Bahan Baku Pakan Mandiri Tersedia, Namun Butuh Intervensi Pemerintah

Ket Foto : Dari kiri ke kanan- Dr. Ir. Maskur, M.Si, Dr. Syamsuhaidi, M.S, Prof. K.G Wiryawan, M.Ag, Sc, Ph.D, dan Ir. Budi Indarsih, M.Agr, SC, Ph.D.

UPAYA memproduksi pakan unggas dan ikan secara mandiri sudah menjadi bahasan sejak lama. Usaha ini sangat penting dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pakan industri yang cenderung lebih mahal. Secara umum,potensi sumber daya lokal untuk membuat pakan mandiri di dalam daerah sudah tersedia, meskipun masih perlu ditingkatkan. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah mendorong pemerintah daerah untuk melakukan intervensi terhadap produksi pakan mandiri ini.

Fakultas Peternakan Universitas Mataram [Unram], akhir pekan lalu membedah peluang dan potensi produksi pakan mandiri dan pakan industri  di wilayah NTB. Pembahasan para ahli di bidang peternakan ini bisa saja menjadi bahan rujukan pemerintah daerah dalam merumuskan program kerja.

Ekbis NTB berbincang dengan Dekan Fakultas Peternakan Unram Dr. Ir. Maskur, M.Si dan sejumlah pengajar seperti Prof. K.G Wiryawan, M.Ag, Sc, Ph.D, Dr. Syamsuhaidi, M.S dan Ir. Budi Indarsih, M.Agr, SC, Ph.D terkait dengan peluang produksi pakan industri untuk memenuhi kebutuhan peternak dan pembudidaya perikanan.

Menurut Syamsuhaidi, pakan unggas dan ikan ini masih menjadi persoalan bagi peternak dan pembudidaya ikan di NTB. Fakultas Peternakan Unram sendiri sudah sering mengadakan penelitian terhadaap sumber pakan lokal baik di Lombok maupun di Sumbawa.

Bahan baku pakan seperti jagung, dedak, tepung ikan, serta sumber-sumber mineral sudah cukup. Namun yang menjadi persoalan adalah keberlangsungan produksi. Tepung ikan yang menjadi sumber protein pokok belum ada yang memproduksi, padahal limbah ikan pada musim-musim tertentu melimpah seperti teri rucah dan jenis lainnya.

Namun setidaknya sudah ada usaha di Lombok yang mengembangkan jenis pakan gulma sebagai sumber protein untuk unggas dan ikan yaitu Hivos. Hivos sendiri memproduksi biogas,  biogas itu memiliki ampas yang menjadi bahan baku pakan ternak tersebut.

“Diaplikasikan di Lombok Timur dan Lombok Utara sehingga banyak peternak membuat kolam-kolam ikan sekaligus untuk pakan ikan itu sangat membantu mereka. Yang kita latih juga membuat pakan secara mandiri itu, karena itu kandungan protein cukup tinggi, produksinya cepat. Ini hanya untuk konsumsi kelompoknya, hanya beberapa kelompok ternak yang sudah melaksanakannya,” kata Syamsuhaidi.

Ia mengatakan, jika melihat peluang dan potensi NTB untuk membuat pabrik pakan sangatlah besar. Karena kebutuhan pakan di daerah ini juga cukup besar. Bibit ayam yang masuk banyak sehingga banyak pula yang membutuhkan pakan. “Jika bisa mendirikan pakan ternak di sini,maka otomatis biaya yang dikeluarkan oleh peternak dan pembudidaya ikan akan berkurang,” ujarnya.

Selain sumber bahan baku seperti jagung, dedak, tepung ikan, sumber mineral kedelai yang potensinya terlihat, tenaga yang ahli  di bidang ini juga melimpah karena sarjana peternakan jumlahnya sangat banyak. Sementara pemasaran juga tidak akan sulit karena peternak yang membutuhkan pakan sangat banyak di daerah ini.

‘’Kami di Fakultas Peternakan ini sudah menginventarisir semua bahan pakan lokal. Maksudnya jenis, kandungan, nama dan kandungan nutrisinya. Jika tidak salah sudah 10 tahun lalu,’’ katanya.

Sementara itu Prof K.G Wiryawan mencoba menganalisis tantangan bahan baku untuk membuat pakan ternak mandiri atau pakan ternak skala industri di NTB. Untuk ketersediaan bahan baku, NTB sekarang ini sedang mengembangkan potensi jagung, namun ketersediaan jagung tidak bisa merata sepanjang tahun. ‘’Itu permasalahan pokoknya. Banyak sekali dalam satu bulan saat musim panen, namun pada periode berikutnya langka,’’ ujarnya.

Selanjutnya dari segi ketersediaan dedak, kebanyakan heuler atau penggilingan padi terutama di Pulau Lombok sudah dibayar terlebih dahulu oleh pembeli dari Bali. Sehingga ketersediaan dedak di dalam daerah menjadi sangat terbatas. ‘’Jadi heuler sudah dititipi uang terlebih dahulu untuk membeli dedaknya,’’ katanya. Selanjutnya bahan pakan sumber protein di Provinsi NTB belum ada yang bergerak menghasilkan tepung ikan yang berkualitas. ‘’Kalau dilihat dari bahan baku, untuk produsen pakan sendiri, itu kendalanya,’’ jelasnya.

Namun menurutnya, sangat penting untuk menginvetarisir potensi wilayah, misalnya jagung tersedia bulan apa saja ? Kemudian dedak bisa tidak perlu dijual ke Bali jika pemerintah berkomitmen untuk mendukung pendirian pabrik pakan di daerah ini. Jagung dan dedak masih tersedia, kalaupun impor tidak banyak. Ini tepung ikan yang harus ada industri pendukung yang spesifik menghasilkan tepung ikan untuk pabrik pakan ini, jadi tidak dikerjakan oleh pabrik pakannya. “Adapun sumber mineral, tulang itu banyak di RPH, bisa dibuat tepung dari sana,” ujarnya.

Apa yang harus disiapkan untuk membuat pakan mandiri? Syamsuhaidi menerangkan, peralatan yang dibutuhkan yaitu penggilingan ikan, timbangan, mesin menghalus, alat mixer dan misin pelet. Hanya saja membuat pakan mandiri tersebut idealnya harus dilakukan berbasis kelompok, misalnya kelompok ternak tersebut memiliki anggota 10 orang. Di dalam satu kelompok tersebut terdapat satu pabrik pakan mandiri untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya.

Menurutnya, untuk membuat pakan mandiri harus ada produsen tepung ikan dengan berbasis tepung lokal. Jika itu sudah jalan maka otomatis peternak itu akan lebih baik membuat  sendiri pakannya, terlebih bahan baku yang lain seperti jagung, dedak sudah bisa dibeli.

Sedangkan Wiryawan memberikan informasi lebih rinci soal harga alat yang bisa dibeli oleh peternak untuk membuat pakan mandiri. Mesin pelet harganya sekitar Rp 25 juta dengan kapasitas 300 kilo per jam. Dengan adanya ketersediaan bahan baku tadi secara berkelanjutan, kelompok-kelompok ternak akan mudah menghasilkan pakan sendiri. Sehingga ketergantungan pakan industri itu akan berkurang dan peternak akan lebih untung.

“Misalnya terdapat selisih Rp 500 saja dari pakan industri, maka peternak akan untung karena perkaliannya besar. Jika punya ayam 1.000 ekor, paling tidak dalam sehari pakai 10 kwintal,’’ katanya.

Butuh Intervensi Pemerintah

Untuk membuat pabrik mandiri ini kata Wiryawan membutuhkan intervensi dari pemerintah misalnya dalam bentuk peraturan daerah serta dukungan finansial. “ Jika ada bantuan finansial dari pemerintah, kita bisa bina sebuah kelompok sebagai pilot project dan perguruan tinggi sangat senang dilibatkan seperti itu,’’ ujarnya.

Terkait dengan campur tangan pemerintah ini, Syamsuhaidi memberi penekanan agar bantuan yang diberikan oleh pemerintah betul-betul didampingi. ‘’Tidak bisa kelompok diberikan mesin penggiling, pencampur dan lainnya tanpa didampingi, itu berpotensi mangkrak. Pendampingan yang kontinu.  Harus ada pembinaan, tidak hanya selesai pada pemberian bantuan saja. Diberikan alat canggih, tidak ada tenaga teknis ya selesai,’’ katanya.

Sementara itu pengajar Fakultas Peternakan Unram lainnya, Budi Indarsih, Ph.D mengatakan, pihaknya pernah menerima konsultasi seorang investor dari luar daerah yang akan berinvestasi dalam bidang pembuatan pakan. Bahkan investor tersebut sudah berencana mendirikan usahanya di Lombok Tengah. Namun sampai sekarang, kabar kelanjutan investasinya tidak pernah terdengar lagi.

“Dia minta untuk studi kelayakan. Kabarnya sudah nego dengan pemerintah Lombok Tengah soal lokasi, namun setelah empat tahun sampai sekarang tidak ada realisasi dari rencana tersebut,’’ katanya.

Soal bahan baku, dalam beberapa kesempatan ia melihat stok ikan yang melimpah dalam gudang di wilayah Lombok Timur, namun sayangnya belum diolah menjadi tepung ikan. Jika potensi ikan yang melimpah tersebut bisa dijadikan tepung ikan, bahan itu bisa menjadi salah satu unsur pembuatan pakan mandiri.

Budi Indarsih berpandangan, selama pabrik pakan mandiri atau pabrik pakan industri belum berdiri di wilayah NTB, maka harga pakan unggas dan ikan akan tetap mahal karena tetap bergantung dari luar daerah.

“Di sini pakan mahal karena semuanya tergantung dari luar. Produsen akan gampang menaikkan harga ketika cuaca buruk, karena susah masuk ke sini. Nanti stok kurang, mereka gampang menaikkan harga. Ketergantungan itu yang membuat harga pakan masih mahal,’’ katanya.

Saat ini untuk mengganti pakan ternak, biasanya peternak menggunakan roti afkir karena harganya murah. Mereka memperoleh pakan alternatif tersebut dari pabrik – pabrik roti. Sementara pakan alternatif untuk unggas, bisa dengan jenis keong-keongan, namun ketersediaannya masih terbatas.

Sementara itu Dekan Fakultas Peternakan Unram Dr. Maskur mengatakan, untuk mendorong produktivitas peternak dan pembudidaya ikan melalui penyediaan pakan, pihak kampus sebenarnya sudah memiliki hasil riset yang beragam dan sangat bermanfaat bagi masyarakat. Hanya saja yang masih menjadi persoalan adalah masih minimnya aplikasi hasil penelitian tersebut.

“ Data dari Economic Global Index, kemampuan inovasi para peneliti di dalam negeri cukup tinggi. Survei memperlihatkan dari 144 negara di dunia, Indonesia menempati posisi ke 40 dalam hal kemampuan inovasi para peneliti. Namun kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan hasil penelitain itu yang masih rendah. Sehingga hasil penilitian sedikit yang bisa terserap,’’ ujarnya.

Di sisi lain masih minim pihak swasta yang bekerjasama dengan peneliti kemudian menerapkan hasil penelitiannya untuk kepentingan industri atau usahanya. Sebagai gambaran, di luar negeri banyak industri yang menggunakan hasil riset para peneliti, bahkan industri yang membiayai riset tersebut.

Terkait dengan masalah pakan ini, Maskur berpendapat bahwa pemerintah daerah sebaiknya memberikan perhatian pada persoalan ini mengingat ternak maupun budidaya ikan memberikan untung yang cepat bagi petani. ‘’Unggas itu usia panennya cepat sehingga sangat pas. Satu bulan setengah sudah panen. Namun secara bisnis unggas ini masih dikuasai oleh kartel,’’ ujar Maskur.

Belum lagi jika dilihat dari kandungan gizi unggas seperti ayam yang sangat tinggi, namun  dengan harga yang terjangkau jika dibandingkan dengan harga daging sapi. Misalnya dada ayam masih harganya sekitar Rp 40 ribu per kg, dibandingkan dengan harga daging sapi yang harganya Rp 100 ribu per kg dengan kadar protein yang relatif sama yaitu 20 persen.

“ Jika ingin meningkatkan konsumsi daging masyarakat, silakan ayam yang dikembangkan. Kalau program sapi silakan tetap jalan. Supaya pemerintah memberikan dana dan kebijakan yang sama untuk pengembangan unggas, jika ingin meningkatkan konsumsi protein masyarakat,” tutup Dosen Peternakan Unram, Prof Wiryawan.[ris]

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply