Polda NTB Kirim Satu Kompi Brimob ke Papua

Kapolda NTB, Firli melepas satu Kompi Brimob Polda NTB dikirim ke Timika, Papua untuk bertugas pengamanan Satgas Amole II.

Sebanyak  100 personel setara satu kompi Brimob Polda NTB dikirim ke Timika, Papua. Mereka berdinas dalam Satuan Tugas Amole II pengamanan objek vital tambang Grasberg PT Freeport Indonesia selama empat bulan.

Kapolda NTB, Brigjen Pol Firli menjelaskan, kondisi geografis dan demografis Papua punya karakteristik tersendiri sehingga menuntut kualifikasi personel yang mumpuni, dalam hal ini Brimob. “Brimob Polda NTB dipercaya Mabes Polri untuk melaksanakan tugas pokok kepolisian dalam rangka memelihara ketertiban dan keamanan sebagai satgas pengamanan di wilayah Papua,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Papua memiliki hutan lebat dan iklim yang cukup ekstrim. Begitu juga dengan masih adanya potensi serangan dari kelompok-kelompok separatis bersenjata.“Anggota juga akan menghadapi kelompok yang walaupun kecil tetapi ingin memisahkan diri dari NKRI. Tentu ini ancaman disintegrasi bangsa,” terangnya.

Jenderal bintang satu itu berpesan, setiap anggota Polri harus siap ditempatkan di manapun, termasuk ke daerah rawan.“Polri harus hadir di setiap kegiatan masyarakat. Di keramaian, tempat aktivitas ekonomi, dan kegiatan dengan intensitas tinggi,” kata Firli.

Satu Kompi Brimob Polda NTB itu akan bergabung di bawah komando Polda Papua dalam Satgas Amole II selama empat bulan ke depan.  Mereka akan bertugas dari 10 September 2017 sampai Januari 2018 bersama dengan kompi Brimob Polda Sumatera Barat. “Suasana di Papua aman, tidak ada gejolak apapun. Kehadiran kita di sana untuk memastikan bahwa tidak ada wilayah Indonesia yang tidak aman,” terangnya.

“Penempatan anggota di sana juga karena ada aktivitas kegiatan perekonomian objek vital nasional,” kata Kapolda merujuk pada lokasi pertambangan PT Freeport Indonesia.

Komandan Kompi Brimob Polda NTB Satgas Amole II, AKP Dedy A Puhiri mengatakan, ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesehatan dan keselamatan personel yang dipimpinnya selama empat bulan di Papua. “Kita di sana jauh dari keluarga. Banyak cobaan dan godaan. Kita berharap diberikan keselamatan. Itu saja. Mereka meninggalkan anak istri. Berangkat 100 pulang harus 100 juga,” ujarnya.

Lulusan Akpol 2007 itu menambahkan, pihaknya dalam bertugas berpedoman pada aturan Undang-undang serta prosedur tetap yang dimiliki kepolisian bilamana konflik sewaktu-waktu meletus. Ia menyadari daerah yang akan ditujunya itu termasuk rentan konflik. Tetapi menurutnya untuk itulah dirinya ditugaskan.“Tetap sesuai aturan. Kita berusaha melaksanakan tugas dengan humanis, baik kita berhubungan dengan orang, kita pulang dengan selamat,” ujarnya. (why)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply