Catatan Pendidikan 2019, ‘’Link and Match’’, Masih Jadi Tantangan Serius

llustrasi peserta didik di NTB (Global FM Lombok/dok)

Mataram (Global FM Lombok) – Presiden Joko Widodo melantik Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Tidak saja menampilkan wajah baru sang menteri, Presiden Joko Widodo juga merombak nomenklatur sejumlah kementerian. Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi kini bergabung kembali ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Otomatis Kemendikbud kini juga mengurus bidang pendidikan tinggi.

Bergabungnya Kemenristekdikti ke Kemendikbud bukanlah hal baru. Sebelumnya, dua kementerian ini pernah bersatu. Namun di tengah jalan kembali berpisah dan kini bersatu lagi. Civitas akademika di perguruan tinggi tidak merasa kaget atau ada hal aneh dengan penggabungan ini. Pasalnya bergabungnya kembali seolah tengah pulang ke rumah sendiri.

Wakil Rektor I Universitas Mataram Dr. Agusdin, menyambut baik penggabungan ini. Dia menilai positif adanya penggabungan dua kementerian ini. Menurutnya, tidak ada yang berbeda sejauh ini. Tidak ada hal mendasar berpengaruh ke universitas setelah pendidikan tinggi kembali diurus Kemendikbud.

Hal berbeda hanya terletak pda jumlah direktorat jenderal di lingkup Kemendikbud saja. Sementara yang lainya tidak terdapat perbedaan yang serius. Semua proses perkuliahan berjalan sama saja dan tidak mengalami perubahan.

Baca Juga : Gubernur NTB Jajaki Kerja Sama Bisnis dan Pendidikan dengan Denmark

Sementara itu, Pemerhati Pendidikan Dr. Asrin, M.Pd., melihat di luar urusan penggabungan tersebut, aspek substantif dari penggabungan ini ialah kemampuan menteri baru menjawab tantangan link and macth antara dunia pendidikan dengan dunia kerja.

Menurut Asrin, terbangunnya link and match ini menjadi sangat penting di tengah angka pengangguran yang didominasi kaum terdidik. Tidak terbangunnya link and macth dengan kebutuhan pasar kerja menjadi pekerjaan serius yang harus dipikirkan menteri baru.

Mengutip data Badan Pusat Statistik NTB, dia menyebut jumlah pengangguran di NTB dalam satu tahun terakhir bertambah sebanyak 1.260 orang karena masih terbatasnya kesempatan mendapatkan peluang kerja sesuai dengan bidangnya.

‘’Selain itu tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga masih tinggi. Angka tertinggi terdapat pada penduduk dengan pendidikan tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK), yaitu sebesar 9,63 persen,’’ katanya.

Sementara jika dilihat dari tingkat pendidikan, pada Agustus 2019, TPT untuk penduduk dengan pendidikan tertinggi SMK paling tinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 9,63 persen. TPT tertinggi berikutnya terdapat pada Diploma I/II/III sebesar 6,66 persen, diikuti sekolah menengah umum sebesar 6,07 persen.

Masih tingginya angka pengangguran itu sebutnya, tidak terlepas dari belum link and match-nya antara apa yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan pasar. Termasuk adanya jurusan yang dibuka, tetapi justru tidak dibutuhkan pangsa pasar.

Guru Besar FKIP Unram Prof. H. Mahyuni, menilai problem pendidikan saat ini karena masih adanya ego sektoral. Kampus berjalan dengan egonya sendiri. Begitu juga pemerintah daerah berjalan sendiri. Hasilnya ialah tidak adanya link and match di dalam proses itu. Dampaknya, saat daerah membutuhkan tenaga SDM, kampus belum mampu menyiapkan SDM yang dibutuhkan daerah.

‘’Jadi link and match itu hanya jargon di tataran teoritis tidak dilaksanakan dengan baik,’’ kata Mahyuni. Ia menjelaskan, ketika kewenangan otonomi daerah diberikan, harusnya daerah dari segala sisi mampu memetakan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi. Termasuk juga kemudian bagaimana persoalan itu dijawab dengan pemenuhan kebutuhan dari segi SDM.

Baca Juga : Kunjungi KBRI di Malaysia, Gubernur NTB Harapkan Dukungan Beasiswa Pendidikan dan Pariwisata

Selain persoalan belum maksimalnya koordinasi pemerintahan daerah dengan perguruan tinggi, Mahyuni menyebut pemerintah pusat juga bertindak seringkali tidak melihat kebutuhan daerah. Selama ini perencanaan belum matang dan hanya bersifat insidentil semua.

Dia pun menyarankan agar pemerintah membuat rencana strategis pembangunan pendidikan untuk jangka waktu 100 tahun ke depan. Selain itu dia mengkritik terputusnya program kerja pimpinan karena berganti pucuk pimpinan. Hal demikian menghambat upaya membangun pendidikan. Hal demikian merupakan dampak dari belum adanya sistem yang pasti. Sehingga siapapun pimpinannya, program kerja yang telah dibangun tidak terputus.

Lebih jauh Mahyuni memberikan contoh bagaimana link and match antarbanyak lembaga juga belum terbangun di NTB. Padahal sesama lembaga yang mengurus soal pendidikan, hal itu tidak boleh terjadi. Misalnya koordinasi antara kampus dengan Dikbud atau Dikbud dengan BPPAUDNI. Lembaga-lembaga itu tidak boleh terputus koordinasinya. Sehingga persoalan besar link and macth dalam dunia pendidikan bisa terjawab dan tentu saja tidak mengorbankan anak didik dan mahasiswa yang berharap banyak pada institusi pendidikan ini.

Wakil Rektor I Unram, Dr. Agusdin, menjelaskan jika aspek link and match adalah hal dasar bagi pihaknya sebelum membuka suatu jurusan atau program studi. Jika suatu kampus ingin membuka Prodi, tentu sebutnya haruslah didasari kebutuhan masyarakat. Jadi tidak asal membuka saja.

Dua kampus di luar domisili milik Unram yang terletak di KLU dan Bima juga lahir dari adanya kebutuhan masyarakat setempat yang menginginkan adanya kampus di daerah itu. Sehingga link and match dengan kebutuhan masyarakat tetaplah jadi hal utama sebelum membuka program studi. Selain itu Agusdin menjelaskan untuk membuka prodi yang lain setiap prodi yang dibuka di Unram sudah melalui tahapan survei. Jadi apa yang kita buka itu sudah ada kajian akademik yang komprehensif. Di samping itu, pembukaan suatu Prodi dipertimbangkan karena faktor minat. Kalau tidak ada yang minat pasti Prodi tersebut sudah ditutup. (dys)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

2 Komentar

  1. Aturan PPDB Zonasi Baru, Dinilai Bikin Sekolah Swasta Semakin Terpuruk | Global FM Lombok10 January 2020, 09:24 at 9:24 am

    […] Baca Juga : Catatan Pendidikan 2019, ‘’Link and Match’’, Masih Jadi Tantangan Serius […]

  2. Tidak Penuhi Nilai saat Evaluasi, Kepsek akan Diganti | Global FM Lombok3 January 2020, 14:59 at 2:59 pm

    […] Baca Juga : Catatan Pendidikan 2019, ‘’Link and Match’’, Masih Jadi Tantangan Serius […]

Leave a Reply