Kredit Bermasalah BPR NTB Masih Jadi Sorotan Dewan

H Muzihir

Mataram (Global FM Lombok)-  NPL atau kredit bermasalah di PD Bank Perkreditan Rakyat (BPR) NTB di tahun 2016 mencapai angka 7,79 atau lebih dari 5 persen ambang batas maksimum yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Komisi III Bidang  keuangan DPRD NTB meminta agar  hal ini menjadi perhatian manajemen dengan melakukan manajemen kredit yang tepat. Selain selalu memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, proses pengawasan dan pembinaan kredit juga harus selalu dilaksanakan.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Komisi III DPRD NTB H Muzihir dalam acara Rapat Paripurna DPRD NTB dengan agenda laporan komisi-komisi atas pembahasannya terhadap Laporan Keuangan APBD 2016 yang berlangsung di kantor DPRD NTB, Rabu (12/7). Muzihir mengatakan, komite kredit yang ada di BPR NTB harus membuat peta permasalahan kredit sehingga mampu mengatasi masalah NPL secara terukur dan sistematis.

Meski NPL menjadi sorotan, namun sampai bulan Desember tahun lalu, nilai Capital Adequacy Ratio PD BPR NTB menunjukkan nilai yang cukup baik karena berada di atas 8%. Dari hasil perhitungan rasio LDR atau rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas selalu melebihi 110% yang menujukkan tingkat likuiditas BPR NTB berada lebih dari nilai maksimum. Sementara Return of Aseet (ROA ) atau laba bersih BPR NTB pada tahun 2016 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya artinya bahwa profitabilitas bank mengalami penurunan.

Rasio Kecukupan Modal dan LDR Bank NTB Bagus, Pembiayaan Masih Konsumtif

Sementara itu Rasio kecukupan modal atau rasio CAR di  PT bank NTB selam tahun 2016 lalu dipandang sangat baik yaitu 31,17% atau dengan kata lain lebih besar dari 8% yang menjadi standar minimal yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Selain itu rasio pinjaman terhadap simpanan atau LDR yang memiliki nilai 96,87% juga mencerminkan ketersedian dana yang cukup oleh Bank NTB.

Muzihir  mengatakan, sampai dengan akhir tahun 2016, jumlah aset yang dimiliki oleh Bank NTB adalah sebesar 7,6 Triliun rupiah yang terdiri dari sebaran pos aset atau aktiva, baik yang berbentuk kas, kredit, maupun aset tidak bergerak.Adapun jumlah total dana dari masyarakat yang mampu dikumpulkan sampai dengan tahun 2016 adalah sebesar 5,2 triliun rupiah yang berbentuk giro, tabungan dan deposito. Namun untuk pembiayaan yang disalurkan, masih didominasi oleh pembiayaan konsumtif.

Muzihir mengatakan, yang perlu mendapat perhatian serius dari pihak manajemen bank adalah penurunan rasio profitabilitas yang tercermin dari penurunan rasio Return on Asset dan Return on Equity setiap tahunnya. Penurunan kedua rasio tersebut menunjukkan kemampuan bank dalam mendapatkan profit baik menggunakan aktiva yang dimilikinya maupun modal, selalu menurun tiap tahunnya. (ris)

 

 

 

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply