Beranda blog Halaman 373

Seribu Karyawan Hotel Tak Dirumahkan, Jam Kerjanya Dipangkas

Mataram (globalfmlombok.com) – Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram mengklarifikasi sekaligus membantah bahwa tidak ada seribu karyawan hotel yang dirumahkan. Pengusaha hotel hanya mengurangi jam kerja karyawan dengan alasan minim tamu.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Mataram, H. Rudi Suryawan dikonfirmasi pada, Selasa (17/6) menegaskan, statemen Ketua Asosiasi Hotel Mataram langsung dikonfrontir untuk memastikan informasi dirumahkannya seribu karyawan hotel. Setelah diklarifikasi ternyata tidak ada karyawan hotel yang dirumahkan. “Saya langsung telepon ketua AHM. Informasinya bukan seribu karyawan dirumahkan tetapi jumlah karyawan hotel di Mataram seribu orang,” katanya.

Informasi dari Asosiasi Hotel Mataram juga langsung ditanyakan ke beberapa general manager hotel. Mereka mengaku tidak ada karyawan hotel dirumahkan, melainkan dipangkas jam kerjanya. Contohnya, karyawan memiliki jam kerja enam hari selama sepekan dipangkas menjadi tiga hari. Pemangkasan ini berkaitan dengan sepinya tamu hotel. “Cuma dipangkas jam kerjanya saja untuk pegawai daily (harian,red),” pungkasnya.

Mantan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Mataram menegaskan, masyarakat perlu memahami bahwa pemutusan hubungan kerja berbeda dengan dirumahkan. Apabila karyawan dipecat alias di PHK, maka perusahaan wajib membayar pesangon serta hak-hak karyawan lainnya.

Apabila dirumahkan maka karyawan hotel memiliki peluang untuk bekerja kembali. “Kalau dirumahkan mereka tetap dapat gaji. Perhitungan gajinya sesuai kesepatan dengan perusahaan,” jelasnya.

Menurutnya, karyawan memaklumi kebijakan merumahkan tersebut. Artinya, karyawan hotel tidak bisa memaksakan perusahaan untuk mempekerjakan mereka sementara pendapatan minim.

Di satu sisi, ia mengakui beberapa hotel di Mataram memberhentikan pekerja mereka dengan alasan mengurangi beban operasional. Pihaknya sedang mendata jumlah karyawan yang di PHK untuk memastikan pemenuhan hak-hak mereka sebagai pekerja. (cem)

Sikap tegas Bupati Lotim, Ingin Tertibkan Kawasan Surfing Ekas dan Wujudkan Keamanan Investasi

Selong (globalfmlombok.com) – Bupati Lombok Timur (Lotim) H. Haerul Warisin mengakui mengambil sikap tegas terhadap masalah yang terjadi di kawasan Surfing Ekas, Desa Ekas Buana Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim). Tindakannya mengusir boatmen asal Lombok Tengah karena ingin menyelesaikan konflik berkepanjangan di kawasan Surfing Ekas dan mencoba mewujudkan keamanan investasi bagi para pelaku bisnis wisata di Lotim.

Kepada wartawan, Rabu (18/6)  kemarin, Bupati Lotim menanggapi kekisruhan yang terjadi di media sosial. Dia mengaku telah melihatnya langsung dari berbagai jejaring media sosial. Menurutnya, tanggapan warga terhadap apa yang telah dilakukan pasti ada plus minusnya. “Itu merupakan hal biasa,” ucapnya.

Tindakan pengusiran yang dilakukan bersama aparat Pol PP Selasa lalu itu bukan tanpa alasan jelas. Sebelum dia melakukan tindakan tegas pada boatmen, diawali dengan pertemuan dengan pelaku wisata dan pemilik hotel yang ada di wilayah Lotim selatan tersebut.

Konflik di spot surfing seperti di Pantai Surga Desa Ekas Buana dan kawasan  surfing lainnya sudah lama terjadi. Konflik yang berkepanjangan tersebut berdampak negatif terhadap tingkat okupansi hotel di wilayah selatan. Para pelaku wisata, utama pengelola hotel yang ditarik pajaknya oleh pemerintah daerah Kabupaten Lotim ini mengeluh.

“Saya sudah bertemu dengan pelaku wisata dan diketahui masalah tersebut sudah cukup lama dan belum ada solusinya,” jelasnya. Tamu yang menginap biasanya seminggu, berkurang jadi dua hari saja. Wisatawan asing banyak yang kabur karena tidak nyaman.

Wisatawan sebenarnya memilih berlibur ke Lotim Selatan karena ingin surfing. Lantaran tidak menemukan apa yang dicari karena dominasi  tamu asal Loteng membuat wisatawan kabur. Kondisi itu jelas membuat sumber PAD bagi Lotim dari pajak hotel dan restoran dari selatan ikut hilang.

Selaku kepala daerah yang bertanggung memberikan jaminan keamanan di wilayahnya, Bupati mengambil sikap tegas. Disadari, investor bidang wisata ini membangun penginapan dengan modal besar. Butuh waktu lama untuk bisa balik modal.

Dikhawatirkan, investor justru tidak mau lagi menanamkan modal karena pemerintah tak memberikan jaminan keamanan. “Semua investor tidak akan percaya ke Kabupaten Lombok Timur lagi, kalau ini yang terjadi. Tentu kemajuan dari sektor pariwisata yang telah kita dengung-dengungkan ini tidak pernah terwujud,’’ ucapnya.

Maka pihaknya berkewajiban untuk menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Karena menurut Iron sapaan akrab Bupati Lotim, tidak merugikan siapa pun. “Jadi, kita tidak ada melarang, tapi hanya ingin adanya ketertiban.’’

Bupati mengaku tidak ingin melakukan pembiaran atas konflik antar pemain bisnis wisata yang cenderung merugikan Lotim. Pemerintah katanya  sudah capek-capek datangkan investor agar mau berinvestasi. Tugas pemerintah kemudian tetap harus jaga iklim investasi.

Dirinya berharap pengusaha pariwisata Lotim, menjaga wilayahnya masing-masing. Para tamu agar dilayani dengan baik. Buat para tamu nyaman. “Jika mereka sudah nyaman mereka akan meyakini Lotim tempat yang baik untuk berwisata. Baik olah raga, surfing dan lainnya, sehingga mereka akan betah di sini,” ujarnya.

Para pelaku wisata di Ekas, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim), menyambut positif langkah tegas Bupati H. Haerul Warisin yang turun langsung meninjau lokasi surfing atau dikenal Ombak Teluk Ekas.

Turunnya orang nomor satu di Gumi Patuh Karya ini setelah menerima keluhan panjang dari pelaku wisata di Ekas, soal dominasi pemandu wisata (surf guide) dari Loteng.

Sebelum mendatangi Teluk Ekas menggunakan perahu, Bupati Lotim terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi dengan pelaku wisata Blue Tourism Zone Lotim yang dihadiri semua pelaku wisata di Ekas, unsur kepolisian, Polairud dan sejumlah tamu mancanegara.

Jaya Kusuma, salah satu pelaku usaha pariwisata di Ekas, mengapresiasi respons cepat Bupati Haerul Warisin yang turun langsung ke Teluk Ekas Lotim dan menegur surf guide Loteng yang membawa tamu ke lokasi.

 “Alhamdulillah, Bupati Lotim datang ke spot konflik dan memberi peringatan keras. Jika tidak ditangani dengan cepat, ini bisa merusak kenyamanan wisatawan mancanegara,” tambah Jaya.

Kebijakan ini diambil setelah mendengar keluhan surf guide dan tamu yang menginap di Lotim tidak dapat berselancar karena lokasi didominasi tamu dari Loteng. “Tamu kita sendiri tidak kebagian ombak, hanya jadi penonton. Malah dikuasai orang luar. Ini tentu tidak adil,” tegas Warisin.

Kebijakan ini diharapkan mengembalikan hak pelaku usaha lokal sekaligus meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pariwisata. “Ekas harus memberi manfaat bagi masyarakat Lotim,” pungkas Warisin.

Dengan langkah tegas ini, Pemkab Lotim berkomitmen menciptakan iklim wisata yang adil dan nyaman, khususnya di destinasi unggulan seperti Ekas.

Staf Khusus Bidang Pariwisata, Akhmad Roji menambahkan, konflik di spot surfing sudah lama terjadi. Konflik terjadi antara para boatmen dari Loteng dengan pelaku wisata di wilayah selatan Lotim. Bupati hadir untuk menyelesaikan konflik tersebut setelah menerima pengaduan dari para pelaku wisata.

Boatmen dari wilayah Loteng ini membawa tamu ratusan orang. Hal ini membuat tidak ada tempat bagi tamu tamu asal Lotim yang ingin melakukan surfing. Disinyalir, para pemain dari Loteng ini pasang tarif cukup mahal dengan kisaran Rp 500-1 juta per orang. Sementara dari Lotim hanya menjual Rp 100 ribu.

Bupati tidak  bermaksud melarang wisatawan dari daerah manapun melakukan surfing. Hanya saja, diminta jangan sampai mendominasi yang menimbulkan konflik antar pelaku usaha pariwisata. Bahkan beberapa kali pelaku wisata asal selatan ini dipukul orang dari Loteng hingga berujung proses hukum. (rus)

Dinkes Lotim Aktifkan Kembali Posyandu, Kejar Target 100 Persen Kehadiran untuk Tekan Stunting

Selong (globalfmlombokcom) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Timur (Lotim) secara resmi menggerakkan kembali seluruh Posyandu di wilayahnya. Gerakan ini menekankan pentingnya kehadiran 100% sasaran, terutama balita, guna mendeteksi dan mencegah dini kasus stunting dan gizi buruk.

Kepala Dinkes Lotim, Dr. H. Pathurrahman usai acara Gerakan Aktifkan Posyandu di Desa Korleko Selatan, Rabu (18/6) menegaskan target kehadiran di Posyandu harus mencapai 100%. “Semisal sasaran 100 anak, maka semua harus hadir. Saat ini kita masih di bawah 200 persen . Harus semua bekerja sama,” tegas Pathurrahman.

Ia menyatakan pihaknya akan melakukan sweeping bersama Puskesmas untuk menjangkau anak-anak yang tidak datang. “Kami khawatir kalau yang ternyata yang tak hadir adalah yang stunting,” urainya.

Pathurrahman menekankan bahwa penanganan stunting dan peningkatan kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Ia mengacu pada enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Permendagri No. 13 Tahun 2024.

“Di Posyandu desa, jangan lagi kesehatan saja yang bergerak. Tapi sektor lain harus bergerak,” ujarnya.

Ia memberi contoh, masalah sanitasi dan air bersih yang menjadi pemicu stunting adalah ranah PUPR. “Konsepnya bersama semua. Atasi masalah tidak saja kesehatan. Ketika bicara air bersih maka instansi lain yang bicara. Semua multi sektor bisa bicara.”

Pathurrahman memuji kinerja Desa Korleko Selatan dalam menekan angka stunting. Ia juga mengingatkan pentingnya teknik penimbangan yang akurat. “Penimbangan bayi stunting disoroti karena banyak yang perlu diperbaiki. Perhatikan cara penimbangan. Kalau menimbang dengan berpakaian, berat pakaian harus dikurangi,” pesannya.

Kepala Desa Korleko Selatan, Sirojudin, memaparkan capaian desanya. Dengan 6 dusun, 13 RT, dan 1.320 KK (3.697 jiwa), desa ini memiliki 6 kelompok Posyandu yang aktif memberikan makanan tambahan (PMT) bagi sasaran prioritas. “Tahun 2025, sasaran PMT kami 557 orang, terdiri dari stunting (23), kurang gizi (15), bumil (34), bayi (115), balita (220), dan lansia (150),” jelas Sirojudin. Ia membuktikan keberhasilan dengan penurunan angka stunting dari 34 anak di 2024 menjadi 23 anak di 2025.

 Suhendra Anggaranto, Pembina Posyandu dari Ketua Pokja IV TP PKK, menyatakan Posyandu adalah wadah partisipasi masyarakat vital untuk kesejahteraan ibu dan anak serta deteksi dini penyakit.

Memasuki 2025, jumlah Posyandu di Lotim mencapai 2.018, bertambah 9 dari tahun sebelumnya. Transformasi signifikan terjadi dengan revitalisasi Posyandu konvensional menjadi Pos Pelayanan Terpadu (PosGA). “Antusiasme masyarakat tinggi. Sasaran PosGA tidak lagi hanya balita dan bumil, tapi melayani semua siklus hidup. Pelayanan kesehatan menjadi lebih sinergis dan terintegrasi,” papar Suhendra.

Konsep ini diperkuat dengan pengembangan Posyandu SMART yang tak hanya fokus pada kesehatan, tetapi juga mengintegrasikan enam SPM, mencakup pendidikan, PUPR, perumahan, serta keamanan dan ketertiban. “Posyandu diharapkan menjadi pusat edukasi dan deteksi dini,” imbuhnya.

Meski kunjungan ke Posyandu menunjukkan peningkatan signifikan mencapai 79,4 persen pada April 2025, TP PKK Lotim menyoroti  masih ada 21 persen balita yang belum terpantau perkembangannya. “Ini menjadi perhatian serius. Kami juga berharap Posyandu dapat mendeteksi keluarga berisiko stunting secara lebih dini dan menyeluruh,” pungkas Suhendra

Dia menegaskan komitmen untuk terus mendorong keaktifan Posyandu sebagai garda terdepan pencegahan stunting dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan holistik dan kolaboratif. (rus)

Kos-kosan Elite Diduga Hindari Pajak

Mataram (globalfmlombok.com) – Bisnis kos-kosan cukup menggiurkan. Pengusaha menawarkan berbagai fasilitas mewah untuk menarik peminat. Fenomena ini justru mengancam bisnis perhotelan. Kos-kosan elite diduga berkamuflase untuk menghindari pajak.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri menyampaikan, organisasi perangkat daerah (OPD) teknis sebenarnya telah ditugaskan untuk mendata sekaligus kos-kosan di Kota Mataram. Kos-kosan juga perlu diklasifikasikan antara kos elite dan biasa. Perbedaan ini harus tertuang  dalam regulasi baik berupa peraturan daerah  maupun peraturan wali kota untuk dilakukan kajian bersama. “Setelah dilakukan kajian maka menjadi dasar untuk pelaksanaan di lapangan,” jelasnya ditemui pada, Rabu (18/6).

Sekda melihat fenomena kos-kosan elite di Mataram. Masyarakat mengubah hotel sebelumnya tidak laku menjadi kos-kosan. Tujuannya untuk menghindari pajak. Kamuflase pengusaha hotel perlu diantisipasi untuk menghindari kebocoran pendapatan asli daerah. “Mereka berkamuflase untuk menghindari pajak,” ujarnya.

Perilaku ini justru dikhawatirkan berdampak terhadap bisnis perhotelan. Masyarakat secara leluasa memilih fasilitas penginapan atau kos-kosan yang terjangkau dengan fasilitas seperti hotel. Seperti, kos-kosan menyediakan pendingin ruangan (AC), parkir kendaraan yang luas, tempat tidur yang nyaman dan lain sebagainya. “Masyarakat justru memilih tinggal di kos yang harganya murah daripada di hotel dengan harga mahal,” katanya.

Praktik seperti ini akan ditertibkan. Salah satunya dengan membentuk regulasi dan berkomunikasi dengan legislative supaya kos-kosan elit juga menjadi salah satu sumber pemasukan daerah. Selain itu, pihaknya juga akan mencoba mengadopsi regulasi dari kabupaten/kota yang telah menerapkan aturan tersebut untuk menjadi pembanding dalam pelaksanaan di lapangan. “Nanti kita akan studi tiru di beberapa daerah yang sudah menerapkan aturan itu,” katanya.

Bagaimana dengan kos-kosan mahasiswa? Alwan menegaskan, kos-kosan mahasiswa berbeda dengan kos-kosan elite. Kos untuk mahasiswa sangat minim fasilitas. Sewa relatif murah dibandingkan kos dengan fasilitas mewah. Dalam regulasi itu akan diklasifikasikan agar menghindari kecemburuan di tengah masyarakat. (cem)

Dukung Pengelolaan Sampah Lewat KPBU

KOMISI III DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendukung penanganan sampah, khususnya di 3 Gili melalui mekanisme Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pengelolaan oleh pihak ketiga profesional ini memberi jaminan transparansi dan akuntabilitas retribusi, serta memberi kepastian penanganan sampah di objek wisata internasional itu lebih terjamin.

Ketua Komisi III DPRD KLU, Sutranto, S.Pd.B., dan Anggota Komisi III, M. Indra Darmaji Asmar, ST., Rabu (18/6), mendukung wacana Pemda c.q Dinas Lingkungan Hidup, untuk melakukan KPBU pada pengelolaan sampah di 3 Gili. Menurut keduanya, sampah yang diproduksi setiap hari oleh perhotelan dan rumah tangga, harus memperoleh jaminan penanganan yang optimal.

“Harus diakui, selama 17 tahun usia Lombok Utara, persoalan sampah belum bisa kita kendalikan. Produksi tahunan kita lebih dari 100 ton, jadi mengapa ini penting untuk dikelola secara profesional,” ungkap Sutranto.

Ia menyatakan, penanganan sampah di tengah mobilitas tinggi masyarakat di 3 Gili perlu sumber daya besar. Tidak hanya anggaran, peralatan, dan tenaga, tetapi juga mencakup manajemen pengendalian yang memastikan ketiga area – Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan, bebas dari keluhan permasalahan sampah.

APBD KLU, menurut Politisi PKB ini, tidak cukup kuat untuk membiayai seluruh kebutuhan penanganan sampah. Penanganan di Gili Meno dan Gili Air saja, Pemda masih mengandalkan pengambilan sampah secara berkala. Sedangkan sampah Gili Trawangan yang dikelola oleh TPST melibatkan FMPL, belum optimal menghindarkan Gili bebas sampah.

Hal senada ditegaskan Indra Darmaji. Ia meminta agar Dinas LH segera menyusun telaah staf terhadap persoalan sampah di 3 Gili. Selain itu, Dinas juga perlu memaparkan di DPRD, keunggulan KPBU dibandingkan dengan pengelolaan “konvensional” yang selama ini diterapkan.

“Kalau memang dengan KPBU ada jaminan retribusi bisa lebih transparan dan memberi solusi permasalahan sampah, kenapa tidak. Kami di DPRD pasti mendukung langkah KPBU tersebut,” tegas Darmaji.

Ia juga menyarankan kepada Bupati dan Wakil Bupati, untuk mulai membangun langkah-langkah progresif menuju KPBU. Sebab, persoalan sampah tidak akan teratasi jika dibarengi dengan kebijakan yang cepat dan tepat.

“3 Gili ada penyumbang PAD terbesar untuk KLU, sangat wajar Pemda memberi imbal balik melalui kebijakan dan pelayanan yang mendukung pengembangan ketiga wilayah itu,” tandasnya. (ari)

Budidaya Maggot Kendala Pengelola

BUDIDAYA ulat maggot di Kelurahan Monjok Timur, Kecamatan Selaparang, merupakan salah satu inisiatif dalam mengelola sampah organik dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Akan tetapi, program ini menghadapi kendala sumber daya manusia (SDM) yang perlu diatasi supaya dapat berkembang secara berkesinambungan.

Lurah Monjok Timur, Sumanto menyampaikan, saat ini kendala yang dihadapi dalam pengelolaan budidaya ulat maggot  adalah kekurangan sumber daya manusia (SDM) untuk mengurus pemeliharaan program tersebut. Namun, budidaya yang dikembangkan oleh pemuda kreatif tetap berjalan. “Saat ini masih berjalan kondisi proses pembesaran di situ,” ucapnya saat dikonfirmasi pada, Rabu (18/6).

Ia menjelaskan, SDM sebelumnya yang mengelola maggot atau (Black Soldier Fly) sedang bekerja di Tempat Pembuangan Sementara Terpadu (TPST) Sandubaya. Ia masih mengupayakan untuk mencari petugas pengelola istana maggot yang mampu dan konsisten dalam bekerja agar program inovatif ini terus berlanjut.

Sumanto menyebutkan, dalam satu bulan ia panen dua kali. Hasil panen pada ulat maggot jumlahnya tidak menentu mulai dari dua hingga puluhan kilogram. Satu kilogram biasanya dijual dengan harga Rp6.000-Rp7.000. “Yang dulu hampir sampai puluhan kilogram, kalau sekarang secukupnya karena volumenya sedikit,” jelasnya.

Menurutnya, budidaya maggot ini sebenarnya sebagai upaya Pemkot Mataram mengurangi produksi sampah yang dibuang ke TPST Sandubaya maupun ke Tempat Pengolahan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Selain itu, pemerintah mendorong sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik juga menjadi fokus utama. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah tangga diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan pakan maggot dan mendukung keberlanjutan program ini.

Ia berharap, bagaimana program ini tetap berjalan supaya kedepannya menjadi salah satu contoh bagi kelurahan lain untuk bisa diikuti dalam mengelola sampah organik skala lingkungan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. (pan)

HUT Tagana Indonesia Ke 21, Tim Tagana Lobar Kembali Raih Juara Umum

Giri Menang (globalfmlombok.com)  – Tagana Lombok Barat (Lobar) kembali meraih juara umum pada lomba yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Tagana Indonesia ke 21 Tahun 2025 Tingkat Provinsi NTB yang dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kegiatan ini berlangsung beselama tiga hari, dari tanggal 14-16 Juni 2025

“Alhamdulillah Tagana kita juara umum pada HUT Tagana Indonesia tingkat Provinsi yang diadakan di KLU,” kata Kepala Dinas Sosial Lobar H. L, Winengan, kemarin.

Dikatakan hal ini berkat kerja sama dan kekompakan serta kerja keras Tagana yang tidak saja berjibaku pada saat lomba saja, namun pada berbagai kejadian bencana mereka tak kalah aktif sebagai garda terdepan membantu masyarakat.

Tagana Lobar Mardiansyah menambahkan, beberapa mata lomba yang dilombakan yakni managerial skil,tehnikal skil dan konseptual skill.

Semua mata lomba diikuti oleh seluruh peserta dari kabupaten/kota se NTB. Dari hasil lomba itu, Tagana Lobar meraih juara umum setelah berhasil memenangkan semua mata lomba.  Pada lomba managerial skill juara ll Tehnikal skil juara l dan konseptual juara ll. Sedangkan juara l pada managerial skill di menangkan oleh Tagana Lotim dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Selain kegiatan lomba, kegiatan pada acara HUT tersebut juga dirangkai dengan bakti sosial/bedah rumah, Tagana masuk sekolah dan peningkatan kapasitas anggota Tagana Muda se kabupaten/kota di NTB. (her)

Tragis, Mahasiswa Tewas di Tangan Teman Sendiri di Kos-Kosan Kota Bima

Kota Bima (globalfmlombok.com) – Seorang mahasiswa berinisial RS (19) ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan terhadap rekannya sendiri, Sandi M. Safi’i (24), dalam insiden tragis di sebuah kamar kos di Kelurahan Mande, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, Selasa (17/6) sore. Korban ditemukan tewas bersimbah darah dengan luka bacok di bagian leher dan dahi.

Kasat Reskrim Polres Bima Kota, AKP Dwi Kurniawan Kusuma Putra, mengatakan bahwa, penetapan tersangka diumumkan oleh Wakapolres Bima Kota, Kompol Herman, dalam konferensi pers pada Rabu (18/6) sore di Mako Polres Bima Kota.

Dikatakan, pelaku berhasil ditangkap oleh tim gabungan Polres Bima Kota di Desa Lambu, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, pada Rabu pagi.

“Tersangka RS diketahui merupakan mahasiswa asal Kelurahan Penanae, Kecamatan Raba, Kota Bima. Ia kini dijerat Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan berencana, dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara maksimal 20 tahun,” ujarnya.

Dipicu Pertengkaran

Berdasarkan penyelidikan awal, insiden berdarah itu dipicu pertengkaran antara pelaku dan korban. Wakapolres menjelaskan, pertengkaran terjadi karena korban diduga melontarkan kata-kata kasar kepada tersangka. Amarah tersangka memuncak hingga ia mengambil sebilah parang yang disimpan di bawah kasur, lalu membacok korban hingga tewas.

Korban, yang diketahui merupakan warga RT 003 RW 002 Desa Donggobolo, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, mengalami luka parah di leher bagian kiri dan dahi.

“Ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di atas kasur kamar kosnya di lingkungan Kos Putra Istana Bogor, RT 10 RW 03 Lingkungan Mande III, Kelurahan Mande,” bebernya.

Konsumsi Miras

Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 16.30 Wita. Saat itu, korban sedang duduk bersama enam orang temannya, termasuk tersangka, di emperan depan kos sambil mengonsumsi minuman keras dan mendengarkan musik dari ponsel. Kemudian, korban diajak masuk ke dalam kamar oleh empat orang dari kelompok tersebut.

Dua orang keluar lebih dulu dan kembali duduk di depan kamar, sementara dua lainnya, termasuk pelaku RS, tetap berada di dalam bersama korban. Tak lama, suara pertengkaran terdengar dari dalam kamar.

Seorang saksi mata, Uut (18), mahasiswi asal Soromandi yang tinggal di kos sebelah, mengaku mendengar suara cekcok dan kemudian mengintip ke dalam kamar. Ia melihat korban sudah terkapar bersimbah darah di atas kasur.

Setelah kejadian, para pelaku langsung melarikan diri dari lokasi. Korban sempat terlihat masih bergerak, namun beberapa menit kemudian dinyatakan meninggal oleh seorang warga bernama Wahidin (30), yang tiba di lokasi tak lama setelah insiden.

Polisi Bergerak

Pihak kepolisian dari Polsek Rasanae Barat menerima laporan warga sekitar pukul 17.15 Wita. Dipimpin Kapolsek AKP Suratno, petugas segera mengamankan TKP dan meminta keterangan dari para saksi. Tim identifikasi dari Polres Bima Kota tiba satu jam kemudian untuk melakukan olah TKP.

Barang bukti berupa sebilah parang yang digunakan pelaku dalam pembunuhan berhasil diamankan. Polisi juga telah mengumpulkan keterangan saksi-saksi untuk memperkuat proses penyidikan.

Disambut Isak Tangis

Jenazah Sandi M. Safi’i tiba di kediamannya di Desa Donggobolo pada Selasa malam, pukul 20.49 Wita. Suasana duka menyelimuti rumah duka saat jenazah disambut isak tangis keluarga, kerabat, dan tetangga.

Polres Bima Kota menegaskan komitmennya untuk mengusut tuntas kasus ini dan memastikan proses hukum berjalan secara adil. Wakapolres Bima Kota, Kompol Herman menyampaikan bahwa, penyidik akan terus melakukan upaya maksimal agar keluarga korban mendapat kepastian hukum. (hir)

Unram Lakukan Kegiatan Pemberdayaan untuk Anak-Anak Rohingya

Mataram (globalfmlombok.com) – Sebanyak 54 anak-anak Rohingya yang menjadi siswa binaan di Baitul Rohmah Rohingya Learning Center, wilayah perbatasan Malaysia–Thailand, mengikuti program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat internasional yang digagas oleh Universitas Mataram (Unram), Indonesia pada 11–15 Juni 2025.

Program ini berada di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unram dan merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi terhadap inklusivitas dan pendidikan global.

Dengan mengusung tema “Dream Beyond Borders”, kegiatan ini bertujuan membangkitkan kesadaran jati diri dan menumbuhkan semangat bermimpi bagi anak-anak tanpa kewarganegaraan (stateless children), banyak di antaranya merupakan hasil perkawinan antara ibu WNI dan ayah etnis Rohingya.

Melalui pendekatan seni visual, terutama lukisan, anak-anak diajak menuangkan impian mereka tentang masa depan dan negara yang mereka harapkan dapat menjadi tempat tinggal penuh harapan dan tanpa diskriminasi. Program ini terselenggara berkat kolaborasi erat antara Unram dan Universiti Utara Malaysia (UUM).

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Unram, Mega Nisfa Makhroja, menyampaikan bahwa ini adalah tahun kedua pelaksanaan program serupa di kawasan tersebut.

“Program ini tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan harapan dan keberanian anak-anak dalam membayangkan dunia yang lebih baik. Kami ingin mereka berani bermimpi dan percaya pada masa depan mereka,” ujar Mega.

Turut hadir memberikan dukungan dalam kegiatan ini adalah Dr. Nur Suzylah Sohaimi dan Assoc. Prof. Madya Dr. Mohd Naem Ajis dari UUM. Keduanya menyampaikan materi motivasi yang memperkuat semangat para peserta.

Cik Zuklifli, perwakilan Yayasan Baitul Rohmah sekaligus Presiden Kedah Football Association, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada tim Unram. Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak anak-anak marjinal lainnya di masa mendatang.

“Kami sangat menghargai kontribusi ini. Program ini membawa harapan bagi anak-anak yang seringkali terlupakan,” ucapnya.

Program ini menegaskan komitmen Unram dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama dalam hal hak atas pendidikan, pengurangan ketimpangan, dan kerja sama lintas negara.

Sebagai penutup, anak-anak peserta program menyampaikan pesan menyentuh dengan penuh ketulusan, “Kami, pelajar Baitul Rohmah Rohingya Learning Center, mengucapkan terima kasih kepada Universitas Mataram dan Universiti Utara Malaysia atas program ini. Terima kasih!”. (ron)

Tangani Stunting di NTB, MIM Foundation Produksi Telur Omega-3 dari Dana Wakaf

Mataram (globalfmlombok) – Upaya penanganan stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus melibatkan berbagai pihak. Lembaga Amil Zakat (LAZ) Metro Insan Mulia (MIM) Foundation turut berkontribusi melalui program Wakaf Produktif Ayam Petelur yang memproduksi telur Omega-3 untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.

Ketua MIM Foundation, Romi Saepudin, menjelaskan bahwa program ini diluncurkan sebagai bentuk keprihatinan terhadap tingginya angka stunting di NTB serta ketergantungan daerah terhadap pasokan telur dari luar.

“Daerah kita masih mendatangkan telur dalam jumlah besar dari luar untuk memenuhi kebutuhan. Padahal telur merupakan komoditas penting, baik untuk gizi masyarakat maupun sebagai komponen inflasi,” ujarnya di Mataram, Rabu, 18 Juni 2025.

Program ini didanai melalui skema wakaf tunai yang telah disetujui oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Agama, kemudian disalurkan melalui Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU). Hingga kini, MIM Foundation telah berhasil menghimpun dana sebesar Rp270 juta untuk pengadaan ayam petelur.

Telur yang dihasilkan merupakan telur Omega-3, yaitu telur dengan kandungan asam lemak esensial DHA yang penting bagi perkembangan otak dan kesehatan tubuh. Telur ini dihasilkan dari ayam yang diberi pakan khusus mengandung omega-3, seperti biji rami, minyak ikan, atau alga.

Menurut Romi, ide pengembangan telur Omega-3 ini bermula dari diskusi dengan mantan Kepala Dinas Kesehatan NTB, Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS. Dalam pertemuan tersebut, Dr. Fikri menyebut konsumsi telur harian sebagai langkah sederhana namun efektif dalam menanggulangi stunting, terlebih jika yang dikonsumsi adalah telur Omega-3.

“Awalnya kami uji coba dengan 200 ekor ayam. Hasilnya bagus, permintaan pasar juga tinggi. Kini kami memiliki sekitar 2.500 ekor ayam, dengan 350 ekor di antaranya sudah mulai berproduksi menghasilkan sekitar 350 butir telur per hari,” kata Romi.

Harga jual telur Omega-3 dari MIM Foundation dipatok antara Rp30.000 hingga Rp35.000 per 10 butir, lebih rendah dibanding harga pasar yang mencapai Rp40.000–Rp50.000. Selain untuk dijual secara profesional, sebagian hasil produksi juga disalurkan secara gratis kepada masyarakat kurang mampu sebagai bagian dari program sosial.

Target ke depan, MIM Foundation berharap dapat meningkatkan jumlah ayam petelur hingga 6.000 ekor guna menjangkau lebih banyak penerima manfaat dan memperkuat pasokan telur lokal.

“Telur lokal berkualitas untuk anak-anak NTB, itu harapan kami. Ini menjadi bukti bahwa wakaf tidak hanya bernilai spiritual, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi dan solusi masalah gizi masyarakat,” pungkas Romi. (bul)