Beranda blog Halaman 8

Inspektorat NTB Siap Tindak Lanjuti Seluruh Temuan BPK

Mataram (globalfmlombok.com) – Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI terkait pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di empat sekolah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai ditindaklanjuti. Inspektorat NTB memastikan dana yang keberadaannya tidak meyakinkan senilai Rp313 juta akan dikembalikan dan temuan tersebut telah diselesaikan.

Inspektur Inspektorat NTB, Budi Herman, mengatakan pihaknya telah memanggil empat kepala sekolah yang menjadi objek temuan. Sebagai bentuk jaminan pengembalian dana, Inspektorat bahkan meminta sertifikat tanah para kepala sekolah tersebut dijadikan agunan sementara.

“Terus terang saya menjaminkan sertifikat tanah mereka, tetapi mereka siap untuk mengembalikan. Kita jaminkan untuk memberikan kepastian kepada BPK bahwa uangnya tidak hilang,” ujar Budi, Jumat (5/6/2026).

Menurut dia, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh temuan yang menjadi perhatian BPK dapat dituntaskan sesuai rekomendasi. Ia menyebut persoalan di empat sekolah tersebut kini telah selesai dan proses pengembalian dana sedang ditindaklanjuti.

Budi menegaskan, tidak hanya temuan di sektor pendidikan yang menjadi fokus penyelesaian. Inspektorat juga terus mengawal tindak lanjut berbagai temuan BPK pada sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi NTB.

Salah satu sekolah yang menjadi sorotan dalam laporan BPK adalah SMA Negeri 1 Woha dengan temuan dana yang tidak diketahui keberadaannya mencapai Rp319,40 juta.

Untuk mempercepat penyelesaian rekomendasi BPK, Inspektorat menerapkan sistem periodisasi temuan berdasarkan tahun pemeriksaan. Langkah ini dilakukan agar progres penyelesaian dapat dipantau secara lebih terukur.

“Kalau 2025 saya bikin periodisasi biar ketahuan mana hasil di 2024, mana hasil 2025, yang secara normatif pelaporan saya kepada Ibu Wagub itu di Desember,” katanya.

Selain persoalan dana BOS, BPK juga menemukan berbagai permasalahan tata kelola keuangan pada 15 satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Dua di antaranya berada di sektor kesehatan, yakni RSUD Provinsi NTB dan RSUD Manambai Abdulkadir di Sumbawa.

Dalam laporan hasil pemeriksaan tersebut, BPK mencatat adanya kelebihan pembayaran pada sejumlah kegiatan di SMA, SMK, hingga Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dengan nilai mencapai Rp10,04 miliar. Dari jumlah itu, sekitar Rp4,04 miliar telah disetorkan kembali, sementara sisanya masih harus dikembalikan ke kas daerah dan kas BLUD.

BPK juga menemukan kelebihan pembayaran sebesar Rp4,58 miliar pada belanja pemeliharaan di tiga balai pemeliharaan jalan provinsi yang hingga kini belum disetorkan ke kas daerah.

Tak hanya itu, terdapat pula temuan penurunan pendapatan daerah senilai Rp218,13 juta. Sebagian telah dikembalikan, namun masih terdapat kewajiban pengembalian sekitar Rp45,63 juta.

Sementara pada belanja perjalanan dinas, pengadaan barang untuk masyarakat, serta sejumlah belanja modal lainnya, BPK menemukan kelebihan pembayaran dengan total nilai mencapai Rp8,86 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp1,69 miliar telah dikembalikan, sedangkan sisanya masih menjadi kewajiban untuk disetorkan ke kas daerah maupun kas BLUD.

Inspektorat NTB memastikan seluruh rekomendasi BPK akan terus dikawal hingga tuntas guna memperkuat akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan mencegah kerugian daerah yang lebih besar. (r)

Nasib Tiga Jaksa Terduga Pemeras Camat Pajo Ditentukan Jamwas

Mataram (globalfmlombok.com) – Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTB tengah menunggu hasil putusan Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas) Kejaksaan Agung (Kejagung) RI terkait dugaan pemerasan terhadap Camat Pajo oleh tiga oknum jaksa di Kejari Bima.

Kepala Kejati NTB, Wahyudi, Jumat (5/6/2026) mengatakan, pihaknya tidak dapat memastikan berapa lama proses perkara etik itu ditangani Jamwas sebelum putusan akhir keluar. “Kami tidak bisa mendikte di sana (Kejagung RI) bagaimana lama prosesnya,” katanya.

Oleh karena itu, saat ini pihaknya hanya tinggal menunggu putusan di pusat karena pengumpulan data awal terkait dugaan pemerasan itu telah rampung dilaksanakan Kejati NTB.

“Nanti untuk menentukan pinaltinya di sana (Kejagung),” sebutnya.

Kejati NTB sebelumnya menaikkan status penanganan etik tiga oknum jaksa itu ke inspeksi kasus pada Rabu 22 April 2026. Langkah ini diambil setelah jaksa pengawas mendapat bukti pemerasan selama tahap klarifikasi. Kejaksaan sebelumnya meminta klarifikasi kepada sejumlah pihak. Mulai dari tiga oknum jaksa hingga Camat Pajo, Imran sendiri.

Sebagai informasi, Imran mengaku ada tiga jaksa yang diduga melakukan pemerasan terhadap dirinya. Tiga jaksa itu antara lain, mantan Kasi Intelijen berinisial J, mantan Kasi Pidana Umum inisial K, dan mantan Kasi Pidana Khusus inisial IS. Ketiga oknum jaksa itu saat ini telah berpindah tempat tugas. Ketiganya diduga memeras Imran saat bertugas di Kejari Dompu.

Dalam perkara ini, Imran mengaku dimintai uang puluhan juta oleh oknum aparat penegak hukum saat dirinya menjalani proses penahanan dalam perkara penganiayaan yang telah putus.

Camat Pajo itu diduga dimintai uang Rp30 juta dengan dalih uang tersebut dapat meringankan hukumannya. Namun, saat itu dia hanya memberikan Rp20 juta yang ia serahkan langsung di kantor Kejari Dompu.

Imran menegaskan telah menempuh upaya damai dengan korban sehingga ia mengira persoalan tersebut telah selesai. Namun, proses hukum tetap berlanjut hingga dirinya harus menjalani penahanan. Dirinya merasa telah ditipu dan diperas oleh oknum aparat penegak hukum tersebut. (mit)

Tiga Jemaah Haji Asal Lombok Timur Wafat di Tanah Suci

Selong (globalfmlombok.com) – Pelaksanaan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M bagi jemaah haji asal Lombok Timur (Lotim) secara umum mengalami kemajuan yang signifikan. Namun, terdapat tiga orang jemaah yang dinyatakan meninggal dunia selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Lombok Timur, Makkinuddin, Jumat (5/6/2026). Menurut data yang dihimpun, jumlah jemaah yang diberangkatkan dari Lotim sebanyak 1.408 orang, sementara yang dipastikan pulang kembali ke tanah air sebanyak 1.405 orang.

“Selisih tiga orang merupakan jemaah yang wafat. Secara umum pelaksanaan haji tahun ini mengalami kemajuan, tetapi ke depan kami menilai proses pemeriksaan kesehatan harus lebih ketat lagi,” ujar Makkinuddin.

Terkait jadwal kepulangan, Makkinuddin menjelaskan bahwa jemaah haji Lombok Timur tergabung dalam sejumlah kelompok terbang (kloter). Jadwal pemulangan untuk kloter 1, 6, 9, 12, dan 15 telah ditentukan sesuai jadwal terlampir.

“Kloter 1 asal Lotim sebanyak 389 orang sudah tiba lebih dulu pada tanggal 1 Juni lalu. Untuk kloter lainnya menyusul sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” tambahnya.

Tertuang dalam jadwal kepulangan, untuk keloter enam sebanyak 389 jemaah tanggal 8 Juni 2026 mendatang. Jadwalnya tiba di Mataram sekitar pukul 19.45 Wita.

Kloter sembilan berikutnya dijadwalkan tanggal 12 Juni 2026 tiba di Mataram sekitar pukul 18.15 Wita. Pemulangan gelombang kedua yang masuk keloter 12 sebanyak 123 orang. Dijadwalkan tiba di Mataram sekitar pukul 23.20 Wita pada tanggal 16 Juni 2026.

Terakhir yang masuk keloter gabungan sebanyak 116 orang jemaah. Dijadwalkan tiba di tanah air pada tanggal 21 Juni 2026 pukul 08.05 Wita. Adanya jemaah yang meninggal ini karena faktor usia dan ada masalah kesehatan. Pada musim haji 2027 mendatang diharapkan meningkatkan ketelitian dalam pemeriksaan fisik dan kelayakan terbang jemaah, guna meminimalkan risiko di masa mendatang. (rus)

Polres Loteng Naik Tipe Jadi Polresta

Praya (globalfmlombok.com) – Kepolisian Resor (Polres) Lombok Tengah (Loteng) saat ini telah resmi naik tipe menjadi Polres tipe A atau Polresta. Seiring dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Kapolri No. Kep/527/IV/2026 tertanggal 13 April 2026. Dengan peningkatan status tersebut kepangkatan pejabat dan struktur organisasi Polres Loteng otomatis ikut berubah.

Kasi Humas Polres Loteng Iptu Lalu Brata Kusnadi saat dikonfirmasi Suara NTB di kantornya, Jumat (5/6), membenarkan perubahan status atau tipologis Polres Loteng tersebut. “SK dari Kapolri terkait perubahan status Polres Loteng sudah kita terima. Jadi saat ini Polres Loteng yang sebelumnya tipe B kini sudah menjadi Polres tipe A,” ungkapnya.

Penyesuaian struktur organisasi di Polres Loteng saat ini sedang berproses, karena tentu harus mengikuti ketentuan yang ada. Namun tidak sekaligus, penyesuaian dilakukan secara bertahap. Baik itu yang berkaitan dengan susunan organisasinya maupun terkait pemenuhan personel hingga sarana dan prasarana penunjang.

“Untuk struktur organisasi dan susunan personel Polres Loteng yang baru nantinya itu mengikuti ketentuan yang diatur dalam Peraturan Kapolri No.2 tahun 2021 tentang susunan organisasi dan tata kerja kepolisian daerah sebagaimana telah diubah dengan peraturan Kapolri No. 7 tahun 2025 tentang susunan organisasi dan tata kerja pada tingkat Polres dan Polsek,” jelasnya.

Perubahan yang paling mendasar dengan peningkatan tipe tersebut ialah terkait kepangkatan pejabat di Polres Loteng nantinya. Di mana untuk jabatan Kapolres Loteng nanti akan dijabat oleh anggota Polri dengan pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombespol). Begitu juga untuk pangkat pejabat utama lainnya, naik satu tingkat lebih tinggi.

Dalam hal jumlah personel juga akan ikut bertambah. Disesuaikan dengan struktur organisasi yang ada. “Proses penyusulan kenaikan tipe ini sudah cukup lama. Namun baru bisa terealisasikan tahun ini,” ujarnya seraya menambahkan untuk penyesuaian struktur organisasi Polres Loteng pasca kenaikan tipe tersebut masih menunggu petunjuk Kapolda NTB. (kir)

Nilai Tukar Dolar AS Menguat, Belum Berdampak ke Penukaran Valas di NTB

Mataram (globalfmlombok.com) – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang sudah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni 2026 ini ternyata belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas penukaran valuta asing (valas) di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pantauan di kantor PT Tri Putra Darma Valuta di Jalan Langko, Mataram, Jumat, 5 Juni 2026, menunjukkan aktivitas penukaran mata uang asing berlangsung normal bahkan cenderung sepi. Tidak terlihat antrean maupun lonjakan masyarakat yang memanfaatkan tingginya kurs dolar AS untuk menukarkan simpanan mereka ke rupiah.

Kondisi ini kontras dengan tempat penukaran valas di Jakarta yang justru tengah mengalami peningkatan transaksi karena banyak pemilik dolar memilih merealisasikan keuntungan saat nilai tukar mata uang Negeri Paman Sam berada di level tinggi.

Pemilik PT Tri Putra Darma Valuta yang juga Ketua Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Provinsi NTB, Darda Subarda, mengatakan fenomena tersebut belum terlihat di NTB. Menurutnya, pasar valas di daerah ini memiliki karakteristik yang berbeda karena lebih banyak bergantung pada sektor pariwisata dibanding aktivitas bisnis dan proyek-proyek besar.

“Kalau di tempat kami malah sepi. Mungkin kalau di perkotaan besar berbeda. Kalau kita di Mataram dan destinasi wisata justru kecenderungannya menurun karena kami dominan mengandalkan wisatawan. Sementara wisatawan juga sedang sepi,” terangnya.

Darda menjelaskan, secara teori penguatan dolar AS seharusnya mendorong masyarakat yang memiliki simpanan dolar untuk menukarkannya ke rupiah karena nilai tukarnya sedang tinggi. Namun kondisi tersebut tidak terjadi di NTB.

Ia menilai salah satu penyebabnya adalah minimnya aktivitas spekulasi valuta asing oleh masyarakat lokal di NTB. Jika pada masa lalu, banyak masyarakat yang membeli dolar saat murah lalu menjualnya kembali ketika kurs naik, pola tersebut kini hampir tidak terlihat lagi.
“Dulu sekitar tahun 2011 banyak penukaran lokal. Ketika ada pergerakan nilai tukar, orang beli dolar, tunggu naik lalu dijual lagi. Sekarang sudah sangat berkurang. Mungkin karena kondisi ekonomi yang sedang sulit sekarang ini,” tambahnya.

Menurut Darda, tingginya transaksi penukaran dolar ke rupiah yang terjadi di Jakarta bisa jadi dipengaruhi oleh perputaran ekonomi yang lebih besar. Aktivitas proyek pemerintah, investasi, dan kegiatan usaha berskala nasional yang banyak terpusat di wilayah tersebut membuat kebutuhan likuiditas rupiah lebih tinggi dibanding daerah.

“Kalau di Jawa mungkin banyak yang menukar dolar ke rupiah karena proyek-proyek pemerintah dan aktivitas ekonomi lebih terpusat di sana. Pergerakan ekonominya memang lebih dominan di pusat,” ujarnya.

Di sisi lain, lesunya kunjungan wisatawan turut memukul bisnis penukaran valas di NTB. Darda mengungkapkan volume transaksi yang terjadi saat ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Kalau dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama, penurunannya bisa mencapai 20 persen. Ini memang kelihatannya sedang berat,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian besar wisatawan yang datang saat ini hanya melakukan penukaran dalam jumlah kecil. Transaksi yang terjadi umumnya berkisar puluhan dolar AS atau euro, sehingga tidak memberikan dampak berarti terhadap perputaran usaha penukaran valuta asing.

“Sekarang yang menukar kadang hanya 20 dolar atau 20 euro. Jumlah orang yang datang mungkin relatif sama karena aktivitas pariwisata masih ada, tetapi nilai yang ditukar kecil-kecil,” ujarnya.

Kondisi serupa, lanjut Darda, juga dirasakan oleh anggota APVA lainnya di berbagai daerah wisata di NTB. Sejumlah pelaku usaha penukaran valas di kawasan wisata seperti Kuta Mandalika maupun Gili Trawangan dilaporkan mengalami stagnasi transaksi.

“Anggota-anggota yang lain juga merasakan hal yang sama. Kalau di Kuta dan Gili mungkin cenderung stagnan. Kalau dulu, banyak yang wait and see, sekarang situasi ekonomi memang tidak banyak bergerak,” imbuhnya.

Pelaku usaha berharap pergerakan sektor pariwisata kembali meningkat pada musim liburan pertengahan tahun agar dapat mendorong aktivitas penukaran valuta asing yang selama beberapa bulan terakhir mengalami perlambatan. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, kebutuhan penukaran mata uang asing di NTB diharapkan kembali bergairah meski kondisi nilai tukar global masih berfluktuasi. (bul)

Korban Kekerasan Berisiko Mengalami Trauma Berkepanjangan

Mataram (globalfmlombok.com) – Kasus kekerasan yang menimpa tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan. Pemulihan korban dinilai harus mencakup penanganan medis dan pendampingan psikologis secara menyeluruh.

Psikolog Fitriani Hidayah, M.Psi., mengatakan korban penganiayaan, terutama anak-anak dan remaja di lingkungan pendidikan berasrama, sangat rentan mengalami trauma mendalam. Dampak tersebut dapat muncul dalam berbagai fase, mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang.

“Korban kekerasan berisiko mengalami trauma yang memengaruhi kondisi emosional, sosial, hingga perkembangan kepribadiannya di masa depan,” ujarnya kepada Suara NTB, Kamis (4/6).

Menurut Fitriani, pada tahap awal atau jangka pendek, korban biasanya mengalami syok dan ketakutan yang memicu reaksi fisik. Tubuh merespons tekanan psikologis melalui gejala seperti jantung berdebar, keringat dingin, pusing, mual, gangguan tidur, hingga mimpi buruk.

Memasuki fase jangka menengah, tekanan psikologis mulai berdampak pada kehidupan sosial dan aktivitas sehari-hari korban. Mereka cenderung mengalami kecemasan, depresi, hingga kehilangan motivasi untuk belajar.

“Korban rentan mengalami depresi yang ditandai perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat belajar, dan hilangnya motivasi,” katanya.

Selain itu, korban juga dapat mengalami perubahan perilaku seperti mudah marah, menarik diri dari lingkungan pergaulan, enggan berinteraksi dengan teman sebaya, serta kehilangan rasa percaya diri. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kemampuan konsentrasi dan prestasi akademik.

“Stres yang dialami merusak konsentrasi sehingga prestasi akademik dan hafalan di pesantren dapat menurun drastis,” ujarnya.

Fitriani mengingatkan, dampak paling serius muncul apabila korban tidak memperoleh pendampingan psikologis yang memadai. Trauma dapat menetap hingga dewasa dan berkembang menjadi gangguan stres pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Korban, lanjutnya, dapat mengalami kilas balik terhadap peristiwa yang dialami sehingga memicu kepanikan ketika berhadapan dengan situasi yang mengingatkan pada kejadian tersebut.

“Korban dapat mengalami flashback yang memicu serangan panik saat pemicu trauma muncul,” katanya.

Trauma yang tidak tertangani juga berpotensi menimbulkan gangguan kepercayaan terhadap orang lain. Dalam jangka panjang, korban bisa kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat karena kehilangan rasa aman.

Bahkan dalam beberapa kasus, korban yang tidak pulih sepenuhnya dari trauma dapat menunjukkan perilaku yang sangat tertutup atau justru mengulangi pola kekerasan yang pernah dialaminya.

Karena itu, Fitriani menegaskan penanganan korban kekerasan harus dilakukan secara komprehensif. Selain mendapatkan perawatan medis, korban juga perlu memperoleh pendampingan psikologis dan bantuan hukum agar hak-haknya terlindungi.

“Dampingi korban untuk menghilangkan rasa takut, syok, dan trauma pascakekerasan. Ini membutuhkan bantuan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater,” ujarnya.

Ia juga menyarankan korban segera dievakuasi dari lingkungan yang berpotensi menimbulkan trauma lanjutan dan mendapatkan pemeriksaan medis, termasuk visum. Selain itu, kasus kekerasan harus segera dilaporkan kepada aparat penegak hukum agar proses penanganan berjalan sesuai ketentuan.

Kasus yang menjadi perhatian publik ini menimpa tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang. Peristiwa yang terjadi pada November 2025 itu menyebabkan ketiga korban mengalami luka bakar serius, bahkan satu di antaranya meninggal dunia.

Kasus tersebut kembali mencuat setelah beredar unggahan di media sosial yang memperlihatkan dua santri tengah menjalani perawatan di rumah sakit dengan luka bakar di sejumlah bagian tubuh. Saat ini, perkara tersebut masih dalam penanganan aparat Polres Lombok Tengah. (sib)

Diduga Curi Laptop, RK Diamankan Polisi

Mataram (globalfmlombok.com) – Tim Resmob Polresta Mataram mengamankan seorang pria berinisial RK (22) atas dugaan pencurian sebuah laptop di sebuah kamar di Mataram.

Kepala Satreskrim Polresta Mataram, AKP I Made Dharma Yulia Putra, Jumat (5/6/2026) mengatakan, RK mencuri laptop tersebut untuk menambah biaya kuliah.

Dharma menjelaskan, mahasiswa itu sebelumnya telah mendapat uang kiriman dari orang tuanya yang ada di Dompu. Akan tetapi, uang tersebut telah habis digunakan RK. “Untuk menutupi pembayaran kuliahnya, terduga pelaku mencuri laptop temannya,” sebutnya.

Ia melanjutkan, aksi dugaan pencurian yang dilakukan RK berlangsung pada Rabu (27/5/2026) lalu. RK diduga mendatangi kos temannya yang bertempat di Jalan Merdeka Raya, Gang Danisalam Nomor 6 Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram. Saat itu kondisi kos tengah kosong karena korban sedang pulang ke kampung halamannya. “Ia pun mengambil laptop milik temannya itu,” bebernya.

Korban diketahui menaruh laptopnya di sebuah lemari yang tidak terkunci. “Saat korban meninggalkan kosnya, pintu kamar kos sudah dikunci. Tetapi ditaruh di atas meteran listrik,” jelasnya.

Melihat kamar kos korban dalam keadaan kosong, terduga pelaku kemudian mengambil kunci kamar yang biasa disimpan korban. Dengan menggunakan kunci tersebut, ia masuk ke dalam kamar dan membawa kabur laptop yang tersimpan di dalam lemari.

“Untuk mengelabui korban, kunci kamar itu kemudian dikembalikan dan diletakkan lagi di atas meteran listrik,” sebutnya.

Pada Selasa (2/6/2026), korban pulang ke kosnya dengan tujuan mengikuti perkuliahan melalui Zoom. Namun, saat membuka lemari, ia mendapati laptop miliknya sudah tidak berada di tempat semula.

Mengetahui barangnya hilang, korban segera melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Mataram. Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mengarahkan dugaan terduga pelaku kepada RK.

Menurut Dharma, RK kerap berkunjung ke kos tersebut karena berteman dengan salah satu penghuni yang merupakan tetangga kamar korban. Meski demikian, ia tidak pernah masuk ke kamar korban.

Dari kebiasaannya berkunjung ke kos itu, RK diduga mengamati aktivitas korban hingga mengetahui lokasi penyimpanan kunci kamar, yakni di atas meteran listrik.

“Atas perbuatannya, RK kini ditahan dan dijerat Pasal 476 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman hukuman maksimal tujuh tahun penjara,” tandasnya. (mit)

Keluarga Santri Diduga Korban Pembakaran Resmi Melapor, Alur Perkara Masih Didalami

Praya (globalfmlombok.com) – Satu dari tiga korban santri salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah yang mengalami luka bakar di tubuhnya telah melayangkan laporan resmi ke Polres Lombok Tengah (Loteng).

Kasusnya kini sudah ditangani unit PPA Polres Loteng, karena melibatkan anak di bawah umur. Penyidik Polres Loteng sudah mulai mengumpulkan alat bukti dan keterangan dari sejumlah pihak guna mengungkap kasus yang menewaskan satu orang santri tersebut.

“Laporan dari salah satu korban sudah kita terima dan saat ini kasunya langsung ditangani unit PPA Polres Loteng,” ungkap Kasi Humas Polres Loteng Iptu Lalu Brata Kusnadi, kepada Suara NTB di ruang kerjanya, Jumat (5/6).

Dikatakannya fokus penyidik saat ini ialah mengumpulkan keterangan dan alat bukti sebanyak-banyaknya. Agar bisa mengungkap dan mengurai alur kejadian perkara. Sekaligus merekonstruksi kembali kasus tersebut. Mengingat, kasus dugaan pembakaran santri yang terjadi di salah satu ponpes di Desa Aik Darek Kecamatan Batukliang tersebut sudah berlangsung cukup lama sekitar delapan bulan yang lalu.

“Kejadiannya berlangsung sekitar bulan November 2025 lalu. Jadi polisi perlu mengurai kembali kejadiannya. Untuk keterangan para pihak, saksi dan alat bukti pendukung saat ini terus dikumpulkan,” ujarnya.

Menurutnya, pelaksanaan rekonstruksi kasus, siapa saja yang terlibat dan bertanggung jawab dalam perkara tersebut sejauh ini belum bisa diputuskan. Penyidik masih membutuhkan banyak keterangan dan alat bukti. Guna mengungkap fakta yang terjadi dalam kasus tersebut.

Disinggung terkait informasi kalau sudah ada yang diamankan dalam kasus tersebut, Brata menegaskan kalau informasi tersebut tidak benar. Karena kasusnya baru dilaporkan kemarin (Kamis) setelah sebelumnya viral di media sosial. “Setelah semua alat bukti dan keterangan terkumpul, penyidikan akan melakukan gelar pekara. Baru setelah itu bisa ditentukan status penanganan perkaranya,” imbuhnya

Ditanya kronologis kejadian, Brata menjelaskan dari keterangan awal yang dikumpulkan penyidik, kejadian tersebut berlangsung pada bulan November 2025 lalu. Bermula saat tiga santri berinisial Ai, Dn serta SH diduga mengalami bullying (perundungan) oleh salah seorang seniornya berinisial RN. Pascakejadian itu, RN disebut sempat dipanggil oleh pengurus ponpes.

Tidak terima, RN sempat mengancam ketiga korban. Karena menduga ketiga korbanlah yang melapor ke pengurus Ponpes. Tiga hari berselang, RN kemudian meminta salah seorang santri untuk membeli dua botol BBM jenis Pertalite dengan alasan akan digunakan sebagai campuran cat.

Ketiga korban kemudian diajak ke salah satu ruang untuk membuat kepatel. Di ruang tersebut botol BBM ditaruh di atas salah satu lemari. Di sana RN membakar beberapa bahan mudah terbakar seperti plastik mika. Saat sedang asyik bekerja, tiba-tiba bahan mudah terbakar tersebut mengenai para korban disertai sambaran api dari BBM.

Karena panik RN bersama satu santri lainnya langsung keluar ruangan tersebut sembari membanting pintu. Akibatnya, tiga korban yang masih berada di dalam ruang kesulitan untuk membuka pintu. Kejadin tersebut diketahui santri dan pengurus Ponpes lainnya yang kemudian berusaha menolong para korban.

“Dua korban berhasil selamat. Sementara satu korban meninggal dunia,” terangnya seraya menambahkan, itu baru dari keterangan awal. ‘’Untuk mengungkap kejadian secara lengkap, penyidik Polres Loteng masih terus melakukan pendalaman,’’ tambahnya. (kir)

Pendaftaran AHM Best Student 2026 Sudah Dibuka, Intip Kategorinya

Mataram (globalfmlombok.com)-

Era digital menyuguhkan ruang kreativitas tanpa batas bagi pelajar Indonesia untuk menjadi bagian dari sebuah perubahan. PT Astra Honda Motor (AHM) melalui AHM Best Student 2026 mengajak generasi muda untuk menghadirkan inovasi yang aplikatif, kreatif, dan berdampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan, berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).

Mengusung tema “Gen Z Berkarya, Indonesia Berdaya!”, AHM Best Student membuka pendaftaran mulai 5 Juni – 8 Agustus 2026. Para pelajar cerdas dan kreatif dapat mengikuti AHM Best Student 2026 dalam 4 kategori lomba berbasis SDGs, yaitu Pendidikan, Kesehatan, Lingkungan, dan Pemberdayaan Ekonomi.

Rangkaian AHM Best Student tahun ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar sekaligus mengembangkan kapasitas para peserta. Mereka akan ditantang melalui beberapa tahapan seleksi, mulai dari pengumpulan karya, seleksi tingkat regional, bootcamp, verifikasi dan wawancara, hingga seleksi final berupa presentasi di hadapan dewan juri. Penilaian dilakukan secara berjenjang, mulai tingkat regional hingga nasional, dengan melibatkan dewan juri yang kompeten di bidangnya.

Seluruh dokumen pendaftaran lomba diunggah melalui tautan resmi AHM Best Student 2026 di https://bit.ly/AHMBS2026. Informasi lengkap terkait panduan lomba, tahapan seleksi, dan ketentuan program dapat diakses melalui akun @sahabat1hati serta jaringan main dealer sepeda motor Honda di seluruh Indonesia.

Ajang prestisius yang telah hadir sejak 2003 menjadi bentuk dukungan dan komitmen perusahaan terhadap lahirnya karya inovatif serta solusi berkelanjutan dari generasi muda untuk menjawab beragam isu dan problematika di tengah kehidupan masyarakat saat ini. AHM Best Student juga diharapkan mampu meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya kemampuan problem solving, kolaborasi, leadership, serta pembentukan karakter ready future talent.

General Manager Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin mengatakan perusahaan berkomitmen mendukung pengembangan talenta muda Indonesia yang relevan dengan tantangan masa depan. Menurutnya, generasi muda saat ini tidak hanya dituntut memiliki ide kreatif, tetapi juga keberanian untuk menghadirkan perubahan melalui aksi nyata dan kolaborasi.

“Melalui AHM Best Student, kami ingin mendorong lahirnya generasi muda yang unggul dalam kreativitas dan inovasi, sekaligus memiliki kepedulian sosial serta semangat berkarya untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Kami percaya solusi yang diberikan dapat menjadi energi besar menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Muhib.

Selain kompetisi karya, peserta juga dapat mengikuti social media challenge dengan mengunggah konten kreatif terkait SDGs yang relevan dengan kehidupan sehari-hari pada akun Instagram.

AHM menyiapkan total hadiah ratusan juta rupiah untuk para pemenang berupa beasiswa pendidikan, sertifikat pemenang dan hadiah menarik. Sebagai bentuk apresiasi lainnya juga disiapkan untuk peran guru dalam mendampingi pengembangan dari pemenang terbaik pada ajang AHM Best Student 2026.(r)

Gelombang Tinggi Picu Rob di Kampung Bugis, BPBD Siagakan Petugas Pantau Pesisir

Mataram (globalfmlombok.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram mendistribusikan ratusan karung geobag guna membangun tanggul darurat sebagai upaya mengantisipasi banjir rob susulan di Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan.

Langkah tersebut dilakukan menyusul banjir rob yang kembali melanda kawasan tersebut pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 06.00 Wita. Banjir dipicu oleh perubahan arah angin, arus laut, serta gelombang tinggi yang menyebabkan air laut meluap ke permukiman warga.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wartono, mengatakan pihaknya segera menyalurkan 200 lembar karung setelah menerima laporan dari pemerintah kelurahan. Karung-karung tersebut diserahkan melalui Kepala Lingkungan Kampung Bugis untuk diisi pasir dan digunakan sebagai tanggul darurat di titik-titik yang rawan terdampak rob.

“Karung pasir ini digunakan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gelombang pasang susulan yang berpotensi menyebabkan banjir rob,” ujarnya, Jumat (5/6).

Budi menjelaskan, fenomena banjir rob di kawasan pesisir Ampenan telah menjadi siklus tahunan yang kerap terjadi. Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mengabaikan potensi bencana meskipun kondisi cuaca terlihat normal.

Menurutnya, sekitar 200 hingga 250 kepala keluarga terdampak banjir rob kali ini. Namun, tidak ada warga yang mengungsi karena genangan air dengan ketinggian sekitar 30 hingga 50 sentimeter hanya melintas di jalan lingkungan dan tidak sampai masuk ke rumah-rumah warga.

“Banjir rob terjadi selama sekitar satu hingga dua jam, setelah itu kondisi kembali normal,” katanya.

Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), potensi gelombang pasang diperkirakan masih dapat terjadi hingga 6 Juni 2026.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, BPBD Kota Mataram mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan mitigasi bencana secara mandiri, termasuk mengamankan diri dan keluarga apabila terjadi peningkatan gelombang pasang.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada aparat setempat atau BPBD apabila melihat tanda-tanda gelombang pasang yang berpotensi menimbulkan banjir rob.

Selain itu, BPBD telah menempatkan petugas di sejumlah titik sepanjang kawasan pesisir Kota Mataram untuk melakukan pemantauan dan pelaporan kondisi secara berkala. Pengawasan dilakukan di sepanjang 9,1 kilometer garis pantai yang menjadi wilayah rawan terdampak rob.

“Masyarakat terus kami ingatkan agar tetap waspada, tetapi tidak perlu khawatir berlebihan karena fenomena ini merupakan siklus tahunan,” ujar Budi.

Di sisi lain, mantan Camat Mataram tersebut juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berbagai penyakit yang berpotensi muncul selama masa peralihan musim dari penghujan ke kemarau. Menurutnya, perubahan cuaca yang ditandai suhu panas pada siang hari dan angin yang terasa dingin dapat memengaruhi kondisi kesehatan.

“Bisa dirasakan ketika terkena angin saat cuaca panas, badan akan terasa meriang,” jelasnya.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dan menerapkan pola hidup sehat guna mengurangi risiko terserang penyakit selama masa pancaroba. (pan)