Kasus Gizi Buruk di NTB Kembali Mencuat, Peran Posyandu Tidak Maksimal?

Rika Ayu Tantri, penderita gizi buruk

Rika Ayu Tantri, penderita gizi buruk

Mataram (Global FM Lombok)- Kasus gizi buruk di provinsi NTB kembali mencuat. Sejumlah penderita gizi buruk dengan kondisi yang memprihatinkan masih dirawat di RSU Provinsi NTB. Mencuatnya kasus gizi buruk di provinsi lumbung pangan ini mengundang pertanyaan, apakah peran Posyandu belum maksimal dalam memantau kondisi balita di NTB?

Menjawab pertanyaan itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB drg Eka Junaidi kepada Global FM Lombok Selasa (16/2) mengklaim, enam ribuan Poyandu di provinsi NTB sudah berjalan dengan baik. Hanya saja ada beberapa bayi yang sejak lahir sudah menderita gizi buruk dengan penyakit sertaan lainnya. Pasien gizi buruk yang di bawa ke RSUP NTB sebagai rumah sakit rujukan merupakan pasien dengan kondisi yang parah.

Eka Junaidi mengatakan, tahapan pemantauan bayi di Posyandu tetap dilakukan dengan prosedur yang benar, mulai dari penimbangan bayi, pengisian buku KIA, konseling gizi hingga petugas Posyandu mencari bayi yang belum masuk dalam sasaran. Jika terdapat bayi yang berada dibawah garis merah dalam buku KIA, petugas Posyandu memberikan makanan pendamping ASI dari usia 6 bulan – 2 tahun. Perawatan awal terhadap penderita gizi buruk menurutnya dilakukan sampai 90 hari.

“ Jadi Peran Posyandu, dari enam ribu posyandu sudah berjalan dengan baik. Posyandu kan mulai dari pratama, madya, purnama dan mandiri. Disana ada penimbangan bayi, mengisi KIA. Kalau ada di garis warna merah, diberikan konseling gizi, apa masalahnya” kata Eka Junaidi Selasa (16/2)

Untuk mencegah kasus gizi buruk terus bertambah, pihaknya akan memperkuat program pemantauan status gizi oleh puskesmas. Bayi yang beratnya kurang dan menderita gizi buruk akan betul-betul menjadi perhatian.

Sampai awal bulan Februari ini, kasus gizi buruk di NTB sudah mencapai 35 kasus. Beberapa penderita yang masih dirawat di RSUP NTB antara lain Rika Ayu Tantri, usia 5 tahun dari Lombok Utara. Dia menderita gizi buruk, anemia, alergi dan infeksi kulit. Selanjutnya Ipan Padila, Adiba Azzahra dan Rozita Rahaya. Mereka juga menderita gizi buruk dengan penyakit sertaan. Awalnya ada 5 penderita gizi buruk yang dirawat di RSUP NTB, namun satu pasien atas nama M Khairul asal Kuripan Lombok Barat sudah meninggal dunia Minggu (14/2) lalu.(ris)-

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

Kirim Komentar

Leave a Reply