Pemda Diminta Terapkan Hasil Riset Kampus Terkiat Pertanian

kedelai

Mataram (Global FM Lombok)- Kecenderungan penggunaan kedelai impor oleh para perajin tahu tempe di Provinsi NTB harus menjadi atensi pemerintah daerah. Sebenarnya hasil riset atau penelitian yang dilakukan oleh kalangan kampus di NTB sudah sangat banyak terkait dengan produksi pertanian, termasuk varietas kedelai. Jika pemerintah mau mengambil hasil riset mereka, tentulah banyak varietas kedelai unggulan yang bisa dihasilkan oleh petani lokal yang kualitasnya tidak kalah dengan kedelai impor.

Hal itu disampaikan oleh anggota Komisi II Bidang Pertanian dan Perdagangan DPRD NTB Ir. Made Slamet, MM kepada Global FM Lombok terkait dengan naiknya harga kedelai dan kecenderungan penggunaan kedelai impor dalam bisnis tahu tempe lokal. Made Slamet menilai hasil penelitian Fakultas Pertanian Unram dan kampus lainnya di NTB sudah waktunya diterapkan oleh pemerintah daerah agar memberi manfaat bagi petani dan masyarakat secara umum

“ Pemerintah belum memanfaatkan hasil dari temuan-temuan kampus terutama Unram, karena banyak ditemuakn oleh profesor dan doktor kita sebagai sebuah hasil penelitian.Variatas-varietas baru yang lebih unggul, lebih singkat pasti ada. Namun  ini kan tidak pernah kita bicarakan, sehingga apa yang menjadi temuan mereka ditaruh di lemari saja menjadi buku. Ini yang belum pernah kita manfaatkan,” kata politisi PDIP tersebut.

Made mengatakan, Provinsi NTB sebagai daerah pertanian memiliki potensi yang besar untuk pengembangan semua jenis produksi pertanian, tak terkecuali kedelai ini. Sehingga produk impor tidak lagi mendominasi atau setidaknya produsen tahu tempe di dalam daerah tidak terlalu bergantung pada kedelai impor.

“Kedelai ini sampai ada rekayasa genetika kan, perkawinan antara varietas ini dan itu untuk menyingkat waktu tanam dengan biji yang lebih besar. Mestinya ini yang diterapkan, namun saya belum melihat niat dari pemerintah bekerjasama dengan pihak kampus. Malu lah sebagai daerah yang punya potensi luar biasa, justru kita tergantung dari impor ini,” tambahnya.

Namun melihat realitas yang terjadi saat ini, menurutnya tidak bisa juga  mengecam pemerintah pusat. Dalam kondisi stok kedelai tidak mencukupi di dalam daerah, opsi yang dilakukan biasanya dengan impor untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun beda halnya ketika produksi kedelai melimpah dengan kualitas yang bagus, maka kedelai impor bisa dilawan oleh produksi lokal.

“Apabila mahal harganya kita yang marah, dalam kondisi seperti itu perlu juga impor, namun kita yang marah, ya  karena kita tidak pernah introspeksi. Kalau kita sudah surplus kamudian datang produk impor, kita bisa lawan,’ terangnya.

Made Slamet mengatakan, kedepannya Provinsi NTB sebaiknya tidak bergantung pada produk impor. Namun sebaliknya NTB bisa menyuplai produksi pertanian ke daerah-daerah lain karena seharusnya surplus.

Memang di satu sisi dia melihat adanya perubahan perilaku petani di lapangan. Mungkin saja hal ini dipengaruhi oleh ketidakpastian harga dan lainnya. Jika dulu setelah panen padi langsung ditanami dengan kedelai dan kacang-kacangan, namun sekarang cukup jarang petani melaksanakan pola itu.

“Saya masih melihat fokus pemerintah bukan ke sektor kedelai, karena padi saja yang difokuskan. Artinya diusahakan padi itu tiga kali dalam setahun, padahal dampak lebih lanjutnya kan kurang bagus. Mungkin terlalu kejar target padi sehingga abai dengan yang lain, padahal potensinya besar,”tambahnya.

Penanaman kacang-kacangan setelah panen padi memberi dampak yang bagus bagi struktur tanah. Di sisi lain, produksi kedelai, kacang hijau, kacang tanah atau jagung akan terpenuhi dengan penerapan pola tersebut.

“Selain kita lalai dengan pola tanam, juga lalai dengan penyesuaian harga. Tidak pernah bicara khusus mengenai petani kedelai ini, karena fokus pada padi atau beras. Karena kurangnya perhatian ini juga membawa dampak psikologi bagi petani, karena terabaikan tentu mereka abai untuk memproduksi, “ tutupnya.[ris]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply