Melalui Riset, Prof Dahlanuddin dan Tim Membawa Ras Sapi Bali “Naik Kelas”


Ketua Tim Peneliti Unram Prof. Dahlanuddin (ist)

Mataram (Global FM Lombok)- Ras sapi Bali yang banyak dipelihara oleh peternak NTB kerap dianggap tak mampu bersaing dengan jenis sapi lainnya seperti simmental atau limosin. Sapi Bali memiliki kekurangan pada pertumbuhan yang lamban dan daging yang agak keras.

Namun dengan perlakukan khusus pada sapi Bali berdasarkan riset yang panjang, varietas ini justru mampu “naik kelas” dan unggul sehingga siap bersaing di pasar menengah ke atas.

Tim dari Universitas Mataram (Unram) dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB (BPTP NTB) bersama dengan sejumlah pihak seperti tim dari University of Queensland Australia, Massey University New Zealand, The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) dan University of New England Australia melakukan riset untuk meningkatkan keunggulan sapi Bali di NTB.

Hasilnya memang sudah dirasakan oleh ribuan peternak di NTB. Di mana saat ini setidaknya dua ribu peternak di NTB, terutama di Pulau Sumbawa sudah mengadopsi pola-pola pemeliharaan sapi Bali yang sesuai dengan hasil riset dari para peneliti.

Ketua Tim Peneliti Unram Prof. Dahlanuddin mengatakan, poin perbedaan sapi Bali biasa dengan sapi Bali hasil riset tersebut yaitu pada pertumbuhannya yang lebih cepat serta daging yang lebih empuk. Pertumbuhan sapi Bali ini dua kali lebih cepat daripada pertumbuhan sapi Bali biasa, sehingga usia potong menjadi lebih pendek serta kualitas daging juga lebih bagus.

Menurutnya, sapi Bali menjadi unggul dengan pemberian pakan lamtoro dan daun turi. Pemberian pakan dengan lamtoro bisa meningkatkan berat badan sapi Bali menjadi 0,4 – 0,7 kg per hari. Sebab biasanya pertumbuhan sapi Bali hanya sekitar 0,2 Kg per hari. Sehingga dengan semakin cepat pertumbuhan sapi tersebut, berat potong minimal 300 kg yang disyaratkan oleh Pemprov NTB dapat dicapai pada umur muda sekitar 2 tahun.

“Pertumbuhannya dua kali lipat lebih cepat, itu tentu akan mempengaruhi harga. Tekstur dagingnya empuk sehingga mirip dengan sapi jenis lain yang dikonsumsi di restoran dan hotel,” kata Prof Dahlanuddin kepada Global FM Lombok akhir pekan kemarin.

Selain pemberian pakan dengan menggunakan lamtoro di wilayah yang kering atau daun turi di daerah yang lebih basah, sapi Bali menjadi unggul dengan perlakuan khusus pada saat pemotongan dan pengolahan daging di Rumah Potong Hewan (RPH). “Jadi karena kualitas daging sapi yang kita hasilkan sangat bagus, banyak konsumen loyal kita,” katanya.

Saat ini lanjut Dahlan, sekitar dua ribu peternak yang sudah mengikuti pola pemeliharaan sapi Bali sesuai dengan hasil riset tersebut dengan jumlah sapi yang dihasilkan sekitar 10 ribu ekor per tahun terutama di KSB, Sumbawa dan Dompu. “Cuma ada yang hanya pada saat musim kemarau, ada yang sepanjang tahun,” lanjutnya.

Agar semakin banyak peternak yang mengadopsi cara pemeliharaan sapi sesuai hasil riset ini, tentu menjadi domain pemerintah daerah untuk mengarahkan masyarakat. Peternak tentu harus mengikuti SOP atau pola pemeliharaan yang dibuat oleh tim riset sehingga hasilnya menjadi bagus.

“Kami  saat ini sedang bekerjasama dengan enam kabupaten yaitu KLU, Loteng, Lotim, KSB, Sumbawa dan Dompu. Kalau bisa peternak yang lain bisa seperti yang sudah dua ribuan orang lakukan itu. Kemudian nanti yang paling penting bagaimana menghubungkan mereka dengan pasar kelas menangah ke atas,” tutupnya. (ris)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply