bersih bagi masyarakat Desa Wadumbolo. Bantuan air bersih ini menjadi penting karena sejalan dengan salah satu poin SDGs terkait sanitasi dan kesehatan masyarakat.

Program Kemitraan, Program CSR dan Program Bina Lingkungan PT Pertamina

Sejalan dengan Proyek Strategis Nasional, dimana pemerataan akses energi di kawasan timur Indonesia menjadi salah satu tulang punggung pengembangan ekonomi dan infrastruktur, FT Bima akan naik kelas menjadi Integrated Terminal (IT) Bima. FT Bima nantinya tidak hanya melayani distribusi energi dalam bentuk BBM, namun juga akan berperan sebagai terminal penyimpanan dan distribusi Liquified Petroleum Gas (LPG).

Dengan segera beroperasinya Terminal LPG Bima, maka Kota Tepian Air akan menjadi titik awal distribusi LPG ke seluruh kawasan timur di Indonesia. Tidak terlepas dari sejarah Kota Bima sebagai kota yang memiliki pelabuhan berumur lebih dari 100 tahun, memegang peranan penting yang sangat membanggakan dalam sejarah distribusi energi di Indonesia.(ris/*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply