Dari JOSS, Proses Mengubah Sampah Jadi Pellet Bahan Bakar Itu Dimulai


Nandang Safrudin, Ahli Madya SMT, Knowledge Management dan Risiko PT. Indonesia Power saat menunjukkan tempat “penyeumisasi” sampah. (global fm lombok/ris)

Belasan pekerja tampak sedang sibuk memilah-milah tumpukan sampah saat kami berkunjung ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat pada Kamis 13 Agustus lalu. Aktivitas mereka ditemani suara bising kendaraan pengangkut sampah yang hilir mudik tanpa henti sepanjang hari.

Lokasi yang kami datangi pertama kali adalah bangunan tempat pemilahan sampah organik dan anorganik di komplek TPA terbesar di NTB itu. Dari tempat inilah, proses pengolahan sampah menjadi pellet RDF (Refuse Derived Fuel) dibuat. Produk tersebut selanjutnya menjadi substitusi bahan bakar batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang, Lombok Barat. PT. Indonesia Power menyebutnya sebagai JOSS yang merupakan singkatan dari Jeranjang Olah Sampah Setempat (JOSS).

Kami ditemani oleh Nandang Safrudin, Ahli Madya SMT, Knowledge Management dan Risiko PT. Indonesia Power dan Didik Mahmud Gunawan Hadi, Kepala UPT TPA Regional Kebon Kongok yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi NTB.

Dua orang ini menjelaskan dengan detil proses pembuatan pellet yang berasal dari sampah. Melalui peralatan yang relatif sederhana, ratusan ton sampah yang datang dari Kota Mataram dan Lombok Barat sebagiannya berhasil disulap menjadi bahan bakar yang bernilai tinggi.

Seorang pekerja sedang memilah sampah di lokasi JOSS

Pemerintah Provinsi NTB dan PT.Indonesia Power yang mengelola PLTU Jeranjang memang sedang menjalin kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi. Pemerintah Provinsi NTB dengan program utama “Zero Waste” bertemu dengan program PT.Indonesia Power yang menginginkan adanya bauran energi terbarukan melalui program ini.

“Sampah ini akan melalui proses penyeumisasi atau fermentasi sebelum menjadi pellet. Memberikan bioaktivator, disimpan selama tujuh sampai 10 hari, akan terjadi  proses pembusukan,” kata Nandang Safrudin mengawali penjelasannya di lokasi pemilahan sampah.

Setelah sampah melalui proses pembusukan dalam wadah khusus dari kayu, sampah selanjutnya diproses di mesin pencacah dengan ukuran 5-8 mm sebelum akhirnya masuk ke mesin pengepresan sehingga menjadi pellet RDF. Pellet akan menjalani proses pengeringan di bawah sinar matahari sebelum dikirim ke PLTU Jeranjang. Di pembangkit listrik itu pellet dibakar melalui sistem co-firing.

Saat ini sekitar 300 ton sampah di antar ke TPA Regional Kebon Kongok setiap hari dari Kota Mataram dan Lombok Barat. Dari jumlah ini, baru sedikit saja sampah yang diolah menjadi pellet yaitu antara 100 hingga 200 kilogram sampah. Namun kedepannya kata Nandang, jumlah sampah yang akan diolah terus meningkat.

“Dari April, Mei, Juni, Juli trennya naik terus pak. Dulu mungkin sekitar 800 kilo (per bulan), 900 kilo terus sekarang mulai naik. Kemarin saya cek dua minggu sudah 1,4 ton, mudahan akhir bulan ini bisa sampai 2 ton lah,” katanya.

Kedepannya, PLTU Jeranjang mengharapkan produksi pellet dari sampah ini bisa mencapai 14 ton dalam sehari, seiring dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan dukungan sarana dan prasarana agar lebih memadai. Karena saat ini dukungan sarana memang masih terbatas sehingga produk pellet yang dihasilkan juga masih terbatas.     

Dalam waktu dekat ini sedang dirancang agar produk pellet dalam sehari bisa diproduksi antara 500 kilo hingga 2 ton. Dengan demikian sarana proses pengolahan sampah akan ditambah di TPA Regional ini. Mulai dari wadah penyeumisasi yang diperbanyak jumlahnya, sumberdaya manusia yang memadai hingga dukungan permesinan.


Kepala UPT TPA Regional Kebon Kongok Didik Mahmud Gunawan Hadi

Kepala UPT TPA Regional Kebon Kongok Didik Mahmud Gunawan Hadi mengatakan, volume sampah yang akan diolah kedepannya akan semakin meningkat. Di tahun 2021 mendatang, Kementerian PUPR akan memberikan bantuan berupa bangunan gudang seluas 40 are di sekitar TPA Regional Kebon Kongok. Di bangunan tersebut, semua fasilitas yang dibutuhkan untuk pengolahan sampah menjadi pellet akan tersedia.

Didik menerangkan, mengurangi timbunan sampah menjadi program kerja Pemerintah Provinsi NTB. Karena itulah dari 300 ton sampah yang mengalir ke TPA setiap hari, sekitar 100 tonnya akan diolah menjadi pellet.

“Dalam proposal kami itu, sampah yang bisa kami olah dalam sehari bisa sampai 100 ton. Semuanya pakai mesin yang dibantu oleh tenaga kerja kita nanti,” kata Didik.

Penelitian masih terus dilakukan agar kedepan sampah non organik bisa lebih banyak dilakukan pengolahan. Karena saat ini, komposisi pellet terdiri dari 95 persen sampah organik dan 5 persen anorganik.

“Ini untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA juga, misi besar Gubernur yaitu setiap desa akan memiliki mesin pellet ini. Minimal dia cacah sampah ini di tingkat desa. Terlebih PLN sedang meneliti agar bisa tidak dibuat pellet, cukup sampai pencacahan saja,” katanya.

Saat kami berbincang dengan para pekerja di lokasi JOSS

Perjanjian Kerjasama Penelitian Selama Lima Tahun

Untuk pengembangan pellet ini, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi NTB  telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan PT. Indonesia Power tentang pelaksanaan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi. Kerjasama penelitian yang ditandatangani tanggal 21 Juli 2020 kemarin memiliki jangka waktu lima tahun.

Kepala Dinas LHK Provinsi NTB  Madani Mukarom mengatakan, setelah terjalin kerjasama penelitian nantinya akan dilanjutkan dengan MoU pemanfaatan bisnis. “Namun MoU pemanfaatan bisnis ini belum dilakukan, sehingga belum bisa bicara harga jual beli” kata Madani.

Saat ini katanya, pengolahan sampah menjadi pellet di TPA Regional Kebon Kongok sudah berjalan dengan baik dan jumlahnya diupayakan terus bertambah. Produk pellet dari hasil pengolahan sampah tersebut juga sudah mulai digunakan sebagai bahan bakar yang dikombinakasikan dengan batu bara meskipun jumlahnya masih terbatas. 

“Penelitian itu butuh lima tahun. Nanti jika sudah ada kerjasama pemanfaatan, penelitian terus jalan. Penelitian itu untuk penyempurnaan produk. Bukan berarti setelah penelitian baru kerja, tidak begitu. Ini simultan ini,” terangnya.

Penjelasan Madani Mukarom senada dengan yang diungkapkan oleh Kepala UPT TPA Regional Kebon Kongok terkait dengan program pembangunan gudang pengolahan sampah di TPA tahun 2021 mendatang. Dimana Kementerian PUPR akan membantu pembangunan gudang untuk mengolah 100 ton sampah perhari. Kapasitas pengolahan yang besar nantinya akan berhasil memproduksi bahan bakar dalam jumlah yang besar juga.

Setelah penandatanganan kerjasama pemanfaatan ditandatangani, Pemprov NTB kemudian akan mendorong seluruh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Provinsi NTB untuk memiliki mesin pencacah sampah untuk selanjutnya digabung dan dijual kepada PLTU Jeranjang. “Kita akan dorong desa melakukan pengolahan sampah ini setelah ada MoU pemanfaatan,”katanya.(ris/ bersambung)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply