Beranda blog Halaman 201

Bansos Dinilai Tak Tepat Sasaran, Warga Pesisir Ampenan Mengeluh Tak Pernah Menerima Bantuan

Mataram (globalfmlombok.com) – Ketimpangan data bantuan sosial (bansos) masih terjadi di Kota Mataram. Sejumlah program bantuan pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan bantuan sosial lainnya dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.

Kondisi tersebut dirasakan Nurmah (60), warga Lingkungan Pondok Perasi, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan. Ia mengaku tidak pernah menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah, meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Padahal, menurut Nurmah, warga di sekitarnya yang memiliki kondisi ekonomi serupa, bahkan dinilai lebih mampu darinya, justru menerima bantuan tersebut.“Saya tidak pernah dapat sampai sekarang. Setiap orang ambil uang bantuan, saya cuma bisa nonton,” ujar Nurmah, Senin (26/1/2026).

Nurmah sehari-hari mengurus cucu dan suaminya yang bekerja sebagai buruh nelayan. Penghasilan keluarga tidak menentu karena sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan laut. Saat cuaca ekstrem, nelayan tidak berani melaut sehingga tidak ada pemasukan sama sekali.

Selain hidup dalam keterbatasan ekonomi, Nurmah juga tinggal di wilayah pesisir yang setiap tahun terdampak gelombang pasang dan abrasi. Ancaman tersebut kembali dirasakannya saat gelombang pasang menerjang kawasan pesisir Ampenan pada Rabu malam (21/1/2026).

“Rumah saya kena air laut. Barang dagangan, uang hasil jualan, sampai sebagian peralatan dapur hanyut,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pendataan penerima bansos kerap dilakukan oleh petugas di lingkungannya. Namun, ketika bantuan dicairkan, namanya tidak pernah tercantum sebagai penerima. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nurmah kerap terpaksa meminjam uang dari tetangga. “Saya sudah pasrah. Mau berharap bantuan, tapi tidak pernah datang,” katanya.

Menanggapi keluhan tersebut, Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, mengatakan pihak kelurahan melalui kepala lingkungan telah mengusulkan hampir seluruh warga yang dinilai kurang mampu. Namun, penetapan penerima bantuan sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Kami hanya mengusulkan. Penentuan penerima itu berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dari pusat,” jelas Rudy.

Ia menjelaskan, penerima bansos ditentukan berdasarkan kategori desil. Apabila seseorang berada di atas desil lima, maka yang bersangkutan dianggap sebagai keluarga mampu dan tidak masuk sebagai penerima bantuan. “Itu kewenangan pusat. Kami di kelurahan hanya mengikuti data yang sudah ditetapkan,” pungkasnya. (pan)

Program MBG Bikin Pasar Telur NTB Lebih Stabil, Peternak Kian Optimistis Berinvestasi

0

Mataram (globalfmlombok.com) – Program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) besutan Presiden Prabowo Subianto telah memberikan dampak nyata bagi peternak unggas lokal, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Salah satu manfaat paling dirasakan adalah stabilnya penyerapan telur di pasar, yang berimbas langsung pada kestabilan harga dan meningkatnya optimisme peternak untuk mengembangkan usaha.

Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat (Petarung) NTB, Ervin Tanaka di Mataram, Senin, 26 Januari 2026 mengatakan, sejak program MBG dijalankan oleh pemerintah, gejolak pasar telur yang sebelumnya kerap terjadi kini mulai berkurang. Permintaan yang konsisten membuat serapan produksi peternak menjadi lebih terjamin.

“Kalau manfaat MBG ke peternak lokal jelas dirasakan. Penyerapan telur sekarang jauh lebih stabil, tidak lagi bergejolak seperti sebelumnya,” ujar Ervin.

Ia menjelaskan, meningkatnya permintaan telur untuk kebutuhan MBG secara tidak langsung memperkuat pasar lokal. Meski sebagian besar peternak belum berhubungan langsung dengan pengelola MBG, suplai tetap terserap melalui pihak ketiga atau mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan peternak.

“Umumnya peternak lokal menyalurkan telur lewat mitra. Karena kalau langsung biasanya ada tempo pembayaran, sementara lewat pihak ketiga pembayarannya lebih cepat,” jelasnya.

Menurut Ervin, mitra-mitra tersebut kini menambah volume pengambilan telur karena juga menyuplai kebutuhan MBG. Jika sebelumnya pengambilan berkisar sekitar 100 tray setiap tiga hari, kini jumlahnya mengalami peningkatan.

Dari sisi harga, Ervin menegaskan kondisi juga relatif stabil. Saat ini harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp50.000 hingga Rp52.000 per tray untuk ukuran sedang. Harga tersebut tidak mengalami lonjakan meskipun permintaan meningkat.

“Harganya cenderung stabil. Tidak serta-merta naik terus karena memang sudah ada pengaturan pemerintah terkait harga acuan,” katanya.

Dari sisi produksi, Ervin menyebutkan total produksi telur dari seluruh anggota peternak unggas lokal NTB dibawah Petarung saat ini mencapai sekitar 700 ribu hingga 800 ribu butir per hari. Produksi tersebut masih terserap sepenuhnya oleh pasar lokal.

“Yang jelas, produksi kita terserap dan stabil,” tegasnya.

Ia menambahkan, jumlah anggota peternak unggas lokal NTB saat ini berkisar 46 hingga 50 peternak, tersebar di berbagai wilayah di NTB. Sejak akhir tahun lalu, tren penambahan populasi ternak mulai terlihat, seiring meningkatnya keyakinan peternak terhadap prospek usaha telur.

“Sejak akhir tahun kemarin sudah terasa. Banyak peternak mulai menambah populasi, bahkan muncul peternak-peternak baru,” ungkap Ervin.

Dampak positif MBG ini juga mendorong peternak untuk lebih berani berinvestasi. Peternak yang memiliki modal mulai memperluas kandang dan menambah jumlah ternak demi meningkatkan produksi.

“Manfaat MBG ini benar-benar disyukuri peternak. Kami jadi lebih optimistis untuk mengembangkan usaha ke depan,” pungkas Ervin. (bul)

Oknum WN Selandia Baru Diduga Lakukan Kekerasan Seksual pada Warga Sekotong

Mataram (globalfmlombok.com) – Seorang Oknum Warga Negara (WN) Selandia Baru yang merupakan pemilik salah satu hotel di Sekotong, Lombok Barat, diduga melakukan kekerasan seksual kepada warga lokal.

Ketua Bantuan Hukum (BKBH) Universitas Mataram (Unram), Senin (26/1/2026) mengatakan, dugaan kekerasan seksual itu terungkap setelah tiga orang korban datang meminta perlindungan hukum kepada pihaknya. Tiga orang itu terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki.

“Barusan saya ketemu dengan dua perempuan dan laki-laki. Mereka melaporkan kasus kekerasan seksual yang dialaminya. Yang pelakunya adalah pemilik hotel di Sekotong, WN Selandia Baru,” kata Joko.

Salah satu korban kata Joko, telang mengenal terduga pelaku sejak lama. Oknum WN Selandia Baru itu sempat mengajak korban menikah. Sehingga korban selanjutnya mengajak dua temannya untuk bertemu terduga pelaku.

Saat mereka bertemu, terduga pelaku kemudian memaksa mereka untuk melakukan hubungan seksual bertiga. “Ada dua perempuan dengan si pelaku. Atau dua laki-laki dengan satu perempuan,” sebutnya.

Joko menyebutkan, para korban mengaku mengalami dugaan kekerasan seksual pada periode Juli dan September 2025 lalu. Menurut Joko, terduga pelaku dan istrinya diduga memiliki kelainan seksual. Mereka didiga memiliki fantasi tidak seperti orang pada umumnya.

“Pelaku punya fantasi, ketika dia melihat orang atau pasangan orang, ingin melakukan persetubuhan. Dia (pelaku) punya istri, istrinya juga begitu,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Mataram itu.

BKBH Unram setelah mendapat aduan berencana segera melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. Joko mengaku, selain keterangan saksi-saksi, pihaknya juga telah mengantongi bukti lainnya. Salah satunya, rekaman video perbuatan terduga pelaku.

“Apakah Polres Lombok Barat atau Polda NTB, kami masih diskusikan. Yang jelas kami punya bukti. Pelaku sekarang masih di Lombok,” sebutnya.

Menurut Joko, perilaku Oknum WN Selandia Baru itu mengarah kepada Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Dugaan penyimpangan seksual tersebut saat ini menjadi atensinya.

“Kita punya videonya. Penyimpangan seksual ini kok ada dan menyita perhatian. Ini yang kemudian kami dalami,” tandasnya. (mit)

Sinkronkan Program Nasional 2026, Pemprov Alokasikan Anggaran Pengawasan Ketenagakerjaan di Lombok dan Sumbawa

Mataram (globalfmlombok.com)-

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalokasikan anggaran untuk memperkuat pengawasan ketenagakerjaan dan keselamatan kerja melalui sejumlah program yang tertuang dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) 2026. Kebijakan ini sejalan dengan prioritas pembangunan nasional, yakni pengembangan infrastruktur, peningkatan lapangan kerja berkualitas, serta penguatan kewirausahaan dan industri kreatif berbasis agromaritim.

Dalam dokumen RAPBD, anggaran tersebut dialokasikan melalui program penunjang urusan pemerintahan daerah dan program pengawasan ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh Balai Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Untuk Pulau Lombok, Pemprov NTB mengalokasikan anggaran sebesar Rp125,85 juta melalui Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi yang dilaksanakan oleh Balai Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Pulau Lombok. Selain itu, melalui Program Pengawasan Ketenagakerjaan, dialokasikan anggaran sebesar Rp49,99 juta untuk memperkuat pengawasan ketenagakerjaan dan penerapan standar keselamatan kerja.

Sementara itu, untuk Pulau Sumbawa, anggaran pengawasan ketenagakerjaan dialokasikan melalui dua program. Program Pengawasan Ketenagakerjaan yang dilaksanakan oleh Balai Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Pulau Sumbawa memperoleh alokasi sebesar Rp39,49 juta. Selain itu, melalui Program Penunjang Urusan Pemerintahan Daerah Provinsi, Balai Pengawasan Ketenagakerjaan dan K3 Pulau Sumbawa mendapatkan anggaran sebesar Rp44,42 juta.

Secara keseluruhan, anggaran tersebut difokuskan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kepatuhan perusahaan terhadap regulasi ketenagakerjaan, serta meningkatkan perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja bagi para pekerja di NTB.

Pemerintah daerah menilai penguatan peran pengawasan ketenagakerjaan menjadi langkah strategis untuk mendukung iklim usaha yang sehat, melindungi hak pekerja, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan industri kreatif dan agromaritim di sentra-sentra produksi.(ris/r)

Intervensi Limbah Sampah, Mahasiswa KKN Desa Tanjung Hadirkan Rocket Stove

Tanjung (globalfmlombok.com)

Volume sampah di Kabupaten Lombok Utara menjadi atensi berbagai unsur masyarakat, tak terkecuali kelompok Mahasiswa KKN Universitas Mataram Desa Tanjung, kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Melalui inovasi Rocket Stove (semacam tungku pembakaran sampah berbasis teknologi tepat guna), diyakini menjadi solusi jangka panjang untuk pengendalian sampah di tingkat rumah tangga.

Menurut keterangan designer Rocket Stove, Letycia Luzan, Rocket Stove hadir sebagai alternatif mengurai sampah dari sumber, yakni rumah tangga. Rocket Stove dipilih karena media ini dapat membakar sampah (organik/anorganik) secara efisien dengan asap minimal. Alat ini meningkatkan suhu pembakaran, mengurangi volume sampah hingga 98,7 persen, dan menghasilkan abu yang dapat dijadikan pupuk, menjadikannya solusi ramah lingkungan di pedesaan.

Dari perencanaan konstruksi yang dilakukannya, Lety mencatat estimasi biaya yang dibutuhkan untuk membangun satu unit rocket stove kurang lebih Rp1,746 juta. Rinciannya, material hebel 1 kubik Rp 1,2 juta, ongkos tukang Rp 350 ribu, perekat Rp 145 ribu, serta besi Rp 51 ribu. Angka ini masih akan bertambah jika setiap rumah tangga pengguna memerlukan jasa konsultan untuk membuat desain. Namun, dengan contoh desain dan konstruksi yang dilakukan mahasiswa KKN Unram Desa Tanjung, sampel Rocket Stove ini dapat diperbanyak oleh Pemdes untuk dibangun di rumah tipe warganya.

“Kami sudah membangun rocket stove di satu titik sebagai sampel. Menunggu bangunan kering, kami bersama Pemdes akan melakukan uji coba pembakaran sampah,” ujar mahasiswa Teknis Sipil ini.

Sementara, Ketua KKN Desa Tanjung, Zulfahmi, mengklaim Rocket Stove sebagai satu inovasi sederhana namun berdampak nyata dalam mendukung Program Zero Waste. Rocket stove merupakan alat pembakaran sampah berteknologi draft vertikal yang dirancang untuk menghasilkan pembakaran lebih cepat, bersih, dan minim asap. Inovasi ini menjadi salah satu solusi atas permasalahan sampah yang selama ini ditangani secara konvensional oleh masyarakat.

“Umumnya masyarakat kita, membuang sampah tanpa mau tahu dampaknya. Tumpukan sampah bisa di pekarangan rumah, di kali, di lahan-lahan kosong atau dengan melakukan pembakaran terbuka yang berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan banyak orang,” ungkapnya.

Melalui pendekatan program Rocket Stove, pihaknya berharap menjadi alternatif penanganan sampah secara inklusif karena dapat dibangun di tiap-tiap rumah warga.

Ia menjelaskan, latar belakang dohadirkannya Rocket Stove tak lepas dari peningkatan volume sampah rumah tangga, baik organik maupun anorganik. Menurut data yang ada, Kabupaten Lombok Utara tercatat menghasilkan sampah harian sebesar 108,79 ton dengan Desa Tanjung sebagai salah satu penyuplainya.

” Baik Kepala Desa, Sekretaris Desa maupun Staff Desa yang kami temui saat melakukan survey pada awal masa KKN menerangkan, bahwa kondisi terkait sampah ini makin menghawatirkan karna banyak dari unit fasilitas pengelolaan sampah berupa Bank Sampah dan TPS3R sudah tidak aktif.”

“Maka melalui konsep Zero Waste, mahasiswa KKN berupaya mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab dengan mengurangi dampak pencemaran udara. Rocket stove dipilih karena menggunakan bahan sederhana, mudah dibuat, serta dapat diaplikasikan langsung oleh masyarakat desa sesuai dengan kondisi lingkungan setempat,” paparnya.

Kendati sudah banyak beredar di internet, namun keberadaan Rocket Stove di Lombok Utara, khususnya Desa Tanjung, tergolong baru. Program ini sendiri dicetuskan oleh ide para mahasiswa Kelompok KKN Unram Desa Tanjung, serta didukung oleh pemerintah Desa Tanjung serta masyarakat Desa.

Rocket stove perdana di Desa Tanjung ini mulai dibuat pertama kali pada Jumat (23/1) lalu. Pekerjaan selesai pada malam hari dengan bahan sederhana yang tersedia di pasar lokal. Berikutnya pada 26 Januari akan dilakukan ujicoba untuk mengetahui tingkat efektivitas konstruksi. Jika berfungsi dengan baik, maka pada 29 Januari, Pemdes bersama Dewan Masjid Baiturrahim yang sekarang Islamic Center KLU, didukung 17 Perangkat Kewilayahan se-Desa Tanjung, akan melakukan peresmian rocket stove.

“Karena bahannya yang sederhana sehingga dapat direplikasi oleh masyarakat secara mandiri. Dengan adanya rocket stove, diharapkan masyarakat Desa Tanjung dapat mengurangi praktik pembakaran sampah terbuka yang menghasilkan asap berlebih, sekaligus sebagai solusi teknis yang ramah lingkungan,” tandasnya. (ari)

 

Sirkuit Mandalika Masuk Kalender GT World Challenge Asia 2026

Praya (globalfmlombok.com) – SRO Motorsports merilis kalender sementara ajang balap mobil Fanatec GT World Challenge Asia musim 2026. Pada musim ini, kejuaraan balap roda empat kelas GT3 dan GT4 tersebut akan digelar di enam sirkuit yang tersebar di empat negara, yakni Jepang, Malaysia, Tiongkok, dan Indonesia.

Untuk seri di Indonesia, Pertamina Mandalika International Circuit kembali dipercaya menjadi tuan rumah. Sirkuit Mandalika dijadwalkan menggelar seri kedua GT World Challenge Asia 2026 pada 2–3 Mei 2026, atau sekitar satu bulan setelah seri pembuka yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Dalam kalender sementara tersebut, Jepang dan Tiongkok masing-masing mendapatkan jatah dua seri balapan dari total enam seri yang direncanakan. Setiap seri terdiri atas dua putaran, sehingga total akan ada 12 putaran balapan sepanjang musim. Setiap putaran dijadwalkan berlangsung selama satu jam.

“Musim baru ini akan mencakup sirkuit-sirkuit terkenal di Asia Tenggara, Tiongkok, dan Jepang,” tulis SRO Motorsports dalam keterangan resmi yang diterima Suara NTB, Sabtu (24/1/2026).

Fanatec GT World Challenge Asia merupakan kejuaraan balap mobil grand tourer multikelas tertinggi di Asia. Kejuaraan ini menjadi bagian dari platform global GT3 Sprint Racing milik SRO Motorsports Group dan diikuti pembalap dari berbagai level, mulai dari amatir hingga profesional.

Seri balapan ini terbuka untuk mobil kelas GT3 dan GT4. Kelas GT4 kemudian dibagi ke dalam dua kategori, yakni Pro-Am dan Am. Kategori Pro-Am diikuti pasangan pembalap profesional dan amatir, sedangkan kategori Am diperuntukkan bagi pasangan pembalap amatir.

Bagi Sirkuit Mandalika, penyelenggaraan GT World Challenge Asia 2026 menjadi kali kedua ajang balap mobil internasional tersebut digelar. Sejumlah merek mobil ternama seperti Porsche, Ferrari, Mercedes-Benz, dan Audi dipastikan ambil bagian, sebagaimana pada penyelenggaraan perdana yang berlangsung sukses pada 2025 lalu. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kalender Sementara Dirilis, Sirkuit Mandalika Gelar Seri Kedua GT World Challenge Asia 2026 “

Sesosok Mayat Bayi Ditemukan di Bypass BIL–Mandalika

Praya (globalfmlombok.com) – Warga Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, digegerkan dengan penemuan mayat bayi di pinggir jalan Bypass BIL–Mandalika, Minggu (25/1/2026) pagi. Bayi tersebut ditemukan sekitar pukul 06.50 Wita dan kini telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara, Mataram, untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Kapolsek Pujut Iptu M. Muhtar, S.H., mengatakan mayat bayi yang diduga baru dilahirkan itu pertama kali ditemukan oleh dua warga, Firman Siagian Saputra (19) dan Sigit Sugianto (15), saat melintas di kawasan tersebut. Keduanya diketahui hendak mencari jamur di area persawahan Dusun Jomang, Desa Sengkol.

“Saat melintas di Bypass BIL–Mandalika, saksi melihat sebuah tas kain berwarna biru tergeletak di pinggir jalan. Setelah dibuka, ternyata di dalamnya terdapat mayat bayi,” ujar Muhtar, Minggu siang.

Setelah memastikan temuan tersebut, kedua saksi memindahkan tas ke lokasi yang lebih terbuka tidak jauh dari tempat awal penemuan. Temuan itu kemudian disampaikan kepada warga sekitar yang sedang berolahraga pagi, sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian.

Tak berselang lama, petugas dari Polsek Pujut mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah bayi kemudian dibawa ke Puskesmas Sengkol untuk penanganan awal oleh petugas kesehatan setempat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, bayi tersebut diperkirakan lahir pada dini hari sekitar pukul 03.00 hingga 04.00 Wita dan telah meninggal dunia sekitar dua jam sebelum ditemukan. Bayi memiliki berat sekitar 1,1 kilogram dengan panjang 40 sentimeter dan diduga dilahirkan secara tidak wajar.

“Usia kandungan diperkirakan sekitar enam bulan. Dugaan ini diperkuat dengan adanya memar di bagian leher serta betis kiri dan kanan,” kata Muhtar.

Selain itu, petugas juga menemukan alat medis berupa handscol pada bagian pusar bayi, yang diduga digunakan saat proses persalinan. Kondisi bayi saat ditemukan dalam keadaan bersih, seolah telah dimandikan.

Untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut, jenazah bayi dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara, Mataram. Kepolisian mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi terkait peristiwa tersebut agar segera melapor guna membantu pengungkapan kasus pembuangan bayi tersebut. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Mayat Bayi Diduga Dibuang di By Pass BIL-Mandalika “

Parkir Liar dan PKL di Bundaran GMS Jadi Sasaran Penertiban

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Lobar) akan menindak tegas kendaraan yang parkir sembarangan di jalur Bundaran Giri Menang Square (GMS), Gerung. Selain pengendara, pedagang kaki lima (PKL) yang tidak mematuhi ketentuan zona berjualan juga akan ditertibkan oleh Satpol PP bersama Dinas Perhubungan dan aparat kepolisian.

Kepala Dinas Perhubungan Lombok Barat M. Hendrayadi mengatakan, penertiban dilakukan menyusul meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan GMS yang kini menjadi pusat keramaian baru. Untuk itu, pengaturan lalu lintas, parkir, dan aktivitas PKL dinilai perlu dilakukan agar tidak mengganggu arus kendaraan di jalur nasional tersebut.

“Kawasan GMS tidak hanya dikunjungi warga Lombok Barat, tetapi juga dari Mataram, Lombok Utara, Lombok Tengah, hingga Lombok Timur. Karena itu, perlu penataan agar tidak menimbulkan kemacetan, terutama saat jam-jam ramai,” ujar Hendrayadi, akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan, pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama Satpol PP, Dinas PUPR, Dinas Koperasi dan Perdagangan, Polres Lombok Barat, serta pihak kecamatan untuk membahas penataan kawasan GMS. Berdasarkan hasil evaluasi, puncak keramaian biasanya terjadi pada Jumat dan Sabtu sore.

Hendrayadi menyebutkan, Pemkab Lombok Barat telah menyiapkan dua lokasi parkir sementara, yakni di area depan Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) serta di halaman Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda). Ke depan, pemerintah daerah juga mewacanakan penyediaan area parkir khusus di sekitar kawasan GMS.

Selain itu, zona berjualan bagi PKL telah ditetapkan di Plaza 2 dan Plaza 3 GMS. Sosialisasi terus dilakukan kepada pengendara dan pedagang agar menaati aturan yang telah ditetapkan.

Bagi pengendara maupun pedagang yang melanggar, penindakan akan dilakukan secara bertahap dan mengedepankan pendekatan humanis. Menurut Hendrayadi, aparat akan terlebih dahulu memberikan imbauan agar kendaraan dipindahkan ke lokasi parkir resmi atau pedagang berjualan di zona yang telah ditentukan.

“Kalau imbauan tidak diindahkan, baru dilakukan penindakan. Prinsipnya tetap humanis,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Satpol PP Lombok Barat Fathurrahman mengatakan, pihaknya terlibat aktif dalam menjaga ketertiban dan keamanan di kawasan GMS. Satpol PP bekerja sama dengan Dishub dalam penataan parkir kendaraan serta Dinas Perdagangan dalam pembinaan PKL.

“Satpol PP fokus pada aspek ketertiban dan keamanan, baik bagi pedagang maupun pengunjung,” ujar Fathurrahman.

Ia menegaskan, kawasan sekitar GMS diharapkan bebas dari parkir liar dan aktivitas PKL di luar zona yang telah ditetapkan. Tahapan penertiban telah diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat hingga 24 Januari. Setelah itu, penindakan akan mulai diterapkan terhadap pelanggaran yang masih ditemukan. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” PKL dan Kendaraan Tak Patuhi Aturan di Jalur Bundaran GMS akan Ditindak “

Wacana Pegawai MBG Jadi PPPK Diprotes Honorer Lobar

Giri Menang (globalfmlombok.com) – Wacana Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang akan mengangkat sekitar 32.000 pegawai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada Februari mendatang menuai protes dari kalangan tenaga honorer di Kabupaten Lombok Barat (Lobar).

Kebijakan tersebut dinilai tidak adil, terutama bagi tenaga non-ASN yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun, namun belum mendapatkan kepastian status kepegawaian. Sementara itu, petugas MBG diketahui baru direkrut pada 2025 lalu.

Salah seorang tenaga non-ASN di Lombok Barat yang juga merupakan calon PPPK Paruh Waktu menyampaikan kekecewaannya terhadap wacana tersebut. Ia menilai pemerintah terkesan mengabaikan pengabdian tenaga honorer yang telah lama bekerja di lingkungan pemerintahan daerah.

“Tidak adil rasanya. Kami sudah lama mengabdi, tetapi belum juga diangkat menjadi PPPK. Sementara petugas MBG yang baru direkrut justru diwacanakan akan diangkat,” ujar tenaga non-ASN yang enggan disebutkan namanya, Sabtu (24/1/2026).

Ia mengungkapkan, kabar pengangkatan non-ASN menjadi PPPK Paruh Waktu sebelumnya sempat menjadi angin segar karena memberi harapan akan adanya kepastian status, meskipun gaji yang diterima disebut tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Namun, munculnya wacana pengangkatan pegawai MBG menjadi PPPK kembali memunculkan rasa ketidakadilan.

“Kenapa kami yang sudah lama mengabdi justru terkesan diabaikan, sementara MBG yang baru direkrut malah diprioritaskan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Asisten I Setda Lombok Barat H. Saepul Ahkam menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tidak mengetahui secara rinci terkait wacana pengangkatan petugas MBG menjadi PPPK. Menurut dia, kebijakan tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Kami tidak tahu menahu soal itu. Belum ada konfirmasi siapa yang akan diangkat. Itu isu dari pusat,” ujar Ahkam.

Meski demikian, Ahkam mengakui kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan kecemburuan di kalangan tenaga non-ASN, mengingat masa pengabdian mereka yang relatif lama dibandingkan petugas MBG yang baru direkrut sekitar satu tahun terakhir.

Berdasarkan data Pemkab Lombok Barat, hingga Desember 2025 terdapat 45 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi di wilayah tersebut. Dalam setiap SPPG terdapat petugas Sarjana Penggerak Pembangunan (SPPI) yang direkrut langsung oleh BGN, serta kepala SPPG dan tenaga akuntan.

Ahkam menjelaskan, kewenangan pemerintah daerah dalam program MBG sebatas koordinasi dan pemantauan. Pengecualian berlaku untuk SPPG yang berada di daerah terluar, terisolir, dan terpencil (3T), di mana pemerintah daerah memiliki fungsi koordinatif yang lebih besar.

Saat ini terdapat 11 titik SPPG di wilayah 3T Lombok Barat yang seluruhnya telah terisi. Namun, SPPG tersebut belum beroperasi. Bahkan, baru satu SPPG yang proses pembangunannya hampir rampung, yakni di wilayah Batulayar dengan progres mencapai 95 persen.

Selain itu, Pemkab Lombok Barat juga tengah melakukan pendataan terkait kepastian penyuplai bahan baku MBG. Salah satunya di SPPG Dasan Tapen, yang disebut menggunakan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan tenaga SPPI setempat. Hasil pengecekan sementara menunjukkan sebagian kebutuhan bahan baku, seperti beras, telah disuplai oleh BUMDes. (*)

 

 

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Honorer Lobar Protes Wacana Pengangkatan Pegawai MBG Jadi PPPK “

Polisi Tangkap Tiga Terduga Pengedar Sabu dan Ekstasi di Mataram

Mataram (globalfmlombok.com) – Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Mataram mengamankan tiga orang terduga pengedar narkotika jenis sabu dan ekstasi di sejumlah lokasi di Kota Mataram. Penangkapan dilakukan pada Sabtu malam (24/1/2026), setelah polisi menerima laporan masyarakat.

Kepala Satresnarkoba Polresta Mataram AKP I Gusti Ngurah Bagus Suputra, Minggu (25/1/2026), mengatakan pengungkapan kasus ini bermula dari informasi warga yang menyebut kawasan Jalan Pejanggik, Lingkungan Pajang Timur, kerap dijadikan lokasi transaksi narkoba.

“Menindaklanjuti laporan tersebut, tim melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan dua terduga pelaku berinisial RS (31) dan IGAPS (19) di halaman sebuah kos di Jalan Pejanggik,” ujar Suputra.

Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan sejumlah klip berisi sabu, dua butir ekstasi, serta uang tunai yang diduga hasil transaksi narkoba.

Pengembangan kasus kemudian dilakukan ke kos milik RS di Lingkungan Karang Timbal, Kelurahan Punia, Kecamatan Mataram. Di lokasi tersebut, petugas menemukan alat hisap sabu, uang tunai ratusan ribu rupiah, serta satu unit telepon seluler.

Selanjutnya, tim bergerak ke kawasan Rungkang Jangkuk, Kecamatan Cakranegara, dan kembali mengamankan satu terduga pelaku berinisial R (37). Terduga R diketahui berperan sebagai pemasok ekstasi kepada dua pelaku sebelumnya.

“Dari tangan R, kami menyita 4,5 butir ekstasi dan uang tunai sebesar Rp1,4 juta,” kata Suputra.

Penggeledahan turut dilakukan di rumah R di Lingkungan Rungkang Jangkuk, Kelurahan Sayang-sayang, Kecamatan Cakranegara. Namun, petugas hanya menemukan sejumlah alat hisap sabu. Sementara itu, penggeledahan di rumah RS tidak menemukan barang bukti tambahan.

Secara keseluruhan, barang bukti yang diamankan berupa sabu dengan berat bruto 1,44 gram, ekstasi dengan berat netto 2,75 gram, sejumlah alat hisap, uang tunai, serta beberapa unit telepon seluler.

Ketiga terduga pelaku beserta barang bukti kini diamankan di Mapolresta Mataram untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi menjerat para pelaku dengan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 609 ayat (1) huruf a Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Polisi Amankan Tiga Terduga Pengedar Sabu dan Ekstasi di Mataram “