Harga Di Jawa Mahal, Pengepul Akan Terus Kirim Cabai Dari NTB

Najamudin Mustafa

Najamudin Mustafa

Mataram (Global FM Lombok)- Sudah menjadi hukum pasar, saat permintaan terhadap barang tinggi, maka harganya juga akan  ikut naik, terlebih jika stok barang tersebut di dalam daerah terbatas. Itu pula yang terjadi di komoditas cabai saat ini. Saat permintaan cabai dari pulau Jawa meningkat, harga cabai yang didatangkan dari NTB juga ikut terdongkrak.

“Fluktuasi harga disini karena di pulau Jawa sedang kacau musimnya sekarang . Apa saja yang di konsumsi masyarakat pulau Jawa pasti harganya naik. Sekarang cabai yang diharapkan di Lumajang, Situbondo, Bondowoso itu kena hujan, lalu busuk, tidak bisa panen banyak,sehingga permintaan banyak disini” kata salah seorang pengepul cabai di Lombok Timur, H Najamudin Mustafa kepada Global FM Lombok pekan kemarin.

Pengusaha asal Montong Tangi, Sakra Timur ini menuturkan, secara khusus dia mengirim cabai varietas santa ke pulau Jawa. Varietas cabai santa paling banyak ditanam di wilayah Kecamatan Sembalun, Lombok Timur karena jenis ini paling cocok di wilayah tersebut.

Menurutnya, petani cabai di Sembalun biasanya memanen 1,7 sampai 2 ton setiap minggu di lahan satu hektar dengan harga Rp 33 ribu per kilo. Artinya dalam satu hektar bisa menghasilkan uang Rp 600 – 800 juta, ” Setiap minggu dia memetik dua ton atau 1,7 ton, harganya 33 ribu per kilo. Jika hasil petiknya 2 ton, sama dengan Rp 66 juta setiap minggu, jika dia metik 10 kali hingga akhir panen maka hasilnya Rp 660 juta per hektar. Jika ada petani yang tanam 3 hingga 4 hektar luar biasa kayanya sekarang” kata Najamudin.

Dia  mengirim cabai sebanyak 2,5 sampai 3,5 ton setiap hari ke Cirebon dan Banyuwangi. Setiap sore, petani Sembalun mengantar hasil panennya ke gudang pengepul, setelah disortir lalu dikirim ke tempat tujuan. Najamudin membeli cabai dengan harga Rp 33 ribu per Kg di tingkat petani, sementara dia menjualnya dengan harga Rp 41 ribu rupiah di Jawa.

Dia memprediksi harga cabai akan terus mahal sampai akhir tahun ini mengingat permintaan konsumen semakin tinggi. Terlebih dengan datangnya bulan Maulid di akhir tahun ini akan semakin banyak yang membutuhkan komoditas cabai. Prediksi harga cabai belum akan turun juga karena jika dilakukan penanaman dengan skala yang lebih besar pada bulan ini, maka panen bisa dilakukan tiga bulan kemudian.

“ Saya lihat akan terus naik ini cabai, biasanya dulu cabai yang saya jual ini hanya Rp 4 ribu pada bulan November tahun lalu. Sampai saya jemur-jemur di rumah. Sekarang masih Rp 33 ribu. Kalau jenis cabai rawit bisa sampai 70 ribu sekilo nanti, padahal cabai rawit sebelum terjadi kenaikan drastis seperti sekarang harganya sempat 5 – 10 ribu perkilo” tambahnya.

Bisakah petani dan pengepul cabai membatasi penjualan keluar daerah? Menurut Najamudin, karena cabai adalah komoditas yang bebas, maka pemerintah tidak bisa melakukan pembatasan pengiriman cabai keluar daerah.  “Tidak bisa dibatasi, itu hukum pasar. Kecuali pemerintah sejak awal ikut membantu dalam hal proses penanamannya. Sekarang jika pemerintah menghimbau saja tidak bisa, karena petani cari profit” ujarnya.

Mantan anggota DPRD NTB ini menyarankan agar pemerintah ikut melakukan intervensi terhadap komoditas cabai yang rentan mengalami fluktuasi harga agar pada saat panen pemerintah bisa mengatur tata niaganya. Petani biasanya akan mendengar saran pemerintah saat mereka dibantu sejak proses penanamannya.

“Ternyata pemerintah tidak ikut membina disana, mulai pembibitan, penanaamn, penjualan dan lain sebagainya. Jika ditata kelola dengan baik, maka pemerintah bisa mengatur dan menekan harga. Karena dia membantu mereka, setiap orang yang dibantu itu bisa diatur” tambahnya.(ris)-

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply