Butuh Komitmen Bersama Jadikan LIA Berstandar Internasional


Kunjungan masyarakat di dalam bandara. (Global FM Lombok/bul)

Mataram (Global FM Lombok) – Angkasa Pura I dihadapkan pada tantangan yang tidak kecil dalam pengelolaan Lombok Internasional Airport. PR yang tidak sederhana adalah menumbuhkan kecintaan masyarakat kepada bandaranya yang notabene menjadi wajah NTB di mata dunia. Sejak beroperasi perdana tahun 2011 lalu hingga saat ini, menjadikan LIA agar ia menjadi bandara yang memenuhi standar internasional tidak sederhana.

Lumrah mendengar tamu-tamu yang berkunjung ke NTB menyoal ketertiban di LIA. General Manajer PT. Angkasa Pura I selaku otoritas pengelola LIA, Nugroho Jati tak menampikkan hal itu. Januari 2019, sejak pindah PT. AP I Bandara Lombok dipotret, sekaligus pemetaan apa saja pembenahan yang harus dilakukan di lingkungan bandara dan di luar bandara.

Beberapa persoalan itu misalnya, pedagang kaki lima. Jumlah pedagang asongan ini menjamur di LIA. PT. Angkasa Pura I telah menyediakan lokasi khusus di sayap barat bandara. Kata Jati, awalnya disepakati untuk 60 pedagang. Namun faktanya, jumlah pedagang di bandara tak terkendali. “Semua mengaku menjadi pedagang. Kami sebagai pengelola bandara, tentu tidak bisa dituntut untuk menyediakan fasilitasnya. Karena tidak ada hubungan kemitraan di luar jumlah yang sudah disepakati,” ujarnya.

Orang nomor satu di pengelolaan LIA ini mengatakan, ia juga kerap menerima keluhan dari konsumen pengguna jasa bandara atas situasi ini. Keluhan dari pengguna jasa inipun menurutnya jauh lebih berat dihadapinya. Lalu soal kunjungan ke bandara yang kerap menjadi perhatian pengguna jasa, terutama soal pengantaran dan penjemputan keluarga di bandara. TKI, maupun haji dan umrah.

“Saya pernah cek langsung. Yang diantar dua orang, yang ngantar 40 orang. Dan bandara dijadikan tempat berwisata, mau lihat pesawat,” paparnya. Ia tentu tak bisa melarang masyarakat masuk ke objek vital negara ini. Namun persoalan yang dihadapi, penjemput atau pengantar yang berduyun-duyun ke bandara menggunakan kendaraan pick up yang nyata-nyata menyalahi undang-undang keselamatan berlalu lintas.

“Banyak juga yang nabrak rambu-rambu yang kami pasang. Seharunya menggunakan jalur masuk, tapi melewati jalur ke luar. Ini kan berisiko juga bagi orang lain,” imbuhnya. Persoalan-persoalan ini menyisakan banyak hal. Misalnya, sampah dan amburadulnya penataan taman dan fasilitas umum yang ada di dalam bandara. Sampah yang dibawa oleh pengunjung, tidak dikelola dengan baik. Ditempatkan pada tempat yang seharusnya. Dan itu kemudian menjadi potret bagi tamu-tamu yang datang ke NTB, kemudian disimpulkanlah tentang NTB.

“Kepada siapa kami mengadu. Kami hanya meminta, kita sama-sama jaga bandara ini. Tertib-tertiblah. Kami ingin mengajak masyarakat, mari kita bersama-sama membangun daerah,” imbuhnya. Persoalan lain yang juga tak sederhana terkait transportasi umum. Ada pembatasan layanan dari oknum-oknum tertentu kepada penyedia transportasi umum lainnya. Jati telah membangun komunikasi dengan seluruh elemen. Dari lingkungan sekitar bandara, pemerintah desa, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama mencintai bandara.  Saling mengedukasi masyarakat tentang pentingnya bandara.

Secara pengelolaan, terminal di dalam bandara sudah dipastikan 100 persen berstandar internasional. Yang masih menjadi PR adalah luar terminal 50 persen belum dikatakan standar bandara internasional. Butuh kesadaran bersama. “saya rasa kalau kita komitmen, dua tahun bandara internasional lainnya,” demikian Nugroho. (bul)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply