Pengungsi Ahmadiyah Pilih Rumah Khusus, Tak Mau Ikut Transmigrasi

Erni, pengungsi Ahmadiyah

Mataram (Global FM Lombok)- Pengungsi Ahmadiyah yang kini masih tinggal di Asrama Transito Majeluk Kota Mataram diberikan tiga opsi oleh pemerintah pusat agar bisa keluar dari lokasi penampungan itu. Tiga opsi yang ditawarkan itu adalah diikutsertakan dalam program transmigrasi, tinggal di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) atau tinggal di rumah khusus yang akan dibangunkan oleh pemerintah. Namun para pengungsi Ahmadiyah lebih tertarik pada opsi rumah khusus yang ditawarkan oleh pemerintah tersebut.

Erni, seorang pengungsi Ahmadiyah di Asrama Transito kepada Global FM Lombok, Kamis (22/2) mengatakan, keluarganya memilih tetap tinggal di Lombok, sehingga tidak ingin ikut transmigrasi sebagaimana kesempatan yang diberikan oleh pemerintah. Kalaupun ada pilihan akan diberikan rumah khusus, dia akan mengambil kesempatan itu untuk menjalani hidup yang lebih layak.

“ Kalau masalah tawaran transmigrasi, rumah susun saya belum tahu. Soalnya saya  ikut suami saja. Katanya sih lebih baik rumah khusus itu saja, kalau memang disuruh nunggu, nunggu saja” kata Erni, Kamis (22/2).

Erni mengatakan, pengungsi Ahmadiyah di Transito Majeluk selama ini tak pernah mendapatkan bantuan layaknya pengungsi. Selain itu, hak-hak masyarakat kurang mampu seperti beras sejahtera, kompor gas 3Kg gratis, kartu pintar dan bantuan sosial lainnya tak pernah didapatkan. Namun belakangan ini muncul kabar yang menggembirakan, dimana pengungsi Ahmadiyah dijanjikan akan segera mendapatkan bantuan-bantuan sosial tersebut. Ia berharap, informasi tersebut bisa cepat direalisasikan.

Sebelumnya, Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang mengatakan, sebanyak 144 jiwa jemaat Ahmadiah di Asrama Transito akan segera mendapatkan bantuan sosial. Setelah pemerintah menerima data pengungsi, Kantor Sekretariat Kepresidenan akan menyerahkan data tersebut kepada Kementerian Kesehatan untuk  pembuatan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kemudian ke Kementerian Pendidikan agar anak-anak di tempat penampungan mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP), serta Kementerian Sosial untuk mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Sementara itu, ada tiga pilihan yang ditawarkan oleh pemerintah yaitu tinggal di Rusunawa, transmigrasi atau tinggal di rumah khusus yang dibuat pemerintah pusat. Namun sejauh ini belum dijelaskan, dimana lokasi rumah khusus tersebut dibangun.(ris)

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply