Di NTB, Jurus Memberantas Rentenir Itu Bernama “Mawar Emas”

Kepala OJK NTB Farid Faletehan saat peluncuran Mawar Emas (global fm lombok/ris)

Selong (Global FM Lombok)- Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK tahun 2019, tingkat pemahaman (literasi) dan akses (inklusi) keuangan masyarakat NTB sebesar 34,65% dan 62,73%. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional sebesar 38,03% dan 76,19%. Tidak mengherankan kemudian jika pelaku usaha mikro dan masyarakat kecil sangat rentan terjerat hutang rentenir. Hal ini tentu menjadi momok bagi masyarakat dalam upaya untuk keluar dari garis kemiskinan.

Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan mengatakan, atas dasar keprihatinan itulah muncul program Mawar Emas yang merupakan singkatan dari  Melawan Rentenir Berbasis Masjid. Ia mengaku sangat antusias dengan hadirnya program Mawar Emas yang telah diluncurkan oleh Gubernur NTB di Masjid Nurul Ikhsan, Keruak Lombok Timur, Rabu (12/08/2020). Menurutnya, Mawar Emas lahir dari keprihatinan Gubernur dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi NTB terkait dengan banyaknya masyarakat yang terjerat rentenir tersebut.

Farid Faletehan selaku Pengarah TPAKD Provinsi NTB pun menekankan pentingnya akses pembiayaan yang mudah dan murah bagi pelaku usaha mikro. Kehadiran Mawar Emas diharapkan mampu melepaskan masyarakat dari rentenir, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah NTB. “ Kedepan, kami akan mengundang keterlibatan lembaga jasa keuangan lainnya, agar Mawar Emas dirasakan manfaatnya di seluruh penjuru NTB,” kata Farid Faletehan.

Pada saat peluncuran program ini, sebanyak 50 nasabah dari total 417 nasabah Mawar Emas se Pulau Lombok hadir dan menerima pembiayaan mikro. Para ibu-ibu yang menjadi nasabah program Mawar Emas akan dibina dan memperoleh pembiayaan sebesar 2 juta rupiah dari PNM Mekaar atau pembiayaan qardhul hasan tanpa bunga sebesar 1 juta rupiah dari Bank NTB Syariah. Pelaku usaha yang membutuhkan pembiayaan lebih besar juga dapat dihubungkan dengan produk tanpa agunan Bank NTB Syariah.

Mawar Emas diluncurkan secara resmi oleh Gubernur NTB, dan dihadiri oleh Bupati Lombok Timur, H. M. Sukiman Azmy, unsur Forkopimda Provinsi NTB dan Kabupaten Lombok Timur, Kepala OJK Provinsi NTB, Perwakilan Bank Indonesia NTB, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah NTB, Direksi Bank NTB Syariah, Pimpinan Cabang PNM Mataram, para tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Gubernur dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa program ini yang pertama di Indonesia. Kesempatan ini harus dijadikan momentum untuk bergerak bersama, bukan hanya di NTB tapi menjadi contoh di Indonesia.

“Secara ide memang semua orang bisa, namun secara praktek tidak semua orang bisa melakukan, baru kita yang merealisasikannya,” ujarnya. Ia  optomis, dengan dukungan OJK program Mawar Emas akan sukses, karena lokomotif di depannya adalah OJK.

Dijelaskan Gubernur, program Mawar Emas adalah Program pemerintah TPAKD Provinsi NTB untuk membantu UKM dan pedagang-pedagang kecil yang selama ini lebih nyaman dan lebih mudah meminjam ke rentenir dengan berbunga tinggi.

“Akibat berbunga tinggi akhirnya jadi beban yang sangat berat dan membuat lingkaran setan kemiskinan yang susah diputus,” ujarnya.

Gubernur berharap, dengan Program Mawar Emas ini pedagang dan masyarakat kecil akan dapat difasilitasi dan didekatkan dengan institusi keuangan, seperti Bank NTB Syariah, sehingga mampu mendapatkan pinjaman dan memperoleh modal di Bank NTB Syariah dengan lebih mudah dan lebih nyaman, dibandingkan ke rentenir.

“Mudah-mudahan dengan masyarakat kecil bisa meminjam uang dan modal ke Masjid, karena Masjid selain sebagai pusat ibadah bisa sekaligus menjadi pusat ekonomi dan sosial,” harapnya.

Untuk itu, gubernur menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada TPAKD Mawar Emas seperti OJK, BI, Bank NTB Syariah, PNM dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB yang membuat program ini menjadi mungkin terlaksana. “Hari ini kami mulai dari Lombok Timur, untuk selanjutnya menyusul di Kabupaten dan Kota se-NTB,” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Lombok Timur, H. Sukiman Azmi, dalam sambutannya mengatakan, saat ini Rentenir sudah merasuki semua sendi kehidupan masyarakat di Lombok Timur. Mulai dari Petani, Nelayan bahkan para TKI juga tidak lepas dari praktek rentenir.

Untuk ia menaruh harapan besar kepada 1,2 juta penduduk Lotim, jika masyarakat dapat tersentuh program ini, maka akan mendatangkan berkah bagi masyarakat Lotim dan akan menjalar ke Kabupaten lainnya di NTB.

Selanjutnya, Program inovatif TPAKD NTB ini hadir untuk membantu pelaku usaha mikro yang acapkali kesulitan mengakses kredit atau pembiayaan konvensional. Umumnya mereka tidak memiliki agunan berupa sertifikat tanah atau BPKB. Jarak tempuh ke kantor lembaga keuangan yang relatif jauh, dengan tingkat literasi dan inklusi keuangan yang rendah.

Tidaklah mengherankan bila pelaku usaha mikro dan masyarakat kecil sangat rentan terjerat hutang rentenir, atau yang dikenal dengan istilah ‘bank subuh’ atau ‘bank rontok’. Hal ini tentu menjadi momok bagi mereka dalam upaya untuk keluar dari garis kemiskinan.

Untuk itu, diperlukan sinergi antara Pemerintah Daerah, OJK, dan para pemangku kepentingan untuk merumuskan terobosan program pembiayaan, yang dapat menyentuh masyarakat di lapisan bawah dengan biaya yang sangat murah. Pemikiran inilah yang mendasari lahirnya program Mawar Emas.

Melalui koordinasi dengan MES NTB, kegiatan Mawar Emas dipusatkan di masjid sebagai pusat peradaban dan sumber kemakmuran.

Takmir masjid dan ketua kelompok pengajian ditunjuk menjadi ujung tombak program, sehingga diperlukan pembekalan dan pendampingan secara intensif. Diantaranya, pelatihan takmir masjid se-Pulau Lombok pada tanggal 18-20 Juli 2020 di Hotel Jayakarta, tanggal 21 Juli 2020 di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB, dan terakhir tanggal 5 Agustus 2020 di Ponpes Al-Manshuriah Ta’limusshibyan Bonder, Lombok Tengah.

Para takmir masjid yang telah mengikuti pelatihan akan menjaring kelompok ibu-ibu jemaah masjid yang membutuhkan akses permodalan usaha. Selanjutnya mereka akan dibina dan memperoleh pembiayaan sebesar 2 juta rupiah dari PNM Mekar (skema 1), atau pembiayaan qardhul hasan tanpa bunga sebesar 1 juta rupiah dari Bank NTB Syariah (skema 2).

Sebelumnya Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) NTB Dr. Hj Baiq Mulianah mengatakan, ada sejumlah upaya yang dilakukan oleh MES bersama OJK, pemerintah daerah dan stakeholder lainnya dalam rangka melawan aktivitas rentenir di daerah ini. Mulai dari pemberian kredit tanpa bunga di Bank Wakaf Mikro hingga yang teranyar adalah Mawar Emas. MES selama ini memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat di dalam bertransaksi secara syariah. Di program Mawar Emas ini, pihaknya sangat bersemangat karena sudah muncul gerakan bersama untuk melawan rentenir ini melalui sistem yang sudah tepat.  

Sasaran utama dari program Mawar Emas ini adalah masyarakat di lingkungan sekitar masjid, yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB secara umum.(ris)-

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply