Beranda blog Halaman 119

Kafe Nostalgic Mataram Hangus Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Mataram (globalfmlombok.com) –

Kebakaran melanda Kafe Nostalgic yang berlokasi di Jalan Terusan Bung Hatta, Kelurahan Cakra Barat, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram, pada Rabu pagi (1/4/2026). Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh korsleting listrik.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Mataram mengerahkan enam unit armada dan 16 personel untuk memadamkan api. Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 06.30 Wita, setelah seorang warga yang melintas melihat kepulan asap dari atap kafe dan segera menghubungi petugas.

Kepala Dinas Damkarmat Kota Mataram, H. Rudi Suryawan, membenarkan adanya laporan tersebut. Ia mengatakan, tim langsung merespons cepat dan tiba di lokasi tidak lama setelah laporan diterima.

“Api berhasil dipadamkan dalam waktu kurang lebih satu jam,” ujarnya.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai Rp50 juta, mengingat sebagian besar bagian dalam kafe hangus terbakar.

Sementara itu, dalam sepekan terakhir, peristiwa kebakaran juga terjadi di lokasi lain di Kota Mataram. Sebuah gudang oli di Jalan Koperasi, Lingkungan Ampenan Tengah, Kecamatan Ampenan, terbakar pada Senin (30/3/2026).

Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 10.30 Wita tersebut baru berhasil dipadamkan sepenuhnya pada pukul 12.20 Wita. Insiden itu juga diduga dipicu oleh korsleting listrik yang menyebabkan ledakan di dalam gudang. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. (pan)

Isu Kenaikan Harga BBM Picu Antrean Panjang di SPBU Mataram

Mataram (globalfmlombok.com) – Isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan nonsubsidi yang disebut akan berlaku mulai 1 April 2026 memicu kepanikan masyarakat di Kota Mataram. Akibatnya, sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diserbu pengendara dalam dua hari terakhir.

Isu tersebut mencuat seiring naiknya harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Pantauan di lapangan, antrean kendaraan terlihat mengular di SPBU Karang Jangkong. Bahkan, antrean kendaraan roda empat sempat meluber hingga ke badan jalan dan menyebabkan kemacetan.

Salah seorang pengendara, Andina mengaku sengaja mengisi penuh tangki kendaraannya setelah mendengar kabar kenaikan harga BBM.

“Ya saya dengar-dengar mau ada kenaikan harga. Jadi isi full tank,” ujarnya.

Menurutnya, jika harga BBM nonsubsidi benar-benar naik hingga kisaran Rp14 ribu per liter, hal itu akan cukup membebani dirinya sebagai mahasiswa perantau di Mataram.

Hal serupa disampaikan Saprin, pengguna BBM subsidi jenis Pertalite. Ia menilai rencana kenaikan harga hingga 10 persen akan berdampak langsung pada biaya operasionalnya sebagai pedagang.

“Kalau naik, pasti berat. Apalagi saya tiap hari antar sayur ke pasar,” katanya.

Kepadatan juga terjadi di SPBU Mayura. Antrean kendaraan roda dua di lokasi ini bahkan mencapai bahu jalan, sehingga memperlambat arus lalu lintas di sekitarnya.

Belum Ada Kenaikan Harga
Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa informasi kenaikan harga BBM per 1 April 2026 tidak benar.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus Pertamina Patra Niaga, Ahad Rahedi, menegaskan hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait perubahan harga BBM.

“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sampai saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga BBM per 1 April 2026,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya, terutama yang beredar melalui media sosial maupun pesan berantai. Untuk memperoleh informasi valid, masyarakat diminta mengakses kanal resmi Pertamina.

Pertamina juga mendukung imbauan pemerintah agar masyarakat menggunakan energi secara bijak di tengah dinamika ekonomi global. Penggunaan energi yang efisien dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan serta mendukung keberlanjutan energi nasional dalam jangka panjang. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Imbas Isu Kenaikan Harga BBM, SPBU di Mataram Diserbu Pengendara “

Sinkronisasi Program Prioritas Nasional Dengan Program Prioritas Provinsi NTB Tahun Anggaran 2026 (51)

Mataram (globalfmlombok.com)-

Kebijakan sinkronisasi program prioritas nasional dengan program prioritas provinsi NTB tahun anggaran 2026 meliputi sejumlah program. Diantaranya program penunjang urusan pemerintahan daerah provinsi, program pencatatan sipil, program pendaftaran penduduk, dan lain sebagainya.

Pegawai PPPK Dishub Mataram Ditangkap, Diduga Edarkan Sabu

Mataram (globalfmlombok.com) – Satuan Reserse Narkoba Polresta Mataram mengamankan lima orang terduga pengedar dan pengguna narkoba jenis sabu di sebuah rumah milik pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram, Minggu malam (29/3/2026).

Kasat Narkoba Polresta Mataram, I Gusti Ngurah Bagus Suputra, Senin (30/3/2026) mengatakan, dari lima orang yang diamankan, satu di antaranya berinisial AG (33) yang merupakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Dishub Kota Mataram.

“Kami mengamankan lima orang itu di rumah milik AG di Kelurahan Monjok, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh barang bukti narkoba berupa puluhan klip sabu dengan berat bruto 7,7 gram ditemukan di kediaman AG. Polisi menduga rumah tersebut dijadikan tempat transaksi jual beli narkoba.

“Kami menduga rumah saudara AG menjadi tempat transaksi jual beli narkoba,” katanya.

Selain AG, empat orang lainnya yang turut diamankan masing-masing berinisial LDSP (39), MRM (34), AS (29), dan FAL (27). Mereka diamankan saat berada di dalam rumah tersebut.

Pengungkapan kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang merasa resah dan mencurigai aktivitas di rumah AG. Menindaklanjuti laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan hingga akhirnya menggerebek lokasi pada Minggu malam.

Saat penggerebekan, petugas yang didampingi kepala lingkungan setempat langsung melakukan penggeledahan. Dari hasil penggeledahan, polisi mengamankan 24 klip sabu, empat bandel plastik klip, dua alat hisap sabu, satu gunting, satu pipet plastik, satu korek api, serta empat unit telepon genggam.

Kelima terduga pelaku dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika juncto Pasal 609 ayat (2) huruf a UU RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP serta UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang penyesuaian pidana.

Saat ini, seluruh terduga pelaku beserta barang bukti telah diamankan di Polresta Mataram untuk proses penyelidikan lebih lanjut. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Seorang Pegawai PPPK Dishub Kota Mataram Ditangkap Polisi, Diduga Jadi Pengedar Sabu “

Efisiensi BBM, Bupati Sumbawa Pilih Bersepeda ke Kantor

Sumbawa Besar (globalfmlombok.com) – Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot mulai menerapkan kebiasaan bersepeda ke kantor sebagai bagian dari upaya efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Langkah serupa juga dilakukan Wakil Bupati Mohamad Ansori yang memilih menggunakan sepeda motor pribadi.

“Bersepeda selain menghemat BBM kita juga dapat sehatnya. Kami juga akan menerapkan kebiasaan menggunakan kendaraan yang memuat banyak orang dibandingkan menggunakan kendaraan dinas,” kata Jarot kepada wartawan, Senin (30/3).

Bupati berangkat dari Pendopo dengan mengayuh sepeda menuju kantor. Upaya tersebut dilakukan sebagai bentuk membangun kesadaran bersama di kalangan aparatur sipil negara (ASN) terkait pentingnya penghematan BBM. Ia menegaskan, kebijakan tidak cukup hanya disampaikan, tetapi harus dimulai dari teladan pimpinan.

“Kalau ingin mengajak harus dimulai dari diri sendiri. Ini langkah kecil, tapi kalau dilakukan bersama, dampaknya akan besar,” ujarnya.

Langkah tersebut mendapat respons positif dari jajaran pemerintah daerah. Sejumlah ASN terlihat mulai mengikuti kebiasaan bersepeda ke kantor sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus kontribusi terhadap penghematan energi.

“Dengan bersepeda, ASN tidak hanya mengurangi konsumsi BBM, tetapi juga meningkatkan kebugaran tubuh yang berdampak pada produktivitas kerja,” jelasnya.

Jarot juga mengingatkan potensi tantangan energi global yang dapat berdampak hingga ke daerah. Meski stok BBM di Sumbawa saat ini masih aman, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif melalui efisiensi penggunaan energi.

“Memang stok BBM kita masih cukup aman, tetapi apa yang kami lakukan ini sebagai bentuk ikhtiar mendorong ASN untuk melakukan antisipasi kemungkinan yang terjadi, salah satunya dampak krisis BBM,” pungkasnya. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kebijakan Efisiensi BBM, Bupati Sumbawa Bersepeda ke Kantor “

Kepemimpinan Tanpa Utang, Gubernur Iqbal Optimistis Tekan Angka Kemiskinan

Mataram (globalfmlombok.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, menyatakan bahwa memasuki tahun kedua kepemimpinannya, kondisi keuangan daerah berada dalam posisi sehat tanpa utang yang tidak direncanakan. Kondisi tersebut diyakini menjadi modal penting untuk menekan angka kemiskinan di NTB hingga satu digit pada 2029.

Iqbal mengungkapkan, pada awal 2025 pihaknya telah berhasil melunasi utang daerah sebesar Rp280 miliar yang bersumber dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) dan Belanja Tidak Terduga (BTT).

“Kita berhasil mengelola keuangan yang kita miliki. Kita bisa memasuki tahun 2026 tanpa satu sen pun utang. Kalaupun ada, itu utang di PT SMI yang memang sudah direncanakan,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Dengan terbebas dari beban utang yang tidak direncanakan, pemerintah daerah dapat lebih fokus mengarahkan anggaran pada tiga agenda utama, yakni pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, dan penguatan sektor pariwisata.

Salah satu program unggulan yang didorong adalah Desa Berdaya, yang diarahkan menjadi motor penggerak ekonomi berbasis desa guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Iqbal, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Pada September 2025, angka kemiskinan NTB tercatat sebesar 11,38 persen, turun dibandingkan Maret 2025 sebesar 11,78 persen dan September 2024 sebesar 11,91 persen. Capaian ini bahkan melampaui target nasional yang berada di kisaran 11,68 hingga 12,18 persen.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, NTB mencatatkan kinerja yang cukup baik. Meski sempat mengalami kontraksi pada triwulan pertama 2025, pertumbuhan sektor tambang mencapai 3,22 persen dan 8,33 persen jika tanpa sektor tambang.

Sektor pariwisata juga tumbuh lebih dari 7 persen, sementara sektor pertanian mendekati target dengan capaian 5,33 persen.

“Nilai Tukar Petani NTB juga mengalami peningkatan signifikan dan menjadi salah satu yang tertinggi secara nasional,” katanya.

Selain itu, kontribusi ekonomi NTB terhadap nasional mencapai 0,84 persen, dengan sektor industri pengolahan tumbuh menjadi 6,69 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB juga meningkat menjadi 73,97 poin dengan kategori tinggi, sementara tingkat pengangguran terbuka berada di angka 3,05 persen, lebih rendah dari rata-rata nasional.

Iqbal optimistis, dengan pengelolaan keuangan yang disiplin dan fokus pembangunan yang tepat, target penurunan kemiskinan hingga satu digit pada akhir masa kepemimpinannya dapat tercapai. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Kepemimpinan Tanpa Utang, Gubernur Iqbal Optimis Kurangi Angka Kemiskinan “

Pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 Paling Diburu, Penukaran Uang di NTB Tembus Rp2,28 Triliun

Mataram (globalfmlombok.com) – Kebutuhan masyarakat terhadap uang pecahan kecil selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri 2026 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami lonjakan signifikan. Dalam program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026, pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 menjadi yang paling diminati.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario Kartiko Pamungkas, mengungkapkan total uang keluar (outflow) selama pelaksanaan SERAMBI 2026 mencapai Rp2,28 triliun.

“Jumlah tersebut terdiri dari penarikan oleh perbankan sebesar Rp1,77 triliun, layanan kas keliling Rp25,19 miliar, serta penukaran langsung kepada masyarakat sebesar Rp487,24 miliar,” ujarnya dalam rapat evaluasi bersama perbankan, Jumat (27/3/2026).

Program SERAMBI sendiri berlangsung sejak 19 Februari hingga 17 Maret 2026 dan dibagi dalam tiga termin layanan. Kegiatan tersebut mencakup layanan kas keliling ke berbagai daerah seperti Selong, Jerowaru, Tanjung, Sembalun, hingga Pulau Bungin dan Maluk.

Selain itu, layanan penukaran juga dilakukan melalui 85 titik kantor bank yang tersebar di 10 kabupaten/kota di NTB.

Pada termin kedua, layanan penukaran terpadu dipusatkan di halaman parkir Islamic Center Mataram dengan melibatkan 11 perbankan, di antaranya Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank NTB Syariah, Bank Syariah Indonesia, hingga Bank Muamalat.

Sementara itu, pada termin ketiga, layanan kas keliling difokuskan untuk mendukung arus mudik, yang digelar di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid serta Pelabuhan Lembar.

Hario menyebutkan, selama periode SERAMBI 2026, jumlah masyarakat yang melakukan penukaran mencapai 26.111 orang. Tingginya minat masyarakat terlihat dari kuota penukaran yang selalu terpenuhi pada setiap kegiatan.

Uang pecahan kecil yang ditukarkan tersebut dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan berbagi kepada keluarga dan kerabat selama Ramadan dan Idulfitri.

Program ini diharapkan dapat terus mendukung kelancaran transaksi masyarakat sekaligus menjaga ketersediaan uang layak edar di wilayah NTB. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Pecahan Rp5.000 dan Rp10.000 Paling Diburu, Penukaran Uang di NTB Tembus Rp2,28 Triliun “

Gubernur Iqbal Minta DPRD NTB Tidak Mengulur Pengesahan Raperda PDRD

Mataram (globalflombok.com) – Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal, meminta dukungan penuh DPRD NTB untuk segera menuntaskan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Perubahan Perda Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) agar cepat disahkan menjadi Perda.

Permintaan tersebut disampaikan saat rapat paripurna DPRD NTB dalam agenda penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun 2025, Senin (30/3/2026). Menurutnya, percepatan pengesahan Raperda tersebut sangat krusial untuk mengoptimalkan pendapatan daerah.

“Pada kesempatan ini kami memohon dukungan dari seluruh pimpinan dan anggota dewan untuk mempercepat revisi perda mengenai retribusi, karena ini sangat penting dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah,” ujarnya.

Iqbal menegaskan, keterlambatan pengesahan Perda PDRD berpotensi menyebabkan kebocoran pendapatan daerah yang cukup besar. Ia menyebutkan, setiap bulan keterlambatan dapat mengakibatkan potensi kehilangan pendapatan sekitar Rp20 miliar.

“Setiap kemunduran satu bulan, ada potensi kehilangan sekitar Rp20 miliar. Karena itu, semakin cepat diselesaikan, semakin baik untuk peningkatan pendapatan daerah,” tegasnya.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, lanjutnya, NTB mengalami tren penurunan pendapatan. Oleh karena itu, revisi Perda PDRD menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Iqbal menjelaskan, dalam pembahasan Raperda tersebut terdapat sejumlah opsi penambahan sumber retribusi, termasuk dari sektor pertambangan rakyat melalui skema Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan penyesuaian tarif pajak dan retribusi sesuai kewenangan dan ketentuan perundang-undangan.

“Kami berupaya mengidentifikasi sumber-sumber pendapatan baru serta menyesuaikan tarif retribusi dan pajak dengan tetap mempertimbangkan kondisi masyarakat,” jelasnya.

Dalam laporan LKPJ 2025, realisasi pendapatan daerah tercatat sebesar Rp6,476 triliun atau 99,79 persen dari target Rp6,498 triliun. Angka ini mengalami penurunan 2,19 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar Rp6,621 triliun.

Penurunan juga terjadi pada PAD yang terealisasi sebesar Rp2,759 triliun atau 98,21 persen dari target Rp2,809 triliun, atau turun 5,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,910 triliun.

Sementara itu, pendapatan dari dana transfer justru melampaui target, yakni sebesar Rp3,537 triliun dari target Rp3,498 triliun. Adapun lain-lain pendapatan daerah yang sah tercatat sebesar Rp179,71 miliar atau 99,79 persen dari target Rp182,05 miliar, namun turun signifikan 53,19 persen dibandingkan tahun 2024.

Pemerintah Provinsi NTB berharap pembahasan Raperda PDRD dapat segera dirampungkan, sehingga mampu menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan pendapatan dan memperkuat kemandirian fiskal daerah. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” Gubernur Iqbal Harap DPRD NTB Tidak Mengulur Pengesahan Raperda PDRD “

DPRD Soroti Ketidakjelasan Laporan Keuangan Tugas Pembantuan di NTB

Mataram (globalfmlombok.com) – DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB) mengkritik ketidakjelasan laporan keuangan program tugas pembantuan yang selama ini dinilai tidak pernah disampaikan kepada dewan. Kondisi tersebut dikhawatirkan berpotensi menimbulkan tumpang tindih penggunaan anggaran antara APBN dan APBD di daerah.

Anggota Komisi III DPRD NTB, Muhammad Aminurlah, mengatakan Pemerintah Provinsi NTB selama ini tidak pernah melaporkan hasil pelaksanaan tugas pembantuan kepada DPRD. Padahal, hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Selama ini tidak pernah disampaikan. Kita tidak tahu objeknya apa dan di mana pelaksanaannya, karena langsung dieksekusi di dinas,” ujarnya saat dikonfirmasi di Kantor Gubernur NTB, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, sebagai lembaga pengawas, DPRD memiliki hak untuk mengetahui seluruh alokasi anggaran yang masuk ke daerah, termasuk yang bersumber dari tugas pembantuan. Hal ini penting untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih dengan dana lain seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) maupun Dana Alokasi Umum (DAU).

Ia menjelaskan, tugas pembantuan merupakan program yang diberikan langsung oleh pemerintah pusat kepada daerah, seperti pembangunan jaringan irigasi oleh Kementerian Pertanian yang dilaksanakan oleh dinas terkait di daerah. Namun, karena tidak dilaporkan ke DPRD, pengawasannya dinilai menjadi lemah.

“Jangan sampai tugas pembantuan ini tumpang tindih dengan program lain. Ini yang perlu kita pastikan bersama,” tegasnya.

Aminurlah menambahkan, jika Pemprov NTB tidak segera memperbaiki mekanisme pelaporan tersebut, DPRD memiliki kewenangan untuk menggunakan hak interpelasi sebagai bentuk pengawasan.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB, Ahsanul Khalik, menjelaskan bahwa tugas pembantuan memiliki karakter berbeda dengan program yang bersumber dari APBD.

Menurutnya, tugas pembantuan merupakan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah yang disertai pembiayaan, sarana, dan standar pelaksanaan dari pemberi tugas. Dengan demikian, program tersebut bukan merupakan kebijakan anggaran daerah dan tidak dibahas bersama DPRD dalam mekanisme penganggaran.

“Pemerintah daerah dalam hal ini hanya sebagai pelaksana mandat dari pemerintah pusat. Pertanggungjawabannya disampaikan kepada pemerintah pusat, baik dari sisi kinerja maupun keuangan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa transparansi tetap dijaga melalui pelaporan dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2019. Dalam forum tersebut, DPRD tetap memiliki ruang untuk memberikan catatan dan rekomendasi.

Ahsanul juga mengingatkan agar pembahasan tugas pembantuan dilakukan sesuai koridor regulasi, sehingga tidak menimbulkan tumpang tindih kewenangan antara pemerintah daerah dan pusat.

“Kami tetap terbuka untuk berkoordinasi dan menyampaikan informasi secara konsultatif kepada DPRD, sepanjang tidak mengubah substansi kewenangan,” ujarnya.

Pemerintah daerah, lanjutnya, tetap menghormati fungsi pengawasan DPRD, namun pelaksanaan tugas pembantuan harus tetap mengikuti mekanisme yang telah diatur, yakni melalui pelaporan kepada pemerintah pusat dan dalam LKPJ daerah.

“Kami menghormati fungsi pengawasan DPRD, tetapi tata kelola pemerintahan harus tetap sesuai aturan yang berlaku,” pungkasnya. (*)

Berita ini di muat di SUARANTB.COM dengan judul ” DPRD Kritik Ketidakjelasan Laporan Keuangan Tugas Pembantuan di NTB “

Selama Ramadan-Idul Fitri, BI NTB Kucurkan Rp2,28 Triliun Uang Tunai, Pecahan 5 Ribu dan 10 Ribu Paling Diminati

Mataram (globalfmlombok.com)-

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat uang keluar (outflow) mencapai Rp2,28 triliun selama pelaksanaan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026. Program ini berlangsung pada 19 Februari hingga 17 Maret 2026 untuk memenuhi kebutuhan uang layak edar di masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario Kartiko Pamungkas, mengatakan capaian tersebut terdiri atas penarikan oleh perbankan sebesar Rp1,77 triliun, layanan kas keliling Rp25,19 miliar, serta penukaran langsung kepada masyarakat Rp487,24 miliar.

“Secara umum, pelaksanaan SERAMBI tahun ini berjalan optimal dengan dukungan penuh dari perbankan dan berbagai pihak,” ujar Hario dalam rapat evaluasi di Mataram, Jumat (27/3/2026).

Selama periode tersebut, jumlah masyarakat yang melakukan penukaran tercatat sebanyak 26.111 orang. Pecahan uang yang paling diminati adalah Rp5.000 dan Rp10.000, yang umumnya digunakan untuk kebutuhan berbagi pada momen Idul Fitri.

Pelaksanaan SERAMBI 2026 dibagi dalam tiga tahap layanan. Pada tahap pertama, Bank Indonesia menggelar kas keliling ke sejumlah wilayah, seperti Selong, Jerowaru, Tanjung, dan Sembalun, serta membuka layanan penukaran di 85 titik kantor bank di 10 kabupaten/kota.

Tahap kedua meliputi kas keliling ke Pulau Bungin dan Maluk, serta layanan penukaran terpadu bersama 11 perbankan di halaman Islamic Center Mataram. Layanan ini juga diperkuat dengan pembukaan loket penukaran di 85 kantor bank.

Sementara itu, pada tahap ketiga, Bank Indonesia menyediakan layanan kas keliling bertema mudik di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid dan Pelabuhan Lembar.

Hario menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap program SERAMBI tahun ini tergolong tinggi. Kuota penukaran di berbagai titik layanan disebut selalu terpenuhi, bahkan banyak masyarakat yang baru pertama kali memanfaatkan layanan tersebut.

Meski jumlah peminat tinggi, proses penukaran tetap berlangsung tertib dan efisien. Hal itu didukung pelayanan petugas yang dinilai ramah serta ketersediaan uang pecahan yang lengkap.

Menurut Hario, program SERAMBI tidak hanya mempermudah akses masyarakat terhadap uang layak edar, tetapi juga memperkuat tradisi berbagi pada bulan Ramadan.

“Uang yang ditukarkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat karena digunakan untuk berbagi dengan keluarga dan kerabat, sehingga memperkuat nilai kebersamaan,” katanya.(ris)