Buah Dari Luar Masih Mendominasi

I Made Nurata

HINGGA saat ini Pulau Lombok masih terbebas dari sejumlah penyakit atau virus pada hewan atau tumbuhan karantina yang biasanya membuat masyarakat khawatir. Artinya konsumen tidak perlu khawatir dengan tingkat kesterilan komoditas pertanian yang masuk ke daerah ini. Namun secara bisnis, produk komoditas lokal, termasuk buah-buahan bersaing ketat dengan komoditas yang datang dari luar.

Pengawasan komoditas pertanian baik yang keluar dan yang masuk dilakukan secara intensif dan terpadu oleh Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram. Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan pada Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram drh I Made Nurata mengatakan,  pihaknya melakukan pengawasan selama 24 jam di pintu masuk pulau Lombok dengan mekanisme yang sudah ditentukan. Pemeriksaan dilakukan terhadap seluruh alat angkut yang berpotensi membawa media Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) serta media Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

“Kita melakukan pengawasan dalam rangka mencegah penyakit, artinya semua komoditas peternakan maupun pertanian baik hidup maupun mati serta produknya menjadi domain pengawasan kami. Tentunya sudah melibatkan tim terpadu,” kata Nurata.

Penyakit hewan karantina yang diwaspadai meliputi rabies, septicaemia epizootica dan brucellosis. Sementara penyakit tumbuhan yang karantina yang diwaspadai meliputi nematode sista kuning serta CPVD atau penyakit pada jeruk.

Nurata mengatakan, Balai Karantina Pertanian berupaya melakukan pengawasan secara optimal, namun demikian tidak bisa dilakukan pengawasan sampai 100 persen karena beberapa kendala di lapangan.

”Pelabuhan penyeberangan ini seperti jembatan berjalan ya, begitu dia keluar langsung jalan. Apalagi komoditas itu dikemas dengan rapi, kecuali memang ada kesadaran dari pihak pengusaha atau memang kita sudah megidentifikasi kendaraan-kendaraan yang mengangkut komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan itu. Selain itu ada keterbatasan SDM di kami” tambahnya.

Terkait dengan buah impor yang masuk ke Lombok, Nurata mengatakan bahwa di daerah ini tidak terdapat buah impor, hanya terdapat buah eks impor. Artinya komoditas yang berasal dari luar negeri sudah ditangani terlebih dahulu di pintu masuk yang pertama misalnya di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng, Pelabuhan Tanjung Periuk, atau Pelabuhan Tanjung Perak. Di pintu masuk yang pertama inilah, komoditas tersebut mengurus kelengkapan izin maupun administrasi lainnya. “Nanti kesininya tidak ada masalah. Bandara disini bukan salah satu bandara untuk impor, jadi tidak ada komoditas impor, yang ada hanya eks impor namanya” katanya.

Selama ini pelanggaran aturan yang pernah ditangani oleh Balai Karantina Pertanaian Kelas I Mataram yaitu kasus penyelundupan ayam afkir dari Bali tahun 2016 lalu. Ayam afkir diselundupkan secara illegal melalui pantai Mapak Kota Mataram dan pantai Malimbu, Lombok Utara. Selain itu kasus pengiriman secara ilegal sapi dari Sumbawa ke Keruak dan Ketapang. Polres Lotim menangani kasus tersebut dengan melakukan koordinasi dengan Balai Karantina untuk dilakukan penindakan dan pembinaan.

Sementara itu Kasi Karantina Tumbuhan pada Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram, I Made Gunada, model pengawasan Balai Karantina Pertanian yaitu dengan cara menyetop truk-truk pengangkut komoditas yang menggunakan jasa penyeberangan setiap hari selama 24 jam. “24 jam kami melakukan pengawasan, sewaktu waktu dilaksanakan pengawasan intensif untuk mencegah hama penyakit yang masuk. Namun selama ini belum ada virus atau penyakit pada tanaman atau buah-buahan yang masuk ke wilayah NTB,” ujarnya.

Buah Lokal Bersaing Dengan Buah Dari Luar

Terkait dengan buah-buahan yang didatangkan dari luar daerah, I Made Gunada mengatakan, buah yang masuk ke Lombok paling banyak berasal dari wilayah Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Malang. Jenis buah yang masuk pun sangat beragam.

Keberadaan buah lokal bersaing ketat dengan buah yang didatangkan dari luar daerah. Berdasarkan data Balai Karantina Pertanian Kelas I Mataram di bulan Januari 2017, dari segi jumlah, buah dari luar daerah jauh lebih banyak yang masuk ke Lombok, begitu juga variannya lebih beragam. Sedangkan jumlah dan jenis buah lokal yang mampu dikirim keluar daerah jumlahnya terbatas.

Selama Januari 2017, komoditas pertanian asal Lombok yang keluar hanya 71,630 kilo gram yang sebagian besar berupa buah-buahan dan 5,395 batang [ untuk komoditas sejenis bibit tanaman buah]. Jenis buah yang dikirim antara lain buah naga, apel, jeruk, mangga dan salak. Sementara komoditas pertanian yang masuk ke Lombok selama bulan Januari kemarin sebanyak 336,487 kilogram yang sebagian besar berupa buah-buahan serta 5,710 batang bibit.

Meskipun jenis buah tertentu terdapat di Lombok, namun tetap saja buah dari luar daerah didatangkan seperti buah naga, apel, jeruk, mangga dan salak. Artinya buah lokal harus bersaing ketat dengan buah dari luar daerah, terlebih buah dari luar lebih banyak jenisnya. Di musim-musim tertentu, buah dari Lombok yang dikirim ke luar daerah berupa melon, jagung manis, manggis dan kelapa.

I Made Gunada mengatakan, selain buah-buahan, komoditas cabai juga cukup anyak dikirim keluar daerah. Dalam sehari pihaknya mengeluarkan sampai 20 sertifikat pengiriman. Satu pengiriman biasanya berjumlah satu ton, sehingga diperkirakan rata-rata cabai asal Lombok yang dijual ke luar daerah mencapai 20 ton sehari.[ris]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply