Industrialisasi di NTB Harus Berorientasi Ekspor dan Subtitusi Impor

M. Firmansyah

Mataram (Global FM Lombok)- Industrialisasi menjadi salah satu program unggulan Pemprov NTB. Industrialiasi dihajatkan menjadi penguat fondasi perekonomian NTB agar minat berinvestasi di provinsi ini terus bertumbuh. Namun demikian ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh Pemprov NTB dalam pengembangan industrialisasi ini. Salah satu yang perlu dikembangkan adalah produk yang berorientasi ekspor serta berorientasi pada substitusi impor.

judul gambar

Hal tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Mataram (Unram) Dr. M. Firmansyah kepada Global FM Lombok Minggu (7/2). Ia menjelaskan, produk yang berorientasi ekspor akan meningkatkan daya saing daerah, menambah hasil penjualan serta meningkatkan neraca perdagangan. Sementara produk berorientasi pada substitusi impor akan mengurangi ketergantungan masyarakat NTB terhadap barang-barang dari luar karena produknya sudah tersedia di dalam daerah.   

“Sehingga perlu roadmap yang jelas. Misalnya di tahun ini lima persen produk industri tersebut bisa menggantikan produk dari luar. Katakanlah produk industri minyak goreng, mie instan, dan lain sebagainya,” terang Firmansyah.

Menurutnya, ada beberapa kebijakan yang sangat penting dilakukan dalam industrialisasi ini, salah satunya  yaitu penguatan UMKM oleh pemerintah daerah secara fiskal. Anggaran yang mendukung pengembangan industri menjadi prioritas, kegiatan pelatihan hingga pengembangan inovasi produk juga harus menjadi atensi.

Dari sisi moneter juga tak kalah penting. Misalnya Bank Pembangunan Daerah (BPD) fokus membiayai produk UMKM yang berorientasi pada barang substitusi impor tersebut. “Mungkin dengan skim kredit yang dipermudah, dengan bunga yang lunak misalnya. Intinya mereka akan membiayai UMKM tersebut yang bergerak di bidang substitusi impor,” katanya.

Ia mengatakan, konsep industrialiasi sulit diharapkan jika mengacu ke industri-industri berskala besar, sehingga cukup relevan jika pengembangan industri di daerah ini dikembangkan untuk industri kecil dan menengah.

“Konteksnya itu bukan targetnya melahirkan industri baru, karena memang cukup sulit. Namun bagaimana menaikkan kelas industri yang sudah ada, misalnya industri kecil menjadi menengah dan menengah menjadi besar,” tuturnya.

Industrialisasi itu lanjutnya bukan ketika ada perusahaan baru terus dianggap sebuah kesuksesan, namun harus diuji  apakah industri tersebut mampu bertahan lama serta berapa tenaga kerja yang mampu terserap dengan kehadiran perusahaan tersebut.

Karena salah satu indikator kesuksesan industri selain sustainable dan menyerap SDM juga bisa dilihat dari produk yang dihasilkan telah laku di pasaran. Sebab jika produk yang dihasilkan mampu laku di pasaran, maka kemungkinan industri tersebut akan berlanjut.

Nah yang saya khawatirkan jika perusahaan tersebut memproduksi barang bukan produk primer, atau produk yang bukan merupakan kebutuhan inti konsumen, dia berpotensi tidak akan bertahan lama,” ujarnya.

Memang industrialisasi itu tidaklah mudah. Tiongkok saja hingga seperti sekarang ini karena mereka meletakkan pondasi industrinya sejak tahun 1970-an. Begitu juga negara Amerika yang sudah sangat maju tidak lepas dari pembangunan pondasi sejak 1920-an. Meski demikian Provinsi NTB dinilai telah mampu membangun pondasi yang baik dan diharapkan akan kokoh.

“Pondasinya misalnya sudah ada Perda industri atau ekonomi kreatif, itu tinggal dijalankan saja. Kemudian sudah ada Perda Rencana Induk Pembangunan Industri Daerah,  itu tinggal dijalankan. Kemudian di RPJMD juga sudah ada kawasan-kawasan industri, tinggal konsisten dijalankan saja,” katanya.(ris)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply