Penggunaan Merkuri di PETI, FK Unram Temukan Sejumlah Kasus Kelainan Bawaan Pada Bayi

Bekas galian tambang PETI di Sekotong. ( Suara NTB/dok)

Mataram (Global FM Lombok)- Tim dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Mataram menemukan sejumlah kasus kelainan bawaan pada bayi yang baru lahir di wilayah Sekotong, Lombok Barat dan di Sumbawa sebagai akibat dari penyebaran merkuri di daerah tersebut. Merkuri menyebar lantaran digunakan dalam aktifitas Penambangan Tanpa Izin atau PETI di sejumlah titik. Kelainan bawaan berupa cacat fisik dalam berbagai jenis yang mengkhawatirkan.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mataram  dr. Hamsu Kadriyan kepada wartawan di Mataram, Kamis (23/5) malam kemarin mengatakan, temuan kasus itu muncul setelah tim dari FK Unram melakukan riset belum lama ini di Sekotong dan di Sumbawa. Lokasi wilayah yang diteliti yaitu di kawasan tambang emas yang dilakukan oleh masyarakat.

“ Ada beberapa dampak yang kita lihat atau temukan dalam riset tersebut, antara lain ada beberapa kelainan bawaan yang kita temukan, misalnya anak-anak yang baru lahir cacat, tidak ada jari-jarinya, kemudian ada yang tidak ada anusnya ya. Kemudian ada yang tidak bisa mendengar pada saat lahir, dan setelah dewasa tentu akan menjadi masalah baik sosial maupun perkembangan yang lain,” kata Hamsu Kadrian.

Hamsu Kadriyan mengaku, riset yang dilakukan oleh FK Unram ini sifatnya masih sekala kecil dan sporadis, namun sudah bisa menggambarkan dampak buruk merkuri bagi manusia dan lingkungan sekitar. Ia mengapresiasi kerjasama antara PT. Amman Mineral dengan melibatkan Universitas Mataram  dan Nexus3 Fondation dalam hal pemantauan dan penanganan dampak lingkungan, kesehatan, sosial dan ekonomi di kawasan penambangan tanpa izin di NTB mulai tahun ini.

Kerjasama ini diharapkan mampu menghasilkan rencana aksi daerah untuk mendukung pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri dalam aktifitas penambangan sesuai dengan arahan pemerintah.(ris)-

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply