Bersama Mahfud MD, Tokoh Lintas Agama, Etnis dan Ormas di NTB Bicara Kebangsaan

Di acara Sarasehan Kebangsaan

Mataram (Global FM Lombok)- Gerakan Suluh Kebangsaan melanjutkan kegiatan roadshow ke sejumlah daerah di Indonesia. Kali ini gerakan yang dipimpin mantan Ketua MK Prof. Mahfud MD itu menggelar acara Sarasehan Kebangsaan di Mataram, Selasa (12/2). Hadir sejumlah tokoh lintas agama, lintas etnis dan ormas guna memberikan pandangannya tentang meneguhkan nilai kebangsaan di Indonesia.

Hadir sebagai pembicara Prof. Dr Mahfud MD, Ketua PW Muhammadiyah NTB H Falahuddin, Ketua PW NU NTB Prof.DR Masnun, Pengurus Wilayah NW NTB Dr. Fakhrurrozi, Dr H Khirjan Nahdi dan jumlah tokoh NTB lainnya. Tak ketinggalan juga, sejumlah tokoh agama Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Budayawan, akademisi, cendikiawan, TNI/Polri dan media juga memenuhi acara tersebut.

Dalam pengantarnya, Mahfud MD mengatakan, di setiap daerah, Gerakan Suluh Kebangsaan akan mengundang tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh yang kuat di dalam komunitasnya. Merekalah nanti yang akan berbicara kepada kelompok atau komunitasnya terkait pentingnya menjaga keutuhan NKRI. Ia berpesan agar jangan sampai agama dijadikan alat untuk memecah belah umat yang selama ini sudah solid.

Mahfud menegaskan, agama bukanlah sumber konflik yang terjadi selama ini. Justru agama-lah yang mengajarkan konsep kemanusiaan yang adil dan beradab serta melindungi kelompok minoritas.

Jangan Besar-besarkan Politik Identitas dalam Pemilu

Mahfud MD juga meminta masyarakat untuk tidak membesar-besarkan politik identitas di momentum pemilu 2019 ini. Politik identitas yang terlalu ditonjolkan dapat memicu konflik di tengah masyarakat.

“ Jangan sampai membesar-besarkan politik identitas, misalnya karena beda agama, karena bedea ras, beda suku. Kita memilih berdasarkan itu boleh saja, namun jangan sampai menjadi pemicu untuk konflik. Begitu selesai pemilu ya bersatu lagi, karena negara ini dibangun sebagai negara demokrasi sebagai relultante, yaitu kesepakatan mengelola ini dilakukan secara bersama,” katanya.

Menurutnya, masyarakat yang sudah memiliki hak pilih sebaiknya tetap menggunakan hak pilihnya tanggal 17 April 2019 nanti. Karena golput tidak akan menyelesaikan persoalan bangsa. Dengan terlibatnya masyarakat dalam pemilu, masyarakat sudah memberi andil di dalam demokrasi.

Mahfud MD mengatakan, golput berdasarkan hasil survei terbaru menunjukkan adanya tren penurunan. Jika di Pemilu sebelumnya golput sebesar 20 persen lebih, kini diprediksi sekitar 14 persen. Masyarakat memang sebaiknya tetap menggunakan hak pilih, karena dalam demokrasi tidak akan ada calon pemimpin yang ideal, namun hanya ada calon pemimpin yang lebih baik dari yang lain.(ris)

 

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply