Masa Belajar Mandiri Diperpanjang, “Home Visit” untuk Siswa Yang Tak Punya Fasilitas Daring

Dr. H. Aidy Furqan (ist)

Mataram (Global FM Lombok) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB memperpanjang masa belajar mandiri tingkat SMA/SMK sederajat hingga 11 Mei mendatang. Hal ini berdasarkan surat keputusan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah tanggal 27 April lalu.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan kepada Global FM Lombok Rabu (29/4) di Mataram. Ia mengatakan, selama dua minggu kedepan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB akan melakukan evaluasi terkait perpanjangan masa belajar mandiri tersebut. Jika memungkinkan akan diperpanjang kembali, maka akan disesuaikan dengan kondisi yang terjadi.

Diterangkan Aidy Furqon, dengan perpanjangan masa belajar mandiri ini, ia memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan menggunakan sistem daring. Meski diakui, sebanyak 15 persen siswa tingkat SMA/SMK sederajat di NTB tidak bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar menggunakan daring tersebut karena keterbatasan fasilitas.

“Keputusan Gubernur keluar tanggal 27 April lalu dan kami langsung membuat perpanjangan masa belajar mandiri menjadi dua minggu berikut dan berakhir tanggal 11 Mei. Dua minggu ini akan saya evaluasi lagi apa yang bisa kita lakukan, progresnya dengan segala kendalanya. Kalau memungkinkan untuk diperpanjang lagi tetapi proses yang lain berjalan. Saat ini pembelajaran daring masih berlangsung baik semi daring maupun konvensional,”katanya.

Dengan demikian, pihak sekolah diminta untuk mengaktifkan kembali program home visit atau kunjungan ke masing – masing rumah siswa, terutama siswa yang tidak memiliki fasilitas belajar daring. Upaya ini bisa dilakukan agar para peserta didik tetap menerima tugas dari sekolah. Mengingat jumlah siswa yang tidak memiliki fasilitas hanya 15 persen. Kunjungan ke rumah siswa ini bisa dilakukan oleh guru bimbingan konseling (BK) atau guru mata pelajaran.

“Untuk menangani mereka yang tidak bisa semi online maupun online, saya minta sekolah mengaktifkan home visit. Ya kan hanya 15 persen. Misalkan kalau dia punya murid hanya 100 berarti hanya 15 orang. Bisa dengan guru BK atau guru mata pelajaran yang relevan,”ujar Aidy Furqon

Home Visit ini ditegaskannya bukan mengajar ke setiap rumah peserta didik. Akan tetapi pihak sekolah memberikan tugas yang akan dikerjakan oleh peserta didik selama masa belajar mandiri berlangsung.

“Home visit  bukan mengajar ya. Tapi jenguk bawakan materi pelajaran, mungkin bawakan tugas nanti dalam kurun tertentu akan ada penilaian,”katanya(azm)-  

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply