Gubernur Minta Pembayaran Lahan Bendungan Meninting Dipercepat

Dr. H. Zulkieflimansyah (Global FM Lombok/dok)
Giri Menang (Global FM Lombok) – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah menegaskan pembayaran lahan warga yang terdampak pembangunan proyek Bendungan Meninting harus dipercepat.  Pihaknya akan mengecek sejauh mana proses pembayaran lahan tersebut ke pihak Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Dalam proses pembayaran, mestinya sudah oke,” tegas gubernur ditemui usai Peresmian Balai Mediasi di Desa Sigerongan Kecamatan Lingsar, Rabu (8/1).

Ditanya soal proyek belum dibangun, pihaknya akan mengecek ke BWS sejauh mana prosesnya. Sebab proyek ini pekerjaan BWS, bukan Pemprov NTB.

Sementara itu, Jumarti, anggota DPRD Lombok Barat (Lobar) asal Dasan Gria yang tanahnya terdampak pembebasan lahan mengaku sampai saat ini belum dibayar.  Pihaknya mendesak dilakukan pembayaran tanah yang terdampak, sebab pada umumnya masyarakat di Dusun Murpeji sudah melakukan relokasi secara mandiri dengan membeli tanah di tempat lain untuk membangun rumah. “Cuma tanahnya belum dibayar sampai sekarang. Jangan sampai harga yang sudah disepakati justru dinaikkan lagi, ini kan jadi permasalahan nanti,” tegas Jumarti.

Baca Juga : Pembangunan Bendungan Meninting Terkendala Lahan

Alasan kenapa belum dibayar lahan itu? Pihaknya tidak tahu sampai saat ini, apakah belum diusulkan ke pusat ataukah tahapan ini  ditunggu dulu setelah dilakukan pembayaran di Bukit Tinggi. Politisi PPP ini berharap kepada tim pemebebasan lahan segera membayar ke warga. Sebab pembayaran lahan ini sudah molor sampai tahun ini.Sesuai janji seharusnya tuntas tahun lalu, namun kembali dijanjikan awal tahun ini. “Mudahan-mudahan bisa direalisasikan, itu harapan kami. Sebab lebih cepat lebih baik,” jelas dia.

Warga, ujarnya, menolak pengerjaan proyek dimulai sebelum ada pembayaran lahan. Baginya, penolakan warga ini wajar, sebab mereka khawatir menunggu terlalu lama. Yang pasti, ia dan masyarakat mendukung adanya proyek ini, sebab untuk kepentingan masyarakat luas di Pulau Lombok.

Baca Juga : Pembangunan Bendungan, Solusi Permanen Untuk Bencana Kekeringan

“Saya sepakat jangan sampai membawa alat berat ke lahan kebun warga dan bekerja sebelum dibayar lahan warga,” tegas dia. Sebab warga setempat mengandalkan hasil tanaman seperti aren, kelapa, durian dan lain-lain. Lebih-lebih di desanya paling banyak yang terkena relokasi. Dirinya bersama keluarganya memiliki lahan terdampak seluas 80 are, kemudian ditambah adik dan kakaknya 23,5 are. (her)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply