Sriwati : Saya Dijual dan Disiksa..

Sriwati (Global FM Lombok/ist)

Mataram (Global FM Lombok) – Sriwati, Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Peringgasela Timur, Kabupaten Lombok Timur, sedang terjebak di perang Suriah. Mengalami tekanan mental hebat dan meminta agar segera dipulangkan ke kampung halaman. Selain depresi, ia juga tidak tahan dengan  penyiksaan fisik yang dilakukan majikan  setiap hari.

Sambil terisak, Sriwati menuturkan beban psikis yang dialaminya selama di Suriah.

Saat diwawancarai Global FM Lombok via ponsel Minggu, 15 Desember 2019, ia berusaha tegar dan tenang, agar bisa menuturkan awal perjalanannya  menjadi TKW. Sampai akhirnya tak disadarinya terdampar di Suriah, negara timur tengah yang sedang mengalami perang saudara. Saban hari hanya desing peluru dan ledakan mortar yang memekakkan telinganya.

Sebelum Sriwati sampai di Suriah, pertama kali dia ditempatkan bekerja di Abu Dhabi. Disana dia sempat bekerja selama sembilan bulan, tercatat sejak Bulan Oktober 2018 lalu. Bekerja dan gaji selama bekerja di Abu Dhabi cukup lancar, dengan nilai yang diterima setiap bulan 2000 Dirham.

Baca Juga : Aktor Lintas Negara di Pusaran Perdagangan Orang asal NTB

Setelah sembilan bulan berlangsung, kontrak kerjanya diputus. Sriwati dikembalikan ke agensi yang mengendalikan nasibnya. Mulai tidak betah, ia mengaku ingin pulang. Namun dari sinilah cerita naas itu  dimulai.  Cerita pilu Sriwati sebagai TKW hingga saat terdampar di Suriah.

Sejak kembali ke agensi, Sriwati mulai mendapatkan perlakuan kasar . Agennya itu diketaui bernama Khalid. Sriwati mulai sering mendapat perlakuan kasar dan tindak kekerasan dari Khalid, karena menolak dikirim bekerja ke Ajman, salah satu wilayah di Uni Emirat Arab (UEA). Ia bersikeras ingin dipulangkan ke tanah air.

“Saya tidak mau ke Ajman, bahkan saya sudah dibelikan tiket ke Ajman sama Agen, tapi saya batalkan, karena saya tidak mau ke sana. Dari sana saya dipukul terus-terusan oleh Agen,” tuturnya sembari terisak.

Gagal dikirim ke Ajman, Sriwati kemudian diduga dijual ke agen lain yang dikenalnya bernama Ahmad Dhani. Setelah berada di tangan Ahmad Dhani, Sriwati kemudian dikirim untuk bekerja ke Dubai. Di Dubai Sriwati berkerja selama tiga bulan dan tanpa diberikan gaji, karena langsung diambil oleh agen yang mengirimnya.

“Setelah tiga bulan, saya kembali lagi ke kantor (agensi), karena tidak tahan, karena saya bekerja seperti di dalam penjara. Saya berpura-pura sakit di majikan agar tidak dipekerjakan. Tapi di kantor (agensi) tetap memaksa saya untuk bekerja, dan saya dipukul terus,” tuturnya.

Baca Juga : Bantahan dan Penjelasan Para Aktor di Balik Kasus TPPO Sriwati

Beberapa kali usaha agensi untuk mempekerjakan Sriwati, namun terus gagal. Lantaran ia mengaku tidak mau lagi dikirim ke Dubai. Agensi kemudian berencana untuk untuk menjual Sriwati ke Suriah. Tapi Sriwati menolak, bahkan dia kembali berpura-pura sakit, agar tidak laku untuk dijual.


Dari sini Sriwati kembali mendapat penyiksaan dari agensi. Bahkan siksaan setiap hari karena dianggap keras kepala menolak untuk dijual ke Suriah.
Karena sudah tidak tahan dengan perlakuan kekerasan dan penyiksaan yang diterimanya setiap hari dari pihak agensi, akhirnya Sriwati menyerah. Dia bersedia dikirim ke Suriah dengan harapan siksaan yang dialaminya segera berakhir.
Tapi nasib malang kembali menimpa Sriwati. Di Suriah justru dia mendapatkan perlakuan kekerasan tak kalah sadisnya.
“Saya terpaksa mau ke Suriah, karena tidak tahan sering disiksa, dipukul, dimarahi. Saya dijual ke Agen Suriah namanya Muhanan, sebanyak Rp 70 juta uang Indonesia. Baru sehari di sana (Suriah) saya langsung dijual lagi,” tuturnya.

Di Suriah Sriwati merasa tidak sedang bekerja sebagai TKW, tapi lebih tepatnya menjadi budak. Karena dia bekerja hampir 24 jam penuh, tanpa ada waktu istirahat. Ia bekerja hingga larut malam.


Hingga berita ini ditulis, Sriwati sudah 2,5 bulan dipekerjakan. Soal penggajian ia tidak tahu pasti, karena dijanjikan oleh majikannya akan diberikan gaji tiap enam bulan sekali.
“Apa dosaku, kenapa nasibku selalu mendapatkan majikan jahat. Anak (majikan) yang paling kasar, saya bisa stres kalau terus-terusan disini. Saya tidak mau jadi orang gila, kita tidak bisa duduk istirahat di sini, kalau ketahuan sedang duduk, langsung dipukul dan dikatai kasar, saya sudah tidak tahan di sini, saya ingin pulang,” katanya lirih.
Sriwati mengaku keadaanya saat di Suriah serba salah. Dia ingin lari dari majikan tempatnya berkerja, tapi ia khawatir dengan keselamatan dirinya. Sebab di negara itu tengah dilanda kekacauan, konflik perang saudara yang berkepanjangan. Desing peluru dan ledakan bom sudah jadi santapan pendengaran setiap hari.

“Orang sini keras-keras, ingin berantem saja kerajaannya. Saya mau pergi ke Agen, tapi takut, karena di sana tempatnya bom yang meledak itu,” tuturnya sambil dia mengingatkan bahwa sebentar lagi dia mau menutup sambungan telepon, karena takut diketahui majikan.

Ia sendiri mengaku tengah bersumbunyi di toilet saat terhubung dengan Global FM Lombok.

Harapan paling besar diinginkan Sriwati saat ini adalah ingin pulang ke kampung halaman, kembali berkumpul bersama keluarga. Alasan itulah satu-satu yang bisa menguatkan dirinya hingga sekarang bisa bertahan menjalani drama kehidupan sebagai TKW non prosedural di Suriah.

Baca Juga : TKW Asal Bima yang Terjebak Perang di Irak Tiba di Indonesia

“Saya tidak peduli digaji atau tidak, saya ingin pulang, bertemu anak-anak saya, dalam keadaan sehat, saya tidak mau seperti teman saya di sini dari Banyuwangi, dia sudah miring (tidak waras) karena sering disiksa,” ujarnya di ujung telpon sambil terisak menangis. Ia mengingat ingat kembali larangan suaminya dulu agar tidak pergi lagi sebagai TKW, akan tetapi Sriwati tetap bersikeras ingin pergi.

Puluhan Terjebak di Suriah 

Menurut Sistem Infografis Pelayanan Perlindungan dan Pemberdayaan BP3TKI Mataram, data penanganan permasalahan PMI Nonprosedural asal Provinsi NTB di Suriah hingga tanggal 4 November 2019, berjumlah 34 kasus. Sedangkan data pelayanan kepulangannya berjumlah 22 orang.

Tingginya jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) non prosedural asal Provinsi NTB, membutuhkan koordinasi yang intensif dengan stakeholder terkait dan pelayanan perlindungan yang lebih kompleks, baik dari pelayanan penanganan permasalahan maupun fasilitasi pemulangannya.

Baca Juga : Kasus Meninggalnya Empat TKW Asal Lombok di Saudi, NTB Ingin Tempuh Jalur Hukum

Seperti diketahui, Pemerintah melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 260 tahun 2015 telah melakukan penghentian dan pelarangan PMI pada pengguna perseorangan di negara-negara kawasan Timur Tengah, salah satunya adalah negara Suriah. Namun masih banyak warga NTB yang menembus masuk dan berada di Suriah untuk bekerja.

Shelter KBRI di Damaskus pun didominasi WNI asal Provinsi NTB. Kondisi ini juga didukung dengan masih banyaknya “sponsor” yang memfasilitasi keberangkatan WNI ke Suriah. Biaya yang dikeluarkan pengguna untuk mengambil pekerja migran asal Indonesia senilai 8.000 sampai 10.000 USD dan hampir setengah dari biaya tersebut masuk ke sponsor di Indonesia.(ndi/ars)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

1 Komentar

  1. Aktor Lintas Negara di Pusaran Perdagangan Orang asal NTB | Global FM Lombok30 December 2019, 10:21 at 10:21 am

    […] By: Global FMOn: 29 December 2019, 18:08 Aktor Lintas Negara di Pusaran Perdagangan Orang asal NTBReviewed by Global FMonSunday, December 29th, 2019.This Is Article AboutAktor Lintas Negara di Pusaran Perdagangan Orang asal NTBMataram (Global FM Lombok)  – Sriwati, pekerja migran Indonesia yang dipekerjakan di Suriah. Sriwati awalnya berangkat untuk bekerja di Uni Emirat Arab. Keluarga korban dibujuk pakai duit belanja, kemudahan ibadah umrah, dan gaji tanpa potongan. Kasus Sriwati adalah salah satu contoh perdagangan manusia yang melibatkan aktor lintas negara. Ada 37 kasus yang serupa Sriwati. Diperkirakan […]PrevNext […]

Leave a Reply