Tak Hanya di Mandalika, Seluruh Hotel dan Restoran di NTB Butuh Insentif

H. Misbach Mulyadi

Mataram (Global FM Lombok)- Menteri Keuangan telah memberikan insentif kepada sepuluh destinasi wisata unggulan di Indonesia sebagai dampak dari penyebaran pandemi corona. Salah satu destinasi wisata yang mendapatkan stimulus tersebut yaitu Mandalika Lombok. Namun belakangan destinasi lainnya di luar Mandalika juga meminta insentif tersebut karena sama-sama terdampak oleh pandemi ini.

Anggota Komisi II DPRD NTB H. Misbach Mulyadi kepada Global FM Lombok mengatakan, pihaknya bersama dengan pelaku usaha pariwisata di NTB sudah melakukan pertemuan dengan Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah agar pelaku usaha wisata seperti hotel dan restoran di luar Mandalika juga diberikan insentif oleh Menteri Keuangan berupa pembebasan pungutan pajak selama 6 bulan ke depan.

“Sudah ada pertemuan teman-teman pemilik hotel dengan Gubernur. Sudah disampaikan bahwa Mandalika itu hanya sebagian kecil saja dari hotel yang ada di Lombok. Gubernur sangat respon terhadap hal itu, pemda akan bersurat ke Menkeu dan beliau juga akan menghubungi menteri melalui telpon. Ini menyejukkan hati kawan-kawan,” kata Misbach.

Ia mengatakan, pandemi corona yang telah menyerang ratusan negara di dunia, termasuk Indonesia memang telah berdampak nyaris di semua lini kehidupan, utamanya di ekonomi. Provinsi NTB yang salah satu andalannya adalah pariwisata juga sangat terdampak oleh kondisi ini dan hampir tak ada yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha menghadapi situasi seperti ini.

“Kita berpikir kita harus wait and see, menunggu situasi di Indoenesia dan negara lainnya bebas corona. Seperti Wuhan kan sekarang sudah mengumumkan tidak ada lagi kasus baru corona di kota itu,” katanya.
Nanti pada saat Indonesia sudah berhasil mengatasi pandemi ini, barulah Presiden akan mengumumkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah bebas dari corona. Pasca-itulah akan kembali pariwisata di Tanah Air, termasuk di NTB akan kembali normal.

Adapun kondisi saat ini kata Misbach, wisatawan baik mancanegara maupun domestik sangatlah minim karena rata-rata mereka tak mau mengambil risiko di tengah wabah yang sudah tersebar di sejumlah daerah di Indonesia.

“Hotel teman-teman saya di Bali itu banyak tutup, sementara tidak buka, karena tamunya tidak ada. Begitu juga teman teman di Lombok ini mengalami hal yang sama. Orang yang jalan itu tidak ada sekarang,” katanya.

Walaupun kondisi bisnis pariwisata dengan lesu, ia mengharapkan agar para pekerja tidak di PHK, namun ada kebijakan lain yang diambil oleh perusahaan misalnya dengan merumahkan sementara karyawannya. Nanti di saat kondisi sudah kembali, barulah mereka dipanggil kembali.
“PHK barangkali tidak, kalau ada yang tidak terima gaji mungkin ya. Itu kompromi antara pemilik hotel dengan karyawan ya. Merumahkan sementara sebelum kondisi normal kembali,” katanya.(ris)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply