Enam Bulan Pandemi, Okupansi Hotel di Mataram Baru 30 Persen

Salah satu hotel di Kota Mataram (ist)

Mataram (Global Fm Lombok) – Setelah enam bulan dihantam oleh Covid-19, okupansi hotel di Kota Mataram belakangan mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang dikumpulkan Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram, tingkat hunian hotel di Mataram saat ini dapat mencapai 30 persen.


“Beberapa hotel yang kita tanya itu sudah 30 persen okupansi hotel sudah terisi.Bahkan ada memang beberapa hotel sudah 70 kamar bisa terisi untuk hotel besar,” ujar Kepala Dispar Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, Rabu (2/9) di Mataram.


Selain itu, kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) juga mulai berjalan. Dicontohkan seperti kegiatan Dispar Kota Mataram yang mengambil tempat di salah satu hotel di Kota Mataram, di mana kegiatan tersebut sekaligus melihat penerapan protokol kesehatan di usaha pariwisata.


“MICE sudah mulai, kemarin kita juga sudah melaksanakan MICE itu di hotel tentunya dengan aturan protokol yang ada. Kemarin kita sudah coba di salah satu hotel. Kapasitas pesertanya 100, tapi peserta meeting kita batasi sampai 40 orang saja,” ujar Denny.


Pihaknya juga telah menyerahkan data usaha pariwisata di Kota Mataram baik hotel maupun restoran ke Dispar Provinsi NTB. Terutama terkait pemberian sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment) yang menjadi kewenangan di tingkat provinsi.


“Kami sudah berikan data itu. Sertifikat (CHSE) itu untuk menambah rasa nyaman pengunjung yang akan mengujungi hotel dan restoran tersebut,” jelasnya. Untuk Kota Mataram, setidaknya ada 15 usaha pariwisata yang telah menerima sertifikat tersebut pada 28 Agustus lalu.


Antara lain M Hotel, Pondok Galih, Lombok Astoria, Aston Inn, Puri Indah, Grand Legi, Rumah Langko, Golden Palace, Idoop Hotel, Mataram Square Hotel, Lombok Plaza, Lombok Raya, Fave Hotel, Same Hotel, dan Dapoer Sasak.

Terpisah, Ketua Asosiasi Hotel Mataram (AHM), Yono Sulistyo, menerangkan okupansi hotel di Mataram saat ini memang berkisar antara 25 – 30 persen. Hotel dengan okupansi tinggi rata-rata didominasi oleh hotel-hotel yang dimanfaatkan sebagai lokasi karantina untuk kasus pandemi virus corona (Covid-19)


“Yang lumayan tinggi (okupansi) itu untuk hotel yang sudah buka, dan ada beberapa hotel yang dipakai untuk karantina. Seperti Lombok Raya, Lombok Garden, Puri Indah, dan ada juga Pratama dan Arianz Hotel, tapi itu kan tidak dibuka untuk umum,” ujar Yono saat dikonfirmasi, Rabu (2/9).

Menurutnya, jika hotel-hotel yang saat ini dipakai sebagai tempat karantina Covid-19 membuka pelayanan untuk tamu secara umum kemungkinan persentase okupansi hotel akan menurun. “Hotel untuk karantina tingkat huniannya memang lumayan tinggi, tapi kalau dia buka untuk umum nanti bisa turun lagi,” jelasnya.

Di sisi lain, seluruh hotel di Mataram disebutnya telah membuka kembali usaha. Namun dengan tingkat hunian yang belum cukup merata di semua hotel, peningkatan okupansi yang terjadi terbilang masih kecil dan belum dapat dibandingkan dengan situasi normal.


Hal serupa juga terjadi untuk kegiatan MICE, di mana sebagian besar kegiatan tersebut tidak disertai dengan menginap seperti dalam situasi normal. “Meeting ini belum terlalu banyak. Kalaupun ada, kebanyakan yang setengah hari atau sehari tanpa menginap,” ujar Yono.

Seluruh tamu dan kegiatan MICE sendiri disebutnya masih berasal dari instansi pemerintah dan tamu-tamu dalam daerah. Dicontohkan seperti kegiatan Pemkot Mataram dan Pemprov NTB yang mulai banyak melakukan MICE di hotel-hotel yang ada. (bay)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply