Manuver PKB di Ujung Waktu Ubah Peta Politik Loteng dan Sumbawa


PKB menyerahkan SK B1-KWK kepada pasangan Lale Prayatni-Sumum. (Suara NTB/ist)

Mataram (Global FM Lombok) – Menuver politik PKB dalam menentukan arah dukungannya di Pilkada serentak 2020 ini cukup mendapat perhatian besar. Pasalnya keputusan arah dukungan PKB yang ditentukan di akhir-akhir waktu, mempengaruhi perubahan besar peta konstelasi politik Pilkada di Lombok Tengah dan Sumbawa. 

Misalnya di Pilkada Kabupaten Lombok Tengah yang dari awal PKB telah menjalin kesepakatan koalisi bersama PKS, akan tetapi pada akhirnya koalisi ini kandas di tengah jalan. Bubarnya koalisi kedua partai ini lantaran tidak bertemunya kesepahaman terkait dengan bapaslon yang akan mereka usung. 

“Tanggal 11 Agustus, SK PKB sudah turun kepada Masrun-Aksar, tapi di tempat lain rekan koalisi kami, mengeluarkan SK yang berbeda, PKS mengeluarkan nama Masrun-Habib. Nah di sini letak perbedaannya, karena berbeda, kita coba koordinasi, namun tidak ada titik temu,” jelas Ketua DPW PKB, Lalu Hadrian Irfani yang dikonfirmasi pada Sabtu (5/9). 

Menyadari bahwa koalisi dengan PKS sudah tidak dapat dipertahankan, PKB lantas segera memutar haluan dengan cepat membangun komunikasi politik dengan sejumlah partai yang belum final koalisi dan paslon yang akan diusung. Dalam prosesnya, PKB kemudian dapat mencapai titik temu dengan PBB dan sepakat menjalin koalisi dengan mengusung pasangan calon Lale Prayatni-H. Sumum. 

“Begitu kami tidak bisa menemukan koalisi dengan paket Masrun-Aksar ini, maka DPP mengambil alih semua, dengan membuka ruang kepada Lale Prayatni-Sumum yang sudah mendaftar lewat DPP,” tutur Hadrian. “Jadi ini bukan kawin paksa, semua partai politik cair, dengan semua kandidat juga cair, kita bangun komunikasi dengan semua pihak. Tapi DPP PKB dengan segala pertimbangan, mengambil kesimpulan dan keputusan untuk Lombok Tengah ini dengan mengusung pasangan Lale-Sumum,” katanya. 

Koalisi PKB dan PBB pun telah resmi menyerahkan SK dukungan model B1-KWK kepada pasangan Lale Prayatni-H. Sumum pada Sabtu (5/9), dan kemudian sudah didaftarkan ke KPU Lombok Tengah pada Minggu (6/9). 

Di tempat yang sama, Balon Bupati Loteng, Lale Prayatni menuturkan dirinya bahwa bisa sampai mendapatkan kepastian dukungan partai telah melalui proses dinamika politik yang panjang. Mulai dia muncul sebagai kandidat paling belakang, sampai dia mengalami gonta ganti pasangan wakil. Pertama mulai dari Yusuf Saleh, kemudian berganti Habib Ziady dan akhirnya berlabuh di Sumum.  “Saya ini memang tampil selalu ada kejutan, politik itu bisa berubah tiap detik, dan tidak ada yang tidak mungkin,” ujarnya. 

Manuver PKB yang paling menohok terjadi di Pilkada Sumbawa. PKB yang dari awal sudah mendukung pasangan Mahmud Abdullah-Dewi Noviany (Mo-Novi) ternyata berubah seketika, dan itu terjadi pada saat pasangan ini sudah berada di KPU untuk melakukan pendaftaran. 

Hadrian kepada Suara NTB menjelaskan bahwa hal itu terjadi lantaran PKB sengaja ditinggal oleh Mo-Novi. “PKB sudah ada SK B1-KWK, namun saya tidak ngerti kenapa kita tidak diajak oleh koalisi saat mendaftar ke KPU. DPC sudah mengeceknya, ternyata PKB tidak didaftarkan sebagai partai pengusung,” ujarnya. 

Urung sebagai partai pengusung Mo-Novi, PKB kemudian segera menjalin koalisi dengan PDIP untuk mengusung pasangan petahana, Husni Djibril-Muhammad Ihsan. PKB menjadi penyelamat Husni-Ihsan di detik-detik terakhir untuk memastikan pasangan ini lolos memenuhi syarat untuk didaftarkan ke KPU. (ndi) 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply