Ramadan, Inflasi di Bulan Mei 2018 Diproyeksi 0,7 Persen

Inflasi ( ilustrasi)

Mataram (Global FM Lombok)- Menjelang bulan Ramadan, harga berbagai kebutuhan pokok masyarakat biasanya mengalami peningkatan. Hal itu menjadi pemicu terjadinya puncak inflasi sepanjang tahun. Akan tetapi, inflasi Kota Mataram di bulan Mei ini diproyeksi hanya 0,3 sampai 0,7 persen. Hal itu karena adanya beberapa upaya yang akan dilakukan pemerintah, seperti menggelar pasar murah serta menginformasikan kondisi ketersediaan stok kepada masyarakat. Adapun inflasi pada bulan April lalu sebesar 0,25 persen.

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Effendi Eko Saswito didampingi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram, Isya Anshori di ruangannya, Jum’at (4/5) usai Rakor persiapan Ramadan.  Menurut Sekda, stok sembako di Mataram, baik itu beras, gula pasir, minyak goreng dan sembako lainnya tetap aman hingga beberapa bulan ke depan. Karenanya, masyarakat tidak perlu panik, apalagi sampai melakukan penimbunan sembako.

“0,25 persen inflasi sampai April.  Proyeksi sampai bulan Ramadan 0,3-0,7 persen.  Diharapkan  tidak sampai di atas itu.  Ada bereberapa hal yang akan dilakukan apabila ada dijumpai kecendrungan kenaikan harga akan diintervensi melalui pasar murah.  Selain itu akan informasikan kepada warga tentang kondisi stok yang ada agar masyarakat tidak panik tentang kondisk stok.  Karena dari Rakor kita, stok aman sampai beberapa bulan ke depan. Jadi tidak akan ada kelangkaan”,katanya.

Sementara itu, Kepala BPS Kota Mataram, Isya Anshori mengatakan, inflasi di bulan April relatif stabil. Hal itu dipicu oleh menurunnya harga beberapa komoditas, diantaranya adalah kelompok bahan makanan seperti beras dan umbi-umbian sebesar 2,33 persen. Di satu sisi, ada kenaikan harga yang cukup tinggi di komoditas daging sapi maupun daging ayam ras yang mencapai 5,72 persen. Akan tetapi, yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana agar inflasi di bulan Ramadan tidak meningkat. Meningat konsumsi masyarakat di bulan Ramadan juga mengalami peningkatan.

“Kalau konsumsi masyarakat meningkat sementara harga tinggi itu bisa mengganggu konsumsi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa”terang Isya. (dha)-

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply