Pengelolaan Sampah di NTB Bisa Modifikasi Pola Pemkot Bandung

Humas dan Protokol Pemprov NTB bersama media sedang berdialog bersama dengan Pemkot Bandung terkait dengan program Zero Waste

Bandung (Global FM Lombok)-Persoalan sampah menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi banyak daerah di Indonesia, tidak terkecuali Provinsi NTB. Selain model pengelolaan sampah di TPS Terpadu Bantargebang, Provinsi NTB bisa mengadopsi sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung. Di ibukota Provinsi Jabar ini sedang diterapkan sejumlah program pengurangan produksi sampah serta pengelolaannya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov NTB Najamuddin Amy bersama media dari Mataram melakukan studi komparasi dengan Pemkot Bandung, Kamis (25/4). Najamudin mengatakan, total sampah di NTB mencapai 3,388 ton per hari. Dari jumlah tersebut, hanya 20 persen saja yang sampai kempat pembuangan akhir (TPA) per hari. Artinya sekitar 80 persen sampah tidak dikelola atau dibuang sembarangan serta dibakar. Karena itu dibutuhkan strategi yang baik untuk mengelola sampah di NTB.

“Kita berharap sepulang dari sini, bisa menyampaikan informasi betapa pentingnya mengelola sampah. NTB bisa melakukan ATM, amati, tiru dan modifikasi, program pengelolaan sampah yang dilakukan Bandung,” ujar Najamuddin.

Najamuddin mengatakan, Pemprov NTB sedang menggencarkan program zero waste atau bebas sampah. Oleh karenanya penting bagi NTB melihat apa yang sudah dilakukan daerah lain, salah satunya Bandung.

Seksi Edukasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung Syahriani mengatakan, Pemkot Bandung telah memiliki perda nomor 9 tahun 2018 tentang pengelolan sampah. Disini sedang digencarkan program “Kang Pisman” yang merupakan akronim dari kurangi sampah makanan,  pilah sampah dan manfaatkan sampah menjadi nilai jual sejak Oktober 2018.

Syahriani mengatakan, Jawa Barat masih memiliki ingatan kelam akibat tragedi longsoran di TPA Leuwigajah yang mengakibatkan 157 jiwa meninggal dunia pada 2005. Pun dengan sungai Citarum yang kerap dipandang sebagai tong sampah terbesar di dunia. Karena itu, upaya-upaya konkrit sedang digalakkan untuk mengatasi masalah sampah dari hulu.

Produksi sampah warga Kota Bandung berkisar 1.500 ton hingga 1.600 ton per hari, dan 1.200 ton hingga 1.300 ton diangkut ke TPA Sarimukti. Dia melanjutkan, TPA Sarimukti yang merupakan milik Pemprov Jawa Barat diperkirakan akan mencapai daya tampung maksimal pada 2020.

Syahriani mengatakan Pemkot Bandung memiliki perusahan daerah (PD) Kebersihan yang memiliki tugas khusus pengelolaan sampah rumah tangga dan komersial. Dalam pengelolaan sampah, PD Kebersihan mengangkat 95 orang yang berasal dari komunitas lingkungan hidup sebagai pegawai harian lepas. Para PHL ini terjun di lapangan guna mendampingi masyarakat dalam memilah sampah rumah tangga. Ditargetkan, satu RW di satu kecamatan dapat menjadi contoh pengelolaan sampah.

Pranata Humas Dinas Pendidikan Pemkot Bandung Irvianti mengatakan edukasi pemilahan sampah juga dilakukan sejak dini dari tingkat SD dan SMP.  “Bank sampah diwajibkan di seluruh SD dan SMP,” ucap Irvianti.

Irvianti menyebutkan, Pemkot Bandung juga memiliki regulasi yang mengatur tentang hal ini, termasuk sosialisasi kepada siswa untuk menggunakan tumbler dan kantin di SMP untuk tidak menggunakan bahan sekali pakai. Sementara untuk bank sampah saat ini sudah terdapat sebanyak 100 bank sampah di SMP yang ada di Kota Bandung.(ris)

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply