Kemiskinan Jadi Pemicu Tingginya Kasus Gizi Buruk di NTB

gizi buruk ( ilustrasi)

Mataram (Global FM Lombok)—Kemiskinan dinilai menjadi salah satu pemicu tingginya kasus gizi buruk di Provinsi NTB. Pasalnya, banyak ibu yang meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja ke luar negeri karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Akibatnya, anak-anak yang ditinggalkan diasuh oleh neneknya yang rata-rata tidak berpendidikan tinggi. Sehingga seringkali terjadi kesalahan pola asuh. Di tahun 2016 lalu, kasus gizi buruk di provinsi NTB tercatat sebanyak 348 kasus yang tersebar di 10 kabupaten kota.
Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Nurhandini Eka Dewi usai pencanangan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), Rabu (29/3) di Mataram. Ia mengatakan, data kasus gizi buruk tersebut adalah data yang diperoleh dari puskesmas. Karena itu, dengan Germas yang dilakukan langsung melalui pendekatan keluarga, kemungkinan akan lebih banyak kasus gizi buruk yang ditemukan di tengah masyarakat.

“Gizi buruk itu ada faktor kemiskinan. Kemiskinan sebetulnya yang terbesar. Kita belum lihat persentasenya, kita belum pernah menghitung. Tapi kita lihat rata-rata kan memang masalah kemiskinan. Pola asuh itu kan antara lain ibunya jadi TKW. Diasuh oleh neneknya yang notabene pengetahuannya tidak bagus karena sudah tua. Dia jadi TKW itu kan karena kemiskinan, masalah ekonomi. Jadi itu tetap berperan besar sebetulnya”,katanya.
Ia mengatakan, faktor pola asuh ini sangat menentukan kesehatan anak. Sementara kondisi pendidikan ibu rumah tangga di NTB rata-rata adalah 7 tahun. Sekarang ini, tim kesehatan melalui Germas dan kader posyandu akan langsung mendatangi keluarga dari pintu ke pintu. Dengan tujuan untuk mengatasi kasus gizi kurang, sehingga ke depan yang ditangani adalah kasus gizi buruk karena memang memiliki riwayat penyakit seperti jantung bocor serta anak gangguan menelan.
“Kita harapkan tinggal itu pasien gizi buruk kita. Pasien yang terjadi karena pola asuh dan lainnya itulah yang sekarang kita tangani habis-habisan melalui pendekatan keluarga. Makanya kita juga ada MoU dengan pusat penelitian untuk mencari tau akar persoalannya”,ujar Eka. (dha)-

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply